MIT Parahyangan

Ini bukan Bandung Lautan Api!

Ini bukan Bandung Lautan Api!

Suatu hari di bulan Oktober 1977. Kala itu saya dianjurkan oleh alm. J. Remedius Wijbrands OFM untuk mendompleng mobil kodok yang dikendarai oleh Mgr. Ignatius Harsono dari Bogor menuju Bandung. Pengalaman itu menjadi sesuatu yang terasa khusus, mengingat saya  yang waktu itu masih seminaris Stella Maris Bogor, kemudian mengetahui perangai Mgr. Ignatius Harsono saat mengendarai mobil. Bagaimana tidak?

Mgr. Ignatius Harsono, pengampu matakuliah Sosiologi Politik,  sangat geting dan secara spontan akan mengata-ngatai pengendara yang tidak tertib, menyerobot jalur beliau, mengendari mobil dengan ugal-ugalan, bahkan mendahului mobil Monseignor seakan seraya mengejek.

Kepergian saya ke Bandung dalam rangka mengikuti tes psikologi untuk kedua kalinya, setelah lebih dahulu saya dites oleh Dra. Saltati di RS Carolus. Hasil tes pertama tidak baik, dan tidak memberikan harapan positif sebagai calon Fransiskan. Itulah sebabnya, J.R. Wijbrands OFM membantu saya agar pimpinan Vikaria OFM (J. Wahjosudibjo) di Indonesia memfasilitasi dan mengizinkan saya untuk tes kedua kalinya. Kali ini bukan dengan Dra. Saltati, melainkan dengan MAW Brouwer OFM, yang berdomisili di Bandung.

Kesempatan bepergian ke  Bandung kala itu merupakan yang pertama kalinya bagi saya dan tetap membekas dalam ingatan ini. Sebab saya dicobai untuk menemukan sendiri tempat praktik MAW Brouwer di RS Borromeus, Jl. Suryakencana, ke arah Dago sana. Bandung dalam perjalanan hidup saya di kemudian hari menjadi kota yang tidak asing. Sebab, Bandung yang sejuk relatif sering saya sambangi, kendati tidak secara tetap, dan hanya di alamat-alamat tertentu saja, misalnya: Jl. Buah Batu (Seminari Tinggi Keuskupan Bogor), Jl. Pandu (Paroki OSC), Pasir Koja dan Kopo (tempat saya berseminar tentang Sakramen Politik, Mariologi, dan aliran-aliran heterodoks dalam Gereja), Fermentum (Seminari Tinggi Keuskupan Bandung), Jl. Imam Bonjol (Komunitas Suster-suster Cintakasih Carolus Borromeus), Jl. Nias (Fakultas Filsafat dan Magister Ilmu Teologi Universitas Parahyangan), Jl. Merdeka (gedung Magister Ekonomi, tempat saya membedah buku Karya Pastor Yan Sunyata OSC), dlsb.

UNDANGAN MIT UNPAR
Pada Jumat, 6 September 2013, saya berkesempatan melihat “Paris van Java”, Bandung. Sebutan itu sudah barang tentu suatu bentuk komparasi sekaligus sebuah kias yang diciptakan orang pada zaman Belanda menduduki Indonesia.

Keperluan saya ke “Paris van Java” adalah memenuhi undangan Program Magister Ilmu Teologi  (MIT), Universitas Katolik Parahyangan. Mungkin ada yang belum tahu, bahwa cikal bakal Universitas Katolik ternama di Bandung itu didirikan oleh Mgr. N.J.C. Geise OFM, Uskup Bogor, yang difasilitasi oleh Mgr. Arntz OSC, Uskup Bandung.  Para pinisepuh Unpar yang masih bertahan di sekitar Unpar tidak pernah dapat melupakan jasa besar Uskup Bogor tersebut, yang pernah mempertahankan disertasi tentang Suku Badui di Telatar Misi Lebak, Banten.

Ingatan para pinisepuh Unpar itu terekam baik ketika Unpar merayakan 50 tahun berdirinya. Salah satu karya yang dimaksudkan untuk tidak melupakan masa lalu sekaligus mengangkat jasa besar Mgr. N. Geise OFM adalah  penulisan buku. Buku yang diracik dengan apik serta diedit oleh Frans Borgias untuk kepentingan tersebut berjudul “Juragan yang Visioner”, yang diterbitkan oleh Kanisius, Yogyakarta. Di dalam buku tersebut, kontribusi  saya juga dimuat dengan judul yang diabadikan sebagai judul utama buku tersebut.

Praktis pada saat bedah buku tersebut terjadi pemutaran ingatan akan masa lalu tentang Mgr. Geise. Nyaris, tak seorang pun hadirin yang menyebutkan jasa Mgr. Arntz OSC sebagai  co-founder Universitas Parahyangan. Mungkin atas dasar pertimbangan tertentu, kini sedang diusahakan terutama oleh anggoya OSC sebuah memoir tentang Mgr. Arntz.

Saya hanya terkenang akan perjuangan tiga Fransiskan yang hidup dan berkarya di  Kota Bandung, yakni Mgr N. Geise, P.W. Hofstede,  P.M. Brouwer.  Ketiga-tiganya dengan cara mereka masing-masing berikhtiar memberikan hal ikhwal yang berhubungan dengan bagaimana menjadi ilmuwan dalam terang dan spirit kefransiskanan. Masing-masing memberikan kontribusi yang khas dan sulit dicari duanya. Mgr. Geise, Islamolog dan Antropolog, yang memimpin Parahyangan dengan visi dan visi yang sangat jelas. W. Hofstede, Sosiolog,yang tekun melakukan penelitian dan pengajaran sehingga para alumni masih menyimpan ingatan segar tentang bagaimana mencintai profesi demi pengabdian kepada masyarakat.  M. Brouwer, Psikolog (klinis),  yang membantu sekian banyak orang untuk mengenali dan mengembangkan potensi diri pribadi.

Di Bandung ingatan saya dipulihkan, terutama ketika Jumat, 6 September 2013, saya menuntun, mendorong, memotivasi 10 (sepuluh) mahasiswa Magister Ilmu Teologi (MIT) Unpar.  Ruang belajar mereka mudah ditemukan, yakni di Jl. Nias 2, Bandung. Di sana -dalam kehadiran Dosen Pengampu Matakuliah Seminar Teologi, Dr. Leo Samosir OSC- saya mempresentasikan tema yang mereka minta, yakni “Gereja Berhadapan dengan Zaman”.

Gereja, saya tegaskan di sana, terus-menerus berinteraksi dengan dunia (= zaman) yang berubah secara berkesinambungan. Konsep Gereja tentang dunia pun sangat dinamis dan mengenal pasang-surut. Salah satu dasar kokoh pandangan positif para pengikut Kristus terhadap dunia adalah inkarnasi Putera Allah. Dalam perkembangan waktu, Gereja memberikan cap negatif bahkan memusuhi dunia, mengingat dunia telah diidentikkan dengan kegelapan dan anti-Kristus.

Sikap positif Gereja terhadap dunia paling nyata diungkapkan dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes dari Konsili Vatikan II. Dalam pembacaan saya, sikap itu dirawat terutama oleh penghayatan panggilan Kristen pada kesucian, yang juga merupakan inti dan dasar dari dokumen-dokumen kunci Vatikan II, yakni SC, LG, DV, dan GS. Hal itu juga seiring dengan penegasan Karl Rahner, “…. The devout Christian of the future will either be a “mystic”, one who has “experienced” something, or he will cease tobe anything at all.” Sebab, sikap positif pada dunia berawal dan berakhir pada (pengalaman) memandang dan bersekutu.* * * *

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *