10 Juli – St. Veronica Giuliani

10 Juli
St. Veronica Giuliani
1660-1727

RIWAYAT HIDUPNYA
Veronica dilahirkan dari kalangan orang tua yang saleh di Mercatello, Italia. Ketika masih kanak-kanak, dia juga sudah memiliki kecenderungan saleh, namun cenderung sangat mudah tersinggung, dan, sebagaimana diakuinya sendiri, akan menghentak-hentakkan kakinya sebagai ancaman.

Ibunya meninggal dunia ketika dia baru berumur empat tahun. Pada saat-saat terakhirnya, sang ibu mengenakan pada setiap orang dari kelima anaknya pada salah satu lima luka Kristus dan meminta mereka pergi mencari perlindungan di sana apabila mendapatkan kesulitan besar. Veronica adalah anak bungsu. Padanya dikenakan luka lambung Tuhan kita, dan sejak saat itu hatinya menjadi lebih terkendali. Bekerja sama dengan rahmat Tuhan, jiwanya lambat laun melalui proses yang menyegarkan. Dengan jalan itu, dalam tahun-tahun kemudian dia menjadi orang yang sungguh dikagumi.

Ketika Veronica menjadi dewasa, ayahnya yakin dia akan menikah. Karena itu dia menginginkannya ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan sosial di antara kelompok muda. Tetapi dia sudah menyadari akan adanya panggilan lain. Setelah dia memohon dengan sangat mendesak, maka ayahnya yang tadinya sangat berkeberatan, akhirnya mengijinkan dia untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Pada umurnya yang ke 17 tahun, wanita muda ini masuk biara Suster-suster Kapusin di Citta di Castello, di Umbria, di mana anggaran dasar pertama St. Klara dilaksanakan. Diresapi dengan kerendahan-hati yang tulus, dia menganggap dirinya sebagai anggota yang paling rendah dari komunitas itu. Pada waktu yang sama dia mendidik semua orang dengan ketaatan, cinta akan kemiskinan dan matiraganya. Kadang-kadang dia dianugerahi dengan percakapan-percakapan batin dan revelasi-revelasi. Dia mengambil keputusan untuk mengungkapkan hal-hal semacam itu kepada atasannya dan bapa pengakuannya. Namun dia telah tidak melakukan hal itu ketika dia masih hidup di dunia ini; dan akibatnya ialah bahwa dia seringkali disesatkan oleh induk kebohongan.

Ketika Veronica telah melewati 17 tahun dalam berbagai tugas pelayanan dalam komunitasnya, kepadanya diberikan kepercayaan untuk membimbing para novis. Dia berusaha meresapi mereka dengan semangat kesederhanaan dan meletakkan dasar yang kokoh untuk kerendahan hati. Dia mengarahkan mereka kepada kebenaran-kebenaran iman dan anggaran dasar ordo sebagai acuan mereka yang paling aman dalam jalan kesempurnaan, dan mengingatkan mereka jangan membaca buku-buku khayalan tanpa guna dan mengingatkan mereka terhadap segala sesuatu yang tidak patut.

Sementara itu, hal-hal yang luar biasa mulai terjadi padanya. Pada Hari Jumat Agung dia menerima stigmata dan kemudian Mahkota Duri dibebankan pada kepalanya sehingga menimbulkan nyeri yang tak terperikan. Setelah hal itu diselidiki dengan hati-hati dan saksama, bapa Uskup pun mengirimkan sebuah laporan ke Roma. Roma membentuk sebuah komisi, yang harus mengenakan pada kerendahan hatinya suatu tes yang berat, supaya tersingkaplah apakah dia itu seorang pemalsu, seorang yang telah diperdayakan oleh setan, atau seorang yang memperoleh perkenanan Tuhan. Dia lalu dipecat dari tugasnya sebagai pembimbing novis dan hak pilihnya dalam komunitasnya juga dilepaskan. Bahkan dia dipenjarakan dalam sebuah kamar sel yang terpencil, tak seorang suster pun diijinkan berbicara dengannya dan seorang suster awam yang bertugas sebagai pengawasnya diperintahkan untuk memperlakukan dia bagaikan seorang penipu. Akhirnya, dia bahkan dilarang menyambut Komuni Kudus dan hanya diijinkan menghadiri Misa Kudus pada hari Minggu dan hari-hari kudus dari dekat pintu gereja.

Pada penutupan pencobaan-pencobaan ini, Uskup melaporkan ke Roma bahwa Veronica telah dengan cermat menaati setiap perintah tersebut dan sama sekali tidak memperlihatkan sedikit pun tanda kesedihan selama perlakuan yang keras tadi, bahkan sebaliknya, menunjukkan kedamaian dan kegembiraan jiwa yang tak terperikan.

Tes tersebut telah membuktikan bahwa gejala-gejala yang menakjubkan itu adalah karya Allah sendiri. Tetapi Veronica karena hal-hal yang sedemikian itu tidaklah memandang dirinya sebagai seorang santa, seorang kudus, malahan justru memandang diri sebagai seorang pendosa besar, yang dibimbing Tuhan pada jalan pentobatan dengan sarana luka-luka kudus-Nya.

Setelah menunaikan tugasnya sebagai magistra para novis selama rentang waktu 22 tahun, Veronica pun secara aklamasi dipilih menjadi Abdis. Hanya karena ketaatan dia mampu menerima tanggung-jawab sedemikian itu.

Setelah semakin dimurnikan dengan banyak penderitaan dan masih ditambahkannya lagi dengan matiraga yang keras, akhirnya dia melangkah menuju ke ganjaran kekalnya pada 9 Juli 1727, setelah menghabiskan 50 tahun dalam biara. Karena keutamaan-keutamaannya yang banyak dan hebat serta banyaknya mukjizat yang terjadi terus menerus pada makamnya, dia pun dikanonisasi oleh Paus Gregorius XVI pada 1839.

PERIHAL TANDA-TANDA KERENDAHAN-HATI
1. Renungkanlah tanda-tanda kerendahan hati sebagaimana nampak pada hidup St. Veronica. Dia memandang dirinya sebagai yang terhina di antara suster-susternya yang lain. Orang yang sungguh-sungguh rendah hati akan mempertimbangkan penderitaan dan kelemahannya. Dia akan mengakui bahwa apa pun yang baik yang terdapat dalam dirinya itu berasal dari anugerah Allah, dan bahwa dia harus telah memperoleh kesempurnaan yang lebih besar lagi seimbang dengan ukuran anugerah-anugerah Allah yang diberikan kepadanya. Karena itu Veronica tulus dalam keyakinannya bahwa dialah yang terkecil di antara sesama suster-susternya, tepat sama seperti St. Fransiskus, dan sebelumnya St. Paulus, yang berkata: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.” (1Tim 1:15). Karena alasan yang sama, orang yang rendah hati tanpa menempatkan pendapat di atas pendapat orang-orang lain, jasanya di atas jasa orang lain, juga tidak memandang kemampuan-kemampuannya di atas kemampuan-kemampuan orang lain. Dalam kerendahan-hatinya, dia memandang orang-orang lain di atas dirinya sendiri, dan dengan gembira mengambil tempat yang paling rendah. – Apakah arah ini nampak pada dirimu?

2. Renungkanlah bagaimana kerendahan-hati Veronica diuji dengan penghinaan dan perendahan yang luar biasa. Baik Roh yang jahat, maupun cinta-diri kita yang tidak baik, dapat membangkitakan bayangan-bayangan yang besar di depan seseorang, namun tidak satu pun dari keduanya akan tahan menghadapi tes kerendahan hati. Menanggung penghinaan adalah jalan ke kerendahan-hati dan juga merupakan bukti seberapa besar kerendahan-hati yang kita miliki. Tidak peduli betapa penghinaan itu telah menyakiti kodrat manusia, jiwa yang rindu untuk menjadi rendah hati akan berkata bersama nabi: “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu” (Mzm 119:71). Semakin tenang dan gembira seseorang menerima penghinaan, semakin besarlah kemajuan yang telah dicapai dalam kerendahan-hati. – Pada tahap kerendahan-hati mana engkau telah berada? Apakah engkau, sekurang-kurangnya, dengan tulus menginkan memperoleh keutamaan ini?

3. Ingatlah bahwa kerendahan-hati, yang merupakan akar dari keutamaan-keutamaan yang lain, akan juga nampak jelas dalam keutamaan-keutamaan lain itu. Bila keutamaan-keutamaan lain itu berkembang dan menghasilkan buah yang baik, itu merupakan tanda yang pasti bahwa kerendahan-hati berakar mendalam dalam jiwa. Khususnya ada tiga keutamaan yang muncul sebagai ukuran adanya kerendahan-hati kita. Mereka itu adalah: kesabaran, ketaatan dan mati-raga. Orang yang sungguh rendah hati, menerima dengan tenang sikap permusuhan seolah-olah hal itu menjadi haknya, apalagi, dia akan sabar terhadap dirinya sendiri dan tidak menjadi gundah karena kelemahan dan penderitaannya sendiri, karena hal itu telah lama dia akui. Dia mengambil sikap senang bahwa dia dibimbing oleh ketaatan dan dilindungi melawan kerapuhannya sendiri. Dan karena dia mengakui bahwa dirinya telah bersalah lebih dari satu kali, maka dia pun mencari pemulihannya dengan hukuman pertobatan dan matiraga. St. Veronica memandang stigmata sebagai hukuman atas dosa-dosanya. Kita, yang adalah pendosa, dapat berharap untuk ambil bagian dalam kemuliaannya hanya melalui pelaksanaan karya pertobatan.

DOA GEREJA
Ya Tuhan Yesus Kristus, yang telah sungguh memuliakan St. Veronica dengan tanda-tanda penderitaan-Mu, anugerahilah kami rahmat untuk menyalibkan tubuh kami dan dengan demikian menjadi layak untuk menerima kegembiraan yang kekal. Engkau yang hidup dan bertakhta sepanjang segala abada. Amin.

Sumber:The Franciscan Book of Saints, ed. by Marion Habig, ofm., © 1959 Franciscan Herald Press. Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM