Natal di Betlehem – Bagian 1

[Index Berita]  |  [Natal di Betlehem – Bagian 2]

Pengantar Redaksi
Tulisan ini adalah refleksi perjalanan Sdr. FX. Sutarja, OFM – seorang misionaris Indonesia di Thailand yang mengadakan perjalanan ke Tanah Suci mendampingi suatu kelompok ziarah dari Singapura. Mereka mengadakan perjalanan mulai 17 Desember 2011 sampai 29 Desember 2011. Mari kita simak bersama tulisan ini.

Gereja St. Mary

Gereja St. Mary

Bukan kebetulan tetapi rahmat telah terjadi. Sdr. Gregory Pontus mendapat tawaran dari Singapore untuk mendampingi Ziarah ke Tanah Suci namun diberikan kepada saya. Gratias agimus tibi. Dua hari tinggal di novisiat Custody Singapore. Mereka begitu murah hati menemani dan memberi perbekalan serta mengantar saya untuk mendapat briefing sebelum keberangkatan. Biara dan Gereja Paroki St. Mary amat modern. Doa offisi dan perayaan misa bersama umat tiap hari. Umat sendiri yang memimpin doa offisi. Itu suatu yang patut dicontoh.

Novisiat Singapore

Novisiat Singapore

Dalam batin sebenarnya kawatir, bisakah mendapat visa on-arrival di Istambul. Tetapi “tremendum dan fascinosum” memang harus berpasangan. Interogasi singkat berlangsung, bagaimana mungkin kamu mendapat visa ke Israel, kamu mau apa di Israel, kamu datang dalam group atau misi pribadi, siapa mengepak kopor yang kamu bawa? Setelah interogasi singkat kami digiring ke connecting flight ke Tel Aviv. Waktu mendarat di bandara Ben Gurion kembali saya digiring ke kantor imigrasi. Interogasi lagi, pernahkah kamu ke daratan Eropa, Roma, atau United States, siapa yang kamu kenal, kamu datang dalam group atau pribadi, adakah suatu pemberian dari orang lain dalam bentuk paket? Dalam batin saya berpikir, Indonesia pantas dicurigai. Tetapi begitu keluar kami disambut oleh Mr. Anton Farah, guide profesional dengan sapaan meneguhkan, “You will be saved and secure along with me in Israel

Kami dibawa ke hotel mewah di Nazareth, padahal keluarga kudus tak mendapat tempat untuk menginap dan melahirkan Sang Pemilik. Enak juga berendam air hangat di bak mandi. Saya lihat tarif USD$ 195-215 tiap malam. Di sini kami akan tinggal 3 hari. Biaya sebanyak itu kiranya bisa dipakai untuk hidup 3 bulan di daerah kita.

Pagi hari kami diantar ke pelabuhan Kaisarea. Di tempat ini St. Paulus, pada tahun 58 dituduh bikin onar di tengah masyarakat. Ia diadili dan Ia naik banding dan dikirim ke Roma (Kis 25-27). Studi di lapangan lebih menarik daripada di ruang kelas. Apalagi tak perlu ujian.

Gua persembunyian Nabi Elia

Gua persembunyian Nabi Elia

Nabi besar Elia, ternyata takut mati juga. Di gua inilah beliau bersembunyi dari kejaran Raja Ahab, setelah mengutuk raja Ahab dengan diberhentikanya turunnya hujan (1 Raj 17:1-6). Walaupun tak dikutuk; memang daerah Israel kurang hujan. “Satu tahun hanya mendapat curah hujan satu bulan”, kata Myriam guide yang mengelola reforestrasi bentu “Bible Landscape”. Di bukit ini disiapkan 40 sumur penampung air hujan. Bukit-bukit dibikin teras agar air hujan tertampung di sumur-sumur. Kami merayakan misa di tempat ini.

Hari berikutnya kami dibawa ke danau Tiberias. Kami merenung tentang Yesus berjalan di atas air. Gelombang dan badai hidup boleh berlalu, tetapi inner peace hendaknya tetap terjaga, sebagaimana Fransiskus bilang true joy. Setelah berlayar dengan perahu kami santap siang tapi orang harus menghabiskan satu ekor ikan meraka bila “St. Peter’s Fish”. Habis makan siang kami pergi ke dataran tinggi “Beatitude” untuk merayakan misa. Jesus datang bukan untuk menghapus penderitaan, tetapi untuk menemani kita dan menemukan arti penderitaan bagi keselamatan, sebagaimana Paus Yohanes Paulus II bilang dalam “Salvivici Doloris”.

Masih ada waktu. Kami diarahkan ke St. Peter’s House. Disinilah Sdr. Vincent Kwek OFM tinggal, tapi tak kelihatan wajahnya. Sdr. Robby bilang, “Ia biasa tinggal di kamar”. Memang tak sengaja dan tak ada janji saya bisa bertemu Sdr. Robby dan Sdr. Duma serta Sdr. Jordan – para fransiskan dari Indonesia. Kiranya rahmat mempertemukan kami. Bukit karang, tempat Yesus menampakkan diri kepada para murid dijadikan altar. Dari situlah Yesus berteriak memanggil para muridnya yang sedang menangkap ikan, “Hai anak-anak adakah kamu lauk pauk” (Yoh 21:5).

Sebelum gelap, jam 16.30 matahari terbenam, kami sempat singgah di tepi Sungai Yordan, untuk mengenang Yesus di baptis oleh Yohanes Pembabtis. Di situ kami mendengar injil tentang Yesus dibaptis oleh Yohanes (Lk 3:21). Kami membaharui janji baptis dan peserta kami perciki dengan air dari S. Yordan dengan ranting daun palma. Menurut Bp. Anton Farah, guide yang disertasinya tentang “The wild women in the Bible”, bukan Yohanes yang lebih dahulu membaptis Yesus, tetapi Yesus lebih dahulu membaptis Yohanes waktu peristiwa visitasi, Maria mengunjungi Elisabeth. Karena itu “Melonjaklah anak yang di dalam rahimnya” (Lk 1:39-56).

Petrus Batu Karang

Petrus Batu Karang

Pagi hari setelah santap pagi yang berlimpah ruah, dengan susu dan madu, kami pergi ke dataran tinggi Golan, dikenal sebagai Kaisarea Filipi, mata air jernih mengalir dari celah batu karang. Di situlah Petrus mengatakan “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mt 16:16).

Setelah Yesus menubuatkan penderitaan dan wafatNya, Petrus menarik Yesus ke dalam gua dan mengatakaan “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu!” (Mt 16:22). Dan Yesus menegur Petrus, “Enyalah iblis” (Mt 16:23). Memang di gua itu ada batu altar korban kambing domba untuk dipersembahkan kepada dewa-dewa, mis. Dewa Zeus, Dewi Nemesis.

The Tomb Temple of the Sacred Goats

The Tomb Temple of the Sacred Goats

Darah kambing domba bercampur dengan mata air yang mengalir. Bila orang-orang melihat air bercampur darah, orang-orang mengerti dewa-dewi senang sehingga mereka bisa berbuat sesuka hatinya, termasuk berbuat satani. Tepat sekali Yesus menegur Petrus sebagai Satan, karena tak mengikuti kehendak Allah. Setelah kambing domba dikorbankan, mereka dikuburkan. Kuburan itu dinamakan “The Tomb Temple of the Sacred Goats”.

Selanjutnya kami pergi ke Kana untuk menghadiri “Perkawinan di Kana” (Yoh 2:1-11). Kami merayakan misa di sini. Beberapa pasang nikah memperbaharui janji nikah dan beroleh doa berkat serta percikan air. Saya lihat ada yang menangis terharu. Saya tidak sempat menanyakan mengapa menangis, tetapi kiranya bukan karena menyesal karena pasangan yang telah diperolehnya. Karena pasangan memang anugerah Allah, sebagaimana Tobia dan Sara yang dipertemukan oleh Allah lewat Malaikat Agung Rafael (Asyaria) (Tobit 8-9), sebagaimana saya sampaikan dalam homili. Keluar dari kapel saya ditemui pemilik toko barang-barang religius, dengan membawa dua botol anggur. Dia bilang , “Terima kasih kepada Franciscan yang telah berjasa kepada kami”. Mereka menanam, tetapi saya memetik hasilnya, cukup dengan mengenakan jubah Franciscan. Saya terima dengan penuh rasa syukur, dengan melupakan diri sebagai orang Jawa,yang biasa malu-malu, tapi mau.

Rumah Keluarga Kudus Nazaret

Rumah Keluarga Kudus Nazaret

Kami mengarahkan pandangan ke Nazaret tempat keluarga kudus tinggal. Yosef kiranya memang orang Yahudi yang tenang, tekun dan teliti dalam mengatur rumah tangganya, Nampak dalam pengaturan rumah.
Ada water system, sumur penampung air hujan, kamar cuci kaki adat Yahudi, dan sarana lain yang diperlukan. Tempat ini mengingatkan akan “doa tak kunjung putus”, dengan seorang ibu yang mengatakan “Jangan mengganggu aku, pintu sudah ditutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur’ (Luk 11:7). Turun dari tempat tidur mesti melangkahi anak-anak, hal itu haram untuk orang Yahudi, rumah gelap, pergi ke dapur harus turun tangga lagi, tetapi kemurahan hati Allah sanggup melewati segala rintangan.

Pondok Yesus di G. Tabor

Pondok Yesus di G. Tabor

Pagi hari yang dingin kami mendaki Gunung Tabor untuk menyaksikan peristiwa transfigurasi. Petrus menubuatkan, “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (Luk 9:33). Nubuat itu menjadi kenyataan. Hanya, biara besar Fransiskan dibangun juga, entah mengikuti nubuat siapa, kiranya mengikuti Antonio Barluzzi.

Di pondok Yesus kami merayakan perayaan Ekaristi. Kami juga menyadari adanya “tranfigurasi model baru”. Bagaimana mungkin kita bisa sampai di tempat ini, kalau Allah sendiri tidak mengundang kita? Kita merasakan daya kuasa ilahi Allah di tempat ini. Kiranya dengan tugas khusus, untuk berbagai pengalaman transfigurasi.

Hanya beberapa Fransiskan boleh tinggal di situ, kami diminta turun. Kami menuju ke Yerikho. Kami ditunjukkan tempat orang yang dirampok (Luk 10, 30). Kami tiba di Mount Temptation, tempat Yesus dicobai Iblis. Anehnya kami justru dibawa ke Restaurant Temptation. Kami butuh godaan rupanya…

…disambung pada bagian 2

oleh Sdr. FX Sutarja, OFM

Natal di Betlehem – Bagian 2

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *