26/27 Agustus – Tujuh Kebahagiaan Bunda Maria

26/27 Agustus
Tujuh Kebahagiaan Bunda Maria

Para Fransiskan merayakan pesta ini pada tgl 27 Agustus, sedangkan para Konventual pada tgl 26 Agustus. Paus St. Pius X memberi wewenang kepada mereka merayakan pesta ini pada 1906. Pada mulanya pesta ini dirayakan pada hari Minggu sesudah oktaf Maria diangkat ke surga, tetapi pada 1941 dipindahkan hari oktaf itu sendiri. Namun ketika pada 1942 perayaan pesta Hati Maria Tak Bernoda ditentukan pada hari itu, maka perayaan Tujuh Kebahagiaan Bunda Maria dipindahkan ke tanggal 26 atau 27 Agustus. Para Fransiskan mengenakan Rosario Tujuh Kebahagiaan itu pada tali ikat pinggang mereka.

PERIHAL KORONA FRANSISKAN

1.    Santa Perawan Maria sendiri menunjukkan bahwa Korona Fransiskan, seperti halnya rosario Dominikan, merupakan sebuah devosi yang berkenan pada hatinya. Buku tahunan Tarekat mengatakan, bahwa seorang pemuda – biasanya dipercaya sebagai Yakobus dari Rosario – yang sebelum masuk Ordo telah menjadi pencinta setia Bunda Maria dan setiap hari menghiasi patungnya dengan karangan bunga. Berhubung dia tidak diizinkan melanjutkan praktek ini di novisiat, dia berpikir untuk meninggalkan Ordo. Tetapi sebelumnya dia mau terlebih dahulu berlutut di depan patung Bunda Maria untuk berdoa.

Ketika itulah Bunda Maria menampakkan diri baginya dan berkata: “Tetaplah tinggal di sini, dan janganlah bersedih karena engkau tidak dapat lagi merangkai bebungaan untuk saya. Saya akan mengajarimu bagaimana engkau setiap hari merangkai bunga-bunga mawar yang tak kan layu dan akan lebih berkenan padaku dan lebih bermanfaat bagimu sendiri.” Dan dia pun mengajarinya berdoa rosario yang terdiri dari tujuh puluhan. Dari peristiwa itu, kita dapat belajar untuk tidak mementingkan diri sendiri dan melekat pada praktek-praktek kesalehan, dan bahwa doa itu bernilai lebih besar daripada hiasan-hiasan yang mudah musnah.

2.    Renungkanlah kuntum-kuntum mawar nan harum semerbak yang merangkai Korona Fransiskan. Rosario ini terdiri dari tujuh puluh dua Salam Maria, dan pada mulanya dikatakan bahwa hal ini untuk menghormati kurun waktu tujuh puluh dua tahun yang dihabiskan Bunda Maria hidup di dunia ini sebagaimana diungkapkan oleh pendapat dan tradisi yang lebih dapat dipercaya. Kepercayaan demikian ini pasti terdapat selama pertengahan pertama abad lima belas, karena St. Bernardinus dan St. Yohanes dari Kapistrano keduanya menyebarkan hal ini. Baru pada abad ke tujuh belaslah bahwa para putera St. Fransiskus mulai mendaraskan korona ini, juga sebagai penghormatan kepada ke tujuh kegembiraan Bunda Maria. Ketujuh kegembiraan itu adalah: Maria mendapat kabar gembira dari malaikat Gabriel, Maria Mengunjungi Elizabet, Kelahiran Kanak-kanak Yesus, Tiga Majus mengunjungi kanak-kanak Yesus, Yesus ditemukan dalam Bait Allah, Kebangkitan Tuhan, Maria diangkat ke surga dan Maria dimahkotai di surga. Pada setiap kesepuluhan itu baiklah direnungkan kebahagiaan nan manis dari Bunda Maria, yang dialami pada masing-masing kesempatan itu. Bila didaraskan secara demikian ini, maka rosario itu akan sangat berkenan pada Bunda Maria, dan engkau akan belajar untuk semakin mencintai korona ini.

3.    Renungkanlah betapa rosario ini terbukti sangat membawa hasil. Hamba Allah, Yakobus, mengalami hasil-hasil baiknya bahkan selama dia masih hidup, dan selama sejarah Ordo Fransiskan hasil-hasil yang terberkati telah begitu sering diterima dalam berbagai kesulitan, sehingga atas permintaan para superior tarekat, para Paus telah memberikan indulgensi-indulgensi yang berlimpah kepada mereka yang mendoakannya. Sangatlah dianjurkan bahwa semua anggota Tarekat mendaraskannya sekurang-kurangnya setiap hari Sabtu. Buatlah hal ini sebagai aturan bagi dirimu sendiri. Kemudian dapatlah kamu meyakinkan dirimu sendiri bahwa kamu akan ambil bagian dalam kebahagiaan Bunda Maria di surga.

Sumber: THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS edited by Marion Habig, ofm
Copyright 1959 Franciscan Herald Press. Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM.