Para Suster Klaris-Pacet hari Natal tahun 2014

Para Suster KLARIS PACET hari Natal th 2014

Peristiwa dalam gambar dan kata.

Oleh Sr. Bernadette OSC

Pengantar oleh P. Alfons S. Suhardi, OFM

Para pengunjung situs Fransiskan Indonesia ini pastilah sudah tahu bahwa para Suster Ordo Santa Klara itu (di Pacet, Jawa Barat) hidup dalam keheningan, kontemplatif, tidak bergaul dan berkarya dengan masyarakat di dunia ramai. Mereka menyendiri, mengurung diri dalam biara yang dikelilingi tembok kokoh tinggi. Mereka hidup dalam pingitan, istilah latinnya: clausura. Clausura berarti tertutup dari dunia luar. Orang-orang luar, baik laki-laki maupun perempuan tidak diperkenankan masuk. Bahkan Uskup pun tidak diperkenankan masuk. Mereka menjalani hidup doa dan karya (ora et labora) sepanjang hari. Untuk itu mereka tidak diperkenankan bercakap-cakap seperti kita semua ini, yang sulit sekali untuk menutup mulut, bahkan di gereja sering terlihat orang-orang sudah mulai sibuk bercakap-cakap, satu menit sesudah menyambut Tubuh Kristus.

Sebenarnya seluruh kompleks biara itu termasuk wilayah clausura. Hal semacam ini masih bisa kita saksikan di biara Karmel di Lembang, dekat Bandung. Dahulu biara St. Klara, Pacet ini juga demikian, tetapi sesudah Konsili Vatikan II, mereka mulai membuka diri dengan mengkhususkan sebagian dari kompleks itu untuk kepentingan rohani bagi masyarakat Kaktolik pada umumnya. Sedangkan bagian Clausura hanya tinggal sebagian saja. Di Biara St. Klara Yogyakarta sifat clausura ini nyaris tidak nampak.

Dengan demikian, bagaimana para suster Klaris itu menjalani hidup mereka sehari-hari nyaris tidak diketahui oleh khalayak ramai. Orang hanya tahu bahwa para suster itu hidup berdoa, tidak boleh ke mana-mana, tidak boleh bicara, banyak puasa, matiraga dan banyak lagi. Sehingga seolah-olah hidup mereka itu membosankan. “Apa hiburan mereka?” banyak orang bertanya demikian, bahkan terheran-heran “Zaman abad 21 gini kok gak nonton TV, HP juga tidak (boleh) punya, apa lagi pergi jalan-jalan sekedar ‘cuci mata’. Apalagi nonton bioskop!… Kok bisa-bisanya…?” Ungkapan keheranan masih dapat ditambah lagi!

Tapi saudara-saudaraku yang terkasih,

Jangan disangka mereka itu hidup dalam ‘kematian’, tidak banyak aktifitas. Selain bahwa mereka sibuk bekerja (membuat pakaian liturgis – terbaik di seluruh Indonesia! – membuat hosti untuk perayaan Ekaristi – juga terbaik dan laris sampai kewalahan… dan masih banyak pekerjaan lagi), dan berdoa, mereka juga mengembangkan bakat seni: menyanyi, menari, melukis dan sebagainya.

Berikut ini Sr. Bernadette OSC (Ordo Sanctae Clarae) secara singkat – dalam dua artikel yang terpisah – menyingkap tabir bagaimana para Suster Klaris itu merayakan Pesta Natal dan Pesta Perak dan Emas dua Saudarinya. Kali yang lalu dia sudah menulis perihal pertemuan internasional yang juga diadakan di Biara St. Klara ini. Dengan demikian kita, orang-orang luar, dapat sedikit mengetahui bagaimana para Suster Klaris itu hidup. Ternyata tidak angker-angker amat, masih sangat manusiawi dan normal. Siapa tahu ada pembaca wanita yang dalam hatinya ‘nyeletuk’: “Kalau begitu saya pun bisa hidup demikian itu. Coba kontak ah…”. Semoga.

Selamat menikmati sharing dari Sr. Bernadette.

Pater Alfons S. Suhardi, OFM

 

  1. Setelah Misa Malam Natal, Koor para saudara Novis OFM masih tetap tampil penuh semangat pada Misa Natal pagi. Pada siang hari, sesudah makan siang mereka masih dengan penuh semangat keceriaan, tampil khusus di depan para suster dengan lagu-lagu khas orang muda sebagai ucapan berpamitan dan sekaligus untuk membina kearaban. Tentu juga sebagai saat para suster mengucapkan terima kasih atas kerelaan mereka untuk bertugas pada Perayaan Ekaristi di Malam Natal dan Natal Pagi. natal-pacet-1
  2. Pada hari Natal, setelah Ibadat Siang I – pkl. 10.00, merupakan saat acara snack bersama. Saat itulah kami bercakap-cakap ramai entah tentang kesan malam natal yang baru dirayakan, entah tentang para tamu yang datang, dan para suster Novis memeriahkan acara pagi itu dengan mempersembahakan tari dari budaya Batak tempat asal salah satu postulant kami. natal-pacet-2
  3. Pada hari istimewa, seperti hari Natal, kami boleh berbicara sepanjang hari dan kami berbagi cerita pada saat makan.
  4. Acara yang tidak kalah serunya di hari istimewa ini adalah buka kado bersama. Kado-kado kami terima dari para kenalan yang baik hati. Entah itu berupa coklat, entah itu handuk kecil dll, ( hampir semua suster sangat suka coklat, meskipun usia makin tinggi, yang namanya coklat paling membuat para suster komentar seru…. E.. yang sudah lebih dari 60 tahun dilarang makan coklat …. Kolesterol …, yang sudah merasa senior tak kalah seru berkomentar … justru perlu untuk tambah semangat… )natal-pacet-3
  5. Pun pula para karyawati kami yang mengenal dari dekat pola hidup kami, pada hari istimewa mereka mempertunjukkan kebolehan mereka dengan tari-tarian modern ala orang muda untuk menghibur para suster yang tidak mengenal acara TV.natal-pacet-4
  6. Dua hari setelah hari Natal para suster Claris mendapat kunjungan kasih dari anak-anak paroki Para Malaikat – Cipanas, mereka memberi bingkisan berupa syal khusus untuk para suster Lansia. Selain itu mereka juga mempersembahkan acara tari dan lagu. Acara berlangsung tidak lebih dari 1 jam lamanya. Tetapi kami semua sangat bergembira atas kunjungan kasih mereka.natal-pacet-5

 

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *