30 Mei – St. Ferdinandus

30 Mei
St. Ferdinandus,
Raja, Ordo III
1199-1252

ferdinand

Dilahirkan dekat Salamanca, Spanyol, sekitar tahun 1199; meninggal di Sevilla, Spanyol, pada 30 Mei 1252; dikanonisasi pada 1671 atas permohonan Philipus IV. Dia adalah anggota Ordo III Fransiskan. Ferdinand adalah putera Alphonso IX, raja León, dan Berengaria, puteri sulung dari Alphonso III, raja Castile. Neneknya dari garis ibu adalah puteri dari Henrikus II raja Inggris, dan saudarinya, Blanche, menjadi ibu dari Santo Louis, raja Perancis.

Kematian Henrikus, saudara dari Berengaria, pada 1217 membuat Berengaria menjadi ahli waris takhta Castile, tetapi dia menyerahkan haknya itu kepada Ferdinand yang ketika itu berumur 18 tahun. Dia ini keras, tetapi penuh pengampun, penguasa yang tak mengenal lalai dan seorang administrator yang ulung. Uskup Agung Toledo, Rodrigo Ximenes, adalah anggota dewan Castile dan menjadi penasehatnya selama bertahun-tahun. Ferdinand menikah dengan Beatrice, puteri raja Philipus dari Swabia pada 1219.

Karena kematian ayahnya pada 1230, Ferdinand menjadi raja León. Dalam hal ini muncullah perlawanan, karena terdapat pendukung-pendukung untuk tuntutan dua saudari tirinya, tetapi dia berhasil mempersatukan kedua kerajaan itu dan dengan demikian dapatlah dia merebut kembali daerah-daerah dari kekuasaan orang-orang Moors (Muslim). Dia berjuang melawan orang-orang Moors tanpa henti selama 27 tahun dan dia pun sangat berhasil menarik simpati dan hormat dari antara rakyatnya. Dia menguasai kembali sebagian besar dari Andalusia, termasuk Ubeda, Cordova (1236), Murcia, Jaen, Cadiz dan Sevvilla (1249).

Dalam pertempuran Xereslah, ketika Spanyol hanya kehilangan 10 sampai 12 orang, bahwa St. Yakobus (Santiago) diberitakan telah memimpin pasukan dengan kuda putih. Kronik St. Yakobus merupakan sumber utama bagi keberhasilan Ferdinand. Perjuangan militer Ferdinand tidaklah begitu berdasarkan alasan-alasan imperialis, melainkan terdorong oleh kerinduan untuk menyelamatkan orang-orang Kristiani dari kekuasaan orang-orang kafir.

Kendati dia adalah seorang pejuang perang, dikatakan tentangnya bahwa “dia lebih takut pada kutukan seorang wanita tua dari pada segenap pasukan tentara Moors.” Dalam rangka bersyukur atas kemenangan-kemenangannya, Ferdinand mendirikan kembali katedral di Burgos dan mengubah mesjid besar Sevilla menjadi sebuah gereja. Dia mengembalikan lonceng-lonceng Katedral Santiago de Compostella yang telah dirampas oleh orang-orang Moors.

Begitu orang-orang Moors dan Yahudi menyerahkan diri, dia memberlakukan sikap toleran dan mendorong para Saudara Dina untuk menobatkan mereka. Dia pun mendirikan Universitas Salamanca yang terkenal itu pada 1243. Ketika Beatrice meninggal dunia, dia menikahi Yohana dari Ponthieu. Berkat isterinya yang kedua ini, dia menjadi ayah dari Eleanor, yang kemudian menjadi isteri raja Edward I dari Inggeris. Sungguh menariklah untuk mencatat bahwa setelah meninggal dunia dia dimakamkan dalam jubah Fransiskan di katedral Sevilla. Pada saat kematiannya orang kebanyakan sudah menganggapnya seorang santo, tetapi pengakuan kanonik baru terjadi 400 tahun kemudian.

Raja St. Ferdinand digambarkan dalam seni lukis sebagai seorang ksatria bermahkota bersama dengan seekor anjing pacuan. Dia berpakaian kebesaran seorang raja, salib pada dadanya, dan anjing pada kakinya (Roeder). Dia menjadi pelindung orang-orang yang memegang kekuasaan (penguasa, gubernur, magistrat dan sebagainya), karena keputusan-keputusannya yang bijak; pelindung orang-orang miskin dan tawanan (yang berada di bawah pemerintahan orang-orang semacam itu); pelindung para insinyur (karena kepiawaiannya dalam bidang tehnik), dan pelindung Angkatan Perang Spanyol.

Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM.