Menyalakan Kembali Rahmat Allah Dalam Diri Kita

Saya baru saja mengikuti pertemuan para saudara “under ten” (yang usia kaul kekal 10 tahun ke bawah) zona Asia-Oceania di Korea Selatan, yang disingkat menjadi AYFG (Asia Young Friars Gathering). AYFG ini merupakan yang pertama. Temanya “rekindle the gift of God within you” (nyalakan lagi rahmat Allah dalam dirimu). AYFG dihadiri 24 saudara “under ten” dari berbagai negara, yakni Indonesia, Singapura-Malasya-Brunai, fundasi Myanmar, Philipina, Vietnam, Pakistan, Srilangka, dan yang paling banyak dari Korea Selatan sebagai tuan rumah. Tujuannya adalah untuk mengintensifkan on going formation, meningkatkan kerjasama antar provinsi se-Asia dalam hal formasi dan dialog lintas budaya, memberi kesempatan kepada saudara under ten untuk berbagi pengalaman panggilan dan karya agar dapat saling meneguhkan, menyadarkan setiap entitas perihal persaudaraan internasional yang mesti dibangun bersama, serta menarik perhatian bersama tentang misi dan evangelisasi Ordo.

Agenda pertemuan ini sangat padat. Berlangsung dari tanggal 17-26 September 2012. Setiap peserta dilibatkan dalam liturgi dan sharing. Dalam liturgi, saya satu kelompok dengan fundasi Myanmar. Sedangkan kelompok sharing, yang terdiri dari 4-5 orang, saya satu kelompok dengan saudara dari Korea dan Pakistan.

Hari pertama dan kedua, pertemuan dilangsungkan di gedung Education Center, persis di depan provinsialat OFM Korea. Temanya, menggali keutamaan padang gurun, yang disampaikan oleh Sdr. Gerry Lobo OFM. Di sini beliau menekankan betapa pentingnya setiap saudara menentukan hal-hal mendasar dalam hidupnya dan sangat fokus. Dia menyebut AGRUPNIA (memperhatikan dengan sangat serius dan fokus) dan APHATEIA (menyangkal dan melepaskan hal yang tidak penting). Intinya menyadari dan menghayati saat-saat hening sebagai pengalaman religius, pengalaman akan Allah yang intensif. Pengalaman akan Allah merupakan pengalaman transenden absolut, yang artinya pengalaman melampaui keduniaan secara mutlak. Pengalaman ini pastinya mendasari segala bentuk penghargaan terhadap berbagai perbedaan baik dalam Ordo, masyarakat maupun alam semesta. Pengalaman itu mestinya didapatkan dalam komunitas/persaudaraan. Pertemuan ini ditutup dengan mengunjungi Museum, tempat para martir korea dibunuh.

Hari ketiga, tempat pertemuan pindah ke tempat retret di Sancheong. Nama gedungnya Leprosarium (tempat penampungan orang kusta). Dalam perjalanan, peserta singgah di novisiat. Setibanya di Leprosarium, masing-masing peserta dibagi dalam kelompok cuci piring, liturgi, dan sharing. Di tempat ini dibentuk semacam komunitas persaudaraan internasional. Hari keempat, pertemuan diawali dengan ekaristi pagi merayakan pesta para martir korea. Selanjutnya, setelah sarapan pagi, topik pembicaraan mengenai krisis yang dialami oleh sdr. Rufino ketika hendak mengikuti cara hidup Fransiskus. Ditampilkan secara menarik dalam bentuk teks drama dan banyak dialog. Intinya, sdr. Rufino bisa mengatasi krisis yang dialaminya. Dan, Fransiskus sabar menanti pertobatan sdr. Rufino dengan doa dan nasehat. Setelah mengatasi krisis, Fransiskus dengan sangat gembira menerima saudara yang bertobat. Pertemuan hari kelima diisi mengenai hidup persaudaraan OFM. Cukup menjadi bahan perhatian serius Ordo soal krisis yang dialami oleh under ten. Inti pertemuan ini adalah menjawab pertanyaan: Mengapa saudara masih fransiskan? Pada saat ini sangat digarisbawahi soal menyalakan kembali rahmat Allah di dalam diri masing-masing. Jawaban atas pertanyaan tersebut disharingkan dan diplenokan.

Hari keenam, pertemuan diisi dengan tema persaudaraan alam semesta. Peserta diajak mendaki gunung, dan pengalaman itu disharingkan dalam kelompok. Hari ketujuh diisi dengan misa bersama dengan orang kusta dan para jompo. Acara hari ini ditutup dengan mengunjungi festival gingseng. Hari kedelapan, pertemuan dengan definitor general Asia, sdr. Paskalis. Fokus perhatian adalah soal habitus baru sebagai fransiskan dengan menghayati dan menghidupi budaya fransiskan (nilai-nilai kefransiskanan seperti: persaudaraan, kemiskinan, ketaatan, misi, dan banyak hal lainnya. Hari kesembilan, peserta diberangkatkan kembali ke Seoul (Education Center) dan singgah di museum perawatan rumah-rumah tradisional korea. Hari kesepuluh, pertemuan diisi dengan evaluasi dan membuat komitmen bersama, dan ditutup dengan ekaristi lintas provinsi. Hari kesebelas, seluruh peserta kembali ke provinsi masing-masing. Dengan mengikuti pertemuan ini, tepatlah kalau dikatakan betapa baik dan senangnya hidup sebagai saudara.

Kontributor : Sdr. Taucen Hotlan Girsang, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *