Para Pimpinan Rumah dan Karya Beranimasi

[tab name=”Berita”] (Laporan Kegiatan Animasi oleh Sdr. Damas Udjan, OFM)

Gara-gara bukan berarti peristiwa yang menggemparkan atau hanya sensasi, tetapi lebih dari itu adanya kesungguhan untuk membangun dan memelihara komitmen bersama sebagai saudara dina yang baik, bijak, dan kritis. Kesungguhan atau keseriusan ini menandakan bahwa kita kreatif untuk terus-menerus membina dan mengolah diri dan persaudaraan yang lebih bermutu. Salah satu tindakan konkretnya yaitu melalui kegiatan Animasi para Guardian, Kepala Rumah, dan Pimpinan Karya. Dalam dan melalui animasi ini, kita dapat merefleksikan cara dan spirit hidup, karya, dan misi kita di tengah dunia ini. Untuk menjawabi kebutuhan tersebut, maka ada saat ‘jeda’. Saat ‘jeda’ sebagai saat berhenti sejenak untuk melihat kembali seluruh perjalanan hidup, panggilan, dan karya kita. Pada tgl. 6 – 8 Feb 2013, para saudara Guardian, Kepala Rumah dan Pimpinan Karya yang berkarya dan bermisi di Jakarta, Yogyakarta, Depok, dan Puncak-Jawa Barat mengikuti kegiatan animasi yang dikoordinir oleh Sdr.Mateus Batubara,OFM. Kegiatan animasi ini dilaksanakan di Rumah Retret St. Clara – Pacet. Selama 3 hari, 27 saudara tua mendalami bahan-bahan yang diracik dari dokumen-dokumen ordo. Tiga saudara dipercayakan untuk meracik bahan tersebut secara berkualitas sehingga dapat diserap oleh saudara-saudara lain. Ketiga saudara yang dimaksud yaitu Minister Provinsi OFM Indonesia, Sdr. Adrianus Sunarko,OFM, Sdr. Aleks Lanur,OFM dan Sdr. Vincentius Darmin Mbula,OFM. Ketiga saudara ini masing –masing membahas tema yang berbeda. Tema pertama : Arah Hidup Komunitas Fransiskan yang diambil dari dokumen Our Franciscan Identity, kedua : Peran Kepala Rumah Menurut KonSum Tarekat; dan ketiga : Model Kepemimpinan Fransiskan.

Diawal pertemuan 6 Feb. 2013, Sdr.Paskalis Bruno Syukur,OFM (Definitor General Pemerhati Asia-Oceani) sempat hadir dan memberikan beberapa informasi tentang kehidupan persaudaraan pada umumnya. Sdr. Paskalis menandaskan bahwa beberapa tahun terakhir ini cukup banyak saudara yang meninggalkan persaudaraan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka persaudaraan menindaklanjuti melalui animasi untuk para guardian dan kepala-kepala komunitas atau kepala rumah. Peran para pelayan persaudaraan ini sangat dibutuhkan demi kehidupan persaudaraan yang lebih berkualitas. Untuk itu sangatlah penting kesetiaan kita pada ‘hidup doa’ sebagai landasan keberimanan kita dan identitas sebagai fransiskan. Setelah Sdr.Paskalis memberikan peneguhan, dilanjutkan dengan pendalaman bahan yang disajikan oleh Minister Provinsi- Sdr. Adrianus Sunarko,OFM.

Sdr. A. Sunarko,OFM menghantar para saudara dengan tema “Arah Hidup Komunitas Fransiskan”. Sumber utama bahan yaitu dari dokumen Ordo tentang Our Franciscan Identity. Dalam bagian pengantar ini Sdr. Sunarko menegaskan kembali arah dasar kehidupan dan identitas para saudara dina yang bersumber pada KonsUm 1:1. Unsur-unsur yang mutlak harus ada : doa dan kebaktian, mewartakan Injil, mewujudkan rekonsiliasi, perdamaian, keadilan dan melestarikan lingkungan. Dan semangat yang mendasari adalah pertobatan dan kedinaan. Jika ini terus-menerus kita tekuni dan hayati dalam persaudaraan maka kita dapat bermisi untuk mewartakan kebaikan dan kebenaran-Nya. Kita diajak untuk mengikuti dan menghidupi jejak Kristus yang miskin dan tersalib secara ‘radikal’. Hidup yang radikal ini, telah ditunjukkan oleh pendiri kita St. Fransiskus dari Asisi. Itulah tuntutan yang mau kita jadikan sebagai komitmen dalam peziarahan kita sebagai saudara-saudara dina. Memang butuh usaha pertobatan. Mengapa dituntut adanya pertobatan terus menerus? Karena kita berada dan mengalami era media informasi yang canggih. Hidup kita dipenuhi dengan banjir informasi tentang segala macam hal. Hal itu di satu pihak memudahkan komunikasi, tetapi ada juga bahaya terjadinya manipulasi. Agar kita tidak menjadi orang yang kebingungan, dibutuhkan kemampuan berdialog secara kritis dan bijak dengan timbunan informasi yang terus menimpa kita. Kita tak dapat memungkiri realita ini. Jika kita mengalami seperti itu, maka itulah pengalaman tentang kebangkitan, keabadian, bahwa Roh itu lebih kuat daripada dunia ini. Itulah pengalaman berahmat yang patut disyukuri. “Marilah merenungkan hidup kita dan mencari pengalaman rahmat itu”. Demikian sepenggal ajakan yang bermakna dari minister provinsi bagi para saudara dina. Selain ajakan, ada juga 5 harapan yang patut kita yakini dan wujudkan :

  1. Saudara-saudara memahami dan’yakin’ akan identitas hidup injili-kfransiskanan yang diterima sebagai anugerah panggilan dan yang dipilih dengan bebas :mengalami perealisasian diri(gembira) dalam menepati Injil-kefransiskanan secara radikal.
  2. Keyakinan akan identitas diri dan hidup tersebut dihayati dan diwujudkan dalam semangat kedinaan dan pertobatan terus-menerus.
  3. Keyakinan akan identitas diri itu dihayati dalam dialog/keterbukaan terhadap “yang lain” : dalam sikap mau belajar dari, hormat sekaligus kritis terhadap berbagai pandangan hidup, budaya, agama dan kepercayaan yang lain; dalam keterbukaan untuk menanggapi tantangan-tantangan jaman yang baru.
  4. Keyakinan akan identitas diri dan panggilan itu dihayati dalam konteks misi dan evangelisasi Ordo ke seluruh dunia.
  5. Penting untuk diperhatikan : bagaimana mengupayakan agar kekayaan spiritualitas fransiskan kita dapat dihayati dalam konteks problematik pemiskinan, keadilan, perdamaian dan perusakan ekologi.

Bagian akhir dari session ini, ditawarkan adanya perayaan syukur atas identitas kita berdasarkan dokumen Ordo : Our Franciscan Identity. Identitas kita sebagai fransiskan dapat dirayakan secara bersama dalam komunitas atau gardianat dengan tema-tema sebagai berikut : Living According to The Rule of St. Francis, Following St. Francis Today According To The GG.CC, Renewing Our Profession Each Day, Living As Friars Minor dan Evangelizing in Fraternity and Minority in The World.

Pada pagi hari Kamis, 7 Feb.2013, Sdr. Aleks Lanur,OFM menghantar para saudara untuk memahami peran dari kepala rumah berdasarkan KonsUm Ordo. Diharapkan lebih menukik dan mendalam, ternyata ada diskusi yang cukup menarik karena peran kepala rumah tidak dibicarakan lebih khusus dalam KonSum Ordo. Dalam KonSum Ordo hanya menampilkan peran dari para guardian. Namun Sdr. Aleks mengatakan masih ada ‘cela’ yang bisa kita dalami yakni peran guardian juga merupakan bagian tak terpisahkan dari peran kepala-kepala rumah. Untuk itu peran kepala-kepala rumah yang dapat “dipetik” dari KonsUm yaitu :

  • Dalam KonSum art.1-2 tentang Dasar-dasar Tarekat dikatakan bahwa saudara-saudara wajib menjalani hidup secara radikal dan mengartikan dan menepati Anggaran Dasar. Untuk itu peran kepala rumah adalah mendorong dan membantu para saudara dalam komunitasnya untuk menghayati dan meningkatkan mutu penghayatan cara hidupnya sebagai Fransiskan dengan bersama-sama mempelajari,memahami, dan menjunjung tinggi hidup serta tulisan-tulisan St. Fransiskus dan para pengikutnya.
  • Mendorong para saudara untuk setia merayakan Ekaristi, merayakan Ibadat Harian, Ibadat Sabda, dan Doa Batin (KonsUm art.21,23-25), serta olah devosional (KonsUm art.26-27); menunjang dimensi kontemplatif panggilan fransiskan dengan bentuk-bentuk baru yang menanggapi kepekaan dunia dewasa ini sedemikian rupa sehingga ditingkatkanlah kehendak dan niat entah untuk berdoa bersama entah doa perorangan (KonsUm art.29).
  • Mendorong dan memberi teladan baik bagi para saudaranya untuk setia pada profesinya untuk hidup dalam ketaatan, tanpa milik, dan dalam kemurniaan (KonsUm art.5-9).
  • Menunjang kesejahteraan persaudaraan dan para saudaranya dalam komunitas dengan giat memelihara hidup serta tata tertib religius, memimpin kegiatan-kegiatan serta meumpuk ketaatan yang aktif dan penuh tanggungjawab dari pihak saudara-saudaranya dalam semangat persaudaraan yang sejati (KonsUm art.237).

Di sore hari, 7 Feb.2013, para saudara menyimak dan mendalami tema yang disajikan oleh Sdr. Vincensius Darmin Mbula,OFM dengan tema Model Kepemimpinan Fransiskan. Sdr.Darmin, mengajak para saudara untuk menyelami tema ini dengan bertolak dari model kepemimpinan dan manajemen modern secara umum. Hal ini ditampilkan karena yang ikut animasi tidak hanya para kepala rumah melainkan juga para pimpinan karya (paroki, panti asuhan, dan sekolah). Landasan teori ini diangkat untuk menjadi titik acuan dalam memimpin dan melayani karya yang dipercayakan oleh persaudaraan. Dari pemahaman umum, sdr. Darmin terus menggiring para saudara untuk bersama-sama belajar model kepemimpinan dalam Kitab Suci yang terarah dan berpusat pada Kristus. Dalam hidup dan karya-Nya, Kristus menampilkan dan mempraktekkan model kepemimpinan hamba (Servant-Leadership model), model kepemimpinan sebagai gembala (Shepherd-Leader model), dan model kepemimpinan sebagai pengurus (Leader as Steward model). Tiga model kepemimpinan ini diharapkan terus menerus diterapkan dalam hidup dan karya persaudaraan bersama dengan umat pada umumnya. Selain model kepemimpinan dan pelayanan dari Kitab Suci (Kristus), juga ditampilkan 4 model kepemimpinan kedinaan-bersaudara (Fraternal minority) yaitu :

  1. Roh Kudus Sebagai Minister General (Bandingkan tulisan 2 Cel.193). Untuk mendalami model kepemimpinan ini Sdr. Darmin mengutip satu teks Rasul Paulus : “Semua orang dipimpin oleh Roh Allah adalah Anak Allah” (Rom 8:14). Ini merupakn satu teks model kepemimpinan biblis dari spiritualitas Il Poverello.
  2. Hamba Seluruh Persaudaraan : “Saudara sekalian wajib selalu mempunyai seorang saudara anggota tarekat ini sebagai minister jenderal dan hamba seluruh persaudaraan dan mereka diwajibkan dengan keras untuk taat padanya.” (AngBul VIII).
  3. Gembala Baik : “Marilah saudara sekalian, kita memandang Gembala Baik yang telah menanggung sengsara salib untuk menyelamatkan domba-domba-Nya…”(Petuah VI).
  4. Pengurus Kepentingan Umum Saudara-saudara (Bdk.AngBul VIII:4)

Pada bagian akhir, Sdr. Darmin dengan rendah hati, mengajak para saudara bahwa saudara-saudara yang dipercayakan oleh Ordo untuk menjadi Kepala Rumah (KeRum) dan Pimpinan Karya (PiKar) kiranya perlu memperhatikan model kepemimpinan dan manajemen modern, model kepemimpinan dalam Kitab Suci (Yesus Kristus) dan model kepemimpinan kedinaan-bersaudara.

Hari Jumat, 8 Feb.2013, diadakan pleno atas hasil diskusi kelompok. Diskusi kelompok dipandu berdasarkan tema-tema yang telah disajikan. Hasil diskusi kelompok, dapat dikatakan sangat ‘bernas’ dan tak menyimpang dari tema-tema yang telah dibahas. Namun dalam pleno disimpulkan bahwa untuk memelihara Identitas Sebagai Fransiskan yang bermutu perlu adanya kesetiaan pada ‘komitmen’. Berkomitmen untuk tetap menghayati spiritualitas sebagai Fransiskan yang radikal yakni setia mengikuti Injil dan jejak Tuhan kita Yesus Kristus yang miskin dan tersalib. Semoga buah-buah yang bernas dari animasi ini, dapat diwujudkan secara menyeluruh oleh saudara-saudara dina di provinsi ini. Tidak hanya berhenti pada teori dan sebatas pada tugas struktural pelayan-pelayan ordo (para guardian dan kepala rumah). Marilah kita mulai dengan animasi diri sendiri (Misalnya : budaya membaca Fransiskus dan karya-karyanya, dokumen-dokumen ordo dll), sebelum menganimasi saudara-saudara lain. Bukan mencari ‘gara-gara’ tapi kita mau menjadi fransiskan yang bermutu, yang setia pada ‘hidup doa dan kebaktian suci, spiritualitas persaudaraan, dan misi penginjilan’.

Kontributor : Sdr.Damas Udjan, OFM

[/tab][tab name=”Foto-foto”]








[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *