12 Mei – Santo Leopold Mandic dari Herzegovina

12 Mei
Santo Leopold Mandic dari Herzegovina
1866-1942

st-leopold-mandic-ofm

Pestanya dirayakan tgl 12 Mei. Herceg Novi (Castelnovo dalam bahasa Italia, Puri Baru dalam bahasa Indonesia), terletak di Bosnia-Hercegovina, dekat Kotor Bay, di tepi pantai Adriatic di Dalmatia. Wilayah itu pernah berada di bawah Kekaisaran Austrio-Hungaria. Saudara-saudara Kapusin dari Provinsi Venetia telah menanamkan kehadiran mereka di Herceg Novi pada 1688, mula-mula sebagai pastor angkatan laut, dan kemudian sebagai pengkhotbah. Mereka menyelenggarakan sebuah hospis (rumah singgah) kecil di Herceg Novi, bahkan sesudah jatuhnya Republik Venetia. Penduduk setempat terdiri atas berbagai macam bangsa, budaya dan agama yang berbeda-beda. Campuran kebangsaan dan kebudayaan itu meliputi pribumi Kroatia, orang-orang Yunani, Serbia, Bulgaria, Rusia dan Turki. Selain agama Katolik Roma, terdapat juga agama Ortodoks, Nestorian, Monophysit dan Islam. Saudara-saudara Kapusin dari Venetia itu memainkan peran yang menyebabkan semangat orang Katolik tetap membara.

Dalam keadaan sekitar yang sedemikian ituah, Bogdam Yohanes Mandich dilahirkan pada 12 Mei 1866. Dia adalah anak ke dua belas dan bungsu dari pasutri Carlotta Zarevich dan Petrus Mandich. Petrus itu keturunan keluarga bangsawan kuno di Bosnia. Ayahnya memilik sepasukan kapal penangkap ikan di laut Adriatik. Ibunya Carlotta adalah tuan puteri di Eleanor Bujovich. Terperangkap dalam jaringan kericuhan politik, keluarga itu telah kehilangan harta kekayaannya selama bertahun-tahun. Mula-mula Bogdan belajar menaruh empati pada mereka yang kehilangan martabatnya, baik sosial maupun moral. Dia pun dapat memahami kepedihan mereka, karena keluarganya sendiri juga mengalami hal yang sama. Dia selalu mengingat ibunya sebagai seseorang “kepada siapa saya sangat berhutang, sehingga saya menjadi seperti sekarang ini.”. Pada usia 16 tahun, tanggal 16 November 1882, Bogdan pergi ke Udine dan masuk Seminari dari para Kapusin Venesia. Pada 2 Mei 1884, dia menerima jubah di biara Bassano del Grappa (Vicenza), dan mengambil nama Leopold. Dia mengikrarkan profesi pertamanya pada 4 Mei 1885. Sedangkan profesi kekalnya diikrarkan di Padua pada 28 Oktober 1888.

Pada pertengahan tahun 1880-an, Uskup Joseph Juraj Strossmayer mulai suatu gerakan ekumenis dengan fokus pada kesatuan dalam perbedaan. Beliau pun mempersembahkan katedral Djakovo i Srijem (Bosnia) “demi kemuliaan Tuhan, ekumenisme gereja, dan damai serta kasih bagi umatku”. Leopold juga mempersembahkan diri untuk tujuan yang sama. Pada umur 24 tahun, tgl 20 September 1890, Leopold ditahbiskan menjadi imam di Venetia.

Berhubung Leopold tidak memiliki kewarga-negaraan Italia dan tidak mau mengingkari tanah airnya, selama Perang Dunia dia dibuang ke Italia selatan. Karena rindunya untuk kembali ke tanah airnya, dia berharap sesudah perang hal itu dapat terwujud. Dia berkeinginan untuk bekerja demi kembalinya orang-orang sebangsanya ke dalam Gereja Katolik. Kendati menjadi anggota Provinsi Venetia, Leopold selalu tetap ingin kembali ke bangsanya sendiri untuk melakukan pelayanan evangelisasi. Tetapi, sebenarnya Leopold tidak mampu berkhotbah, karena bicaranya lambat, terbata-bata dan dengan susah payah, nyaris gagap. Kesehatannya pun membutuhkan perhatian khusus. Tubuhnya pendek, bongkok, pucat dan sangat rentan. Penglihatan matanya lemah, perutnya sakit-sakitan dan menderita kelumpuhan pada sendi-sendinya. Kendati keinginannya yang besar untuk kembali ke tanah airnya untuk bekerja demi kesatuan gereja, pimpinan Kapusin berpendapat bahwa Leopold tidak cocok untuk pelayanan semacam itu dan mengangkatnya sebagai pelayan sakramen tobat. Kendati demikian, apa pun yang diperbuatnya, dia lakukan demi kesatuan Gereja. Berulang-ulang dia mendoakan “Satu kawanan, satu gembala”. Karena keyakinannya bahwa cintakasih merupakan cara untuk mempersiapkan jalan ke kesatuan, maka dia pun memutuskan untuk menjadi seorang bapa pengakuan yang baik di kamar pengakuan.

Dia mendengar pengakuan dosa selama 34 tahun. Dia selalu cepat, jernih, baik hati, siap sedia mengurbankan apa pun demi kebaikan dan pelayanan bagi orang lain. Di mana pun dia ditempatkan, selama bertahun-tahun, Leopold sangat dikagumi dan dicintai oleh orang-orang. Kendati tersembunyi dalam kegelapan kamar pengakuan, dia dikenal di mana-mana. Kendati temperamen Dalmatiannya yang keras, dia dapat mengendalikan diri; dia murah hati dalam pengampunannya dan tak pernah menimbulkan kesungkanan. Di antara Saudara-saudara Kapusin, Leopold menjadi sasaran kesalah-pahaman dan kritik yang negatif. Pelayanannya seringkali menghalangi dia hadir di pertemuan-pertemuan komunitas. Beberapa saudara dina berkeberatan terhadap kemurahan hati yang diberkan Leopold kepada para penitennya. Leopold mengubah tindakan pengakuan menjadi sebuah pengalaman akan martabat manusia, suatu pertemuan pribadi yang diwarnai oleh belas kasih, sikap hormat dan pengertian. Di sana setiap peniten mengalami belas kasih Tuhan dan kebaikan hati dari seorang imam. Pada suatu ketika Leopold mengingatkan, “Beberapa orang berkata bahwa saya terlalu baik hati. Tetapi bila engkau datang dan berlutut di depanku, bukankah itu sebuah tanda yang cukup bahwa engkau ingin memperoleh pengampunan dari Allah? Belas kasih Tuhan melampaui segala pengharapan.” Bila dituduh terlalu lunak dalam memberikan penitensi, Leopold akan menjawab: “Bila Tuhan mau mempersalahkan saya karena saya terlalu lunak terhadap para pendosa itu, akan saya katakan kepada-Nya bahwa Dialah yang memberikan contoh padaku, dan bahkan saya tidak sampai mati demi keselamatan jiwa-jiwa sebagaimana mana Dia.” Seringkali Leopold memperingatkan, “Tenanglah, letakkanlah segala sesuatu pada pundakku. Saya akan mengurusnya.” Dia pernah menjelaskan, “Saya memberi para peniten itu hanya penitensi yang ringan, karena sisanya akan kulakukan sendiri.” Pada malam hari dia akan berjam-jam berdoa, “Saya harus melakukan penitensi bagi para peniten saya”, jelasnya.

Kendati hidupnya yang keras berkat sifat bawaannya dan hidup keras gaya Kapusin, Leopold mempunyai hati yang besar, penuh dengan pengertian dan kepekaan. Dia sangat vokal perihal isu-isu pro-life dan sangat menolong dengan memberikan saran-saran kepada seorang guru untuk menemukan “Rumah-rumah Sederhana” bagi yatim piatu, supaya mereka ini dapat mengalami cinta kasih dari orang tua. Barangkali penitensi pribadinya yang paling berat adalah bahwa dia harus hidup dalam kamar yang begitu sangat sempit, yang pada musim dingin menjadi laksana lemari es dan pada musim panas bagaikan oven.

Leopold mempunyai devosi yang mendalam kepada Bunda Maria, yang dipanggilnya (dalam dialek Venetia), “Parona benedeta” (yang berarti “bos saya yang suci”). Dia merayakan Ekaristi hariannya di altar samping yang dipersembahkan bagi Maria yang Terkandung Tanpa Noda, mendoakan Ibadat Harian Kecil bagi Santa Perawan Maria, dan sangat sering mendoakan rosario. Dia juga mempunyai kasih yang khusus bagi ibu yang sedang hamil dan bagi anak-anak. Dia mengunjungi orang-orang sakit, di Padua dan wilayah sekitarnya, dalam rumah-rumah perawatan dan rumah-rumah pribadi. Dia sering mengunjungi rumah sakit Kapusin untuk menghibur mereka yang sakit dan saudara-saudara dina yang sudah uzur. Yang selalu dikatakan berulang-ulang adalah, “Berimanlah! Berimanlah!” Bagi para dokter dia juga mempunyai daya pikat tersendiri, karena dia sangat sering mengingatkan mereka, “Tuhan adalah dokter dan obat itu sendiri.” Pernah dikatakan kepada seorang imam, “Seorang imam harus mati karena kerja kerasulan yang berat; tidak ada jenis kematian lain yang lebih layak bagi seorang imam.”

Kanker pada kerongkongannya menghantar Leopold ke kematian. Pada 30 Juli 1942, dia roboh terjatuh pada lantai sakristi ketika dia sedang mengenakan pakaian misa. Dia dibawa ke kamarnya dan di sana dia menerima sakramen orang sakit. Para saudara dina berkumpul dalam kamarnya dan mulai mendoakan “Salve Regina” bersama dengan Leopold. Ketika mereka sampai pada kata-kata “O yang lemah lembut, penuh cinta, O Santa Perawan Maria”, Leopold pun meninggal dunia. Dia berusia 76 tahun: 60 tahun menjadi Kapusin dan 52 tahun dalam imamatnya.

Ketika terjadi bombardemen selama Perang Dunia II, kamar Leopold dan kamar pengakuannya terselamatkan, kendati gereja dan bagian biaranya hancur lebur. Leopold telah meramalkannya, “Gereja dan biara akan terkena bom, tetapi tidak kamar yang demikian sempit ini. Di sinilah Tuhan telah melimpahkan kemurahan hati-Nya kepada banyak orang; ini harus tetap menjadi monumen akan kebaikan Tuhan.” Paulus VI memberikan beatifikasi kepada Leopold pada 2 Mei 1976. Dia dikanonisasi oleh Yohanes Paulus II pada 16 Oktober 1983 waktu sinode Para Uskup, yang sedang membahas tema rekonsiliasi. Leopold diberi gelar “Rasul Kesatuan”.

Sumber: Capuchin Order, San Franciscan, California. Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM.