11 Mei – Santo Ignasius dari Laconi

11 Mei
Santo Ignasius dari Laconi
1701-1781

st-ignatius-dari-laconi

RIWAYAT HIDUPNYA
Ignasius, anak seorang petani yang saleh di Laconi, Sisilia, lahir pada 1701. Sebagai seorang pemuda, sewaktu dia menderita sakit keras, dia bernazar: bila dia dapat sembuh, dia akan mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan dalam Ordo Kapusin. Dia pun menjadi sembuh, tetapi dia senantiasa mengulur-ulur, dari hari ke hari, pemenuhan nazarnya itu. Lalu – seolah-olah untuk memperingatkan dia – hidupnya sekali lagi terancam ketika kuda yang ditungganginya tiba-tiba mundur ketakutan. Ignasius berseru kepada St. Fransiskus dan memperbarui nazar yang pernah dibuatnya. Dan dia pun terselamatkan. Namun kali ini, bahkan orang tuanya pun tidak berkeberatan.

Dia pergi melamar di biara di Cagliari, tetapi atasan setempat mula-mula menolaknya, karena kesehatannya sangat lemah. Lalu Ignasius menemui seorang sahabatnya yang berpengaruh untuk menjadi pengantaranya, dan dia pun diterima. Gelora jiwanya membuatnya sedemikian kuat sehingga dia dapat menghadiri semua latihan dan kegiatan komunitas dan bahkan melampaui saudara-saudaranya yang lain dalam hal menaati semua peraturan.

Sesudah selama beberapa tahun menjalankan berbagai tugas dalam komunitasnya, dia ditunjuk menjadi pengumpul derma karena tingkah lakunya yang santun. Para penduduk Cagliari segera menyadari bahwa Saudara Ignasius sungguh memberi mereka lebih dari pada apa yang diambilnya dari mereka. Penampilannya yang sederhana diam-diam merupakan khotbah bisu bagi semua orang yang melihatnya berkeliling. Dia jarang sekali berbicara; tetapi bila kemurahan hati dan keselamatan jiwa-jiwa memanggil, dia berbicara dengan keramahan yang luar biasa. Dia juga akan mengajar anak-anak dan mereka yang tidak terpelajar, menghibur orang yang sakit, dan mendorong para pendosa untuk bertobat dan melakukan laku silih. Segala ejekan dan hinaan dia terima dengan tenang, dan dijawabnya dengan kata-kata yang penuh kasih sayang.

Dengan saksama dia menaati atasannya, juga bila hal itu menuntut penyangkalan kemauannya sendiri. Saudara yang baik ini biasa melewati rumah seorang lintah darat, karena dia khawatir bahwa dengan menerima derma darinya, dia akan ambil bagian dalam ketidak-adilannya. Tetapi ketika orang itu mengeluh dan atasan Ignasius memerintahkannya untuk pergi dan menerima derma dari orang itu, dia pun selalu mengumpulkan derma dari lintah darat itu. Kiranya, hal inilah yang menyebabkan orang itu bertobat.

Para Suster dari hamba Allah sering munulis kepadanya supaya mengunjunginya, sehingga dia dapat memperoleh nasehat perihal beberapa masalah penting yang dihadapinya. Ignasius tidak berniat mengabulkan permintaan itu, tetapi ketika atasannya memerintahkannya untuk itu, dia pun segera pergi ke sana. Tetapi segera kembali segera setelah memberikan nasihat yang dimintakannya.

Ketika saudaranya dijebloskan ke dalam penjara, orang berharap bahwa Bruder Ignasius, karena namanya sudah terkenal, dapat membebaskan saudaranya itu. Atasannya mengirimnya untuk berbicara kepada gubernur, tetapi dia hanyalah minta supaya saudaranya itu diperlakukan secara adil. Karena alasan apa pun, Bruder Ignasius tidak akan pernah menghalang-halangi seseorang menjalankan tugas kewajibannya.

Kendati kesehatannya yang lemah, bruder Ignasius tetap bisa bekerja keras sampai usianya yang ke 80 tahun. Bahkan ketika menjadi buta, dia tetap melaksanakan tugas hariannya untuk berkeliling selama dua tahun. Hormat orang kepadanya bertambah besar dan banyak orang yang sakit dia sembuhkan secara ajaib.

Dia meninggal pada 11 Mei 1781 dan pada makamnya terjadi banyak mukjizat. Bruder Ignasius dibeatifikasi pada 1940 dan dikanonisasi tahun 1951.

PERIHAL MELEPASKAN PENDAPAT KITA SENDIRI
1. Renungkanlah bagaimana St. Ignasius menyingkirkan pendapatnya sendiri dan serta merta dengan jernih mengikuti perintah-perintah atasannya, kendati pada mulanya dia khawatir akan berbuat salah. Sudah menjadi ajaran umum para teolog, bahwa kita tidak hanya boleh, tetapi harus mengesampingkan pendapat kita, bilamana atasan kita yang sah memerintahkan hal yang sebaliknya, sejauh perintahnya itu tidak jelas-jelas merupakan dosa. Tetapi kita tidak usahlah mempertahankan pendapat kita mati-matian, bila kita bergaul dengan orang lain yang sensitif dan penuh pertimbangan. Dengan keras kepala bersitegang pada pemikiran-pemikiran kita sendiri, merupakan tanda yang jelas akan adanya kecongkakan, dan hal itu dapat menghantar kita ke jalan yang sesat. Thomas a Kempis (3:7) mengenai hal ini berkata: “Bila orang yang belum berpengalaman lebih suka ingin mengikuti pendapatnya sendiri, daripada mempercayakan diri pada orang lain yang lebih berpengalaman, maka akhir mereka akan celaka; lebih baiklah bila mereka itu menjauhkan diri dari keangkuhan mereka sendiri.” – Apakah kiranya engkau pun harus takut akan hasil yang sedemikian itu?

2. Renungkanlah bahwa kita, khususnya terhadap bapa pengakuan dan pembimbing rohani kita, harus mengesampingkan pendapat-pendapat kita sendiri. Kata-kata sang Rasul dapat dikenakan di sini: “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu” (Ibr 13:17). – Bila engkau menaati pimpinanmu laksana seorang anak dan dengan sikap yang patuh, dialah yang memikul tanggung jawab, bukan engkau. Dan sebagai seorang pimpinan yang penuh timbang rasa, dia tak kan takut mengganjar kamu selayaknya. Tetapi karena engkau bersitegang berpegang pada pendapatmu sendiri melawan nasehatnya, dan dia kadang kala membiarkanmu mengikuti pendapatmu itu, tetapi dengan menghela nafas dia akan berpikir perihal penilaian yang harus dia berikan terhadapmu, dan ternyata, sebagaimana Rasul menambahkan, “bagimu, hal itu tidaklah patut.”

3. Pertimbangkanlah bahwa, seperti St. Ignasius, kita tidak boleh menyerah pada pendapat atau mengikuti keinginan orang lain, bila kita dengan jalan itu harus melalaikan tugas atau membuat orang lain gagal dalam tugasnya. Karena itu Ignasius tidak minta hakim itu membebaskan saudaranya hanya karena kepentingan dirinya. Keadilan dan tugas mengatasi kesukaan manusia, dan keduanya tidak boleh dilanggar hanya karena kepentingan insani belaka. Sekali lagi kata-kata Rasul dikenakan di sini: “Kita haruslah lebih menaati Tuhan daripada manusia” (Kis 5:29). – Semoga Rahmat Allah selalu menyertai kita untuk menolong kita mengetahui bilamana kita harus meninggalkan pendapat kita sendiri, dan bilamana kita tidak boleh mengikuti pendapat orang lain.

DOA GEREJA
Ya Tuhan, yang menerangi setiap orang yang hidup di dunia ini; kami mohon, limpahkanlah ke dalam hati kami kecemerlangan rahmat-Mu, sehingga kami dapat mampu memikirkan pemikiran-pemikiran yang layak perihal keagungan-Mu dan berkenan pada-Mu, serta dapat selalu mencintai-Mu dengan tulus. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Sumber: The Fransiscan Book of Saints, ed. by Marion Habig, ofm, © 1959 Franciscan Herald Press. Diterjemahkan oleh P. Alfons S. Suhardi, OFM.