27 November – B. Umile (Humilis) di Bisignano

27 November
B. Umile (Humilis) di Bisignano
1582-1637

Umile de Bisignano (1582-1637) termasuk “orang dina” yang dipilih Tuhan untuk mengacaukan “orang-orang bijak” dan “orang-orang berkuasa” dunia ini. Karena itu, Bapa mengungkapkan misteri kedinaannya ini kepada Fransiskan di Bisignano, karena dia telah membiarkan dirinya ditangkap oleh cinta Allah dan menerima kuk salib yang lembut itu, yang baginya selalu merupakan sumber kedamaian dan penghiburan.

Dia  adalah anak dari Giovanni Pirozzo dan Ginevra Giardino, yang lahir pada 26 Agustus 1582 di Bisignano (Cosenza, Italia) dan pada waktu dipermandikan mendapatkan nama Luca Antonio. Sejak masa kanak-kanaknya dia membuat orang takjub karena kesalehannya yang luar biasa. Dia merayakan Misa Kudus setiap hari, menyambut komuni pada semua Hari Raya dan merenungkan sengsara Tuhan, bahkan sementara dia bekerja di ladang. Setelah dia menjadi anggota Perkumpulan Bunda Maria Dikandung Tak Bernoda, dia menonjol bagi anggota-anggota lainnya sebagai seorang telada semua keutamaan. Selama proses kanonik pengudusannya, diceriterakan bagaimana dia membalas seseorang yang telah menampar mukanya dengan sangat keras di lapangan terbuka, dengan hanya memberikan  pipinya yang lain dengan rendah hati. Pada umur sekitar delapan belas tahun dia merasa dirinya dipanggil Tuhan untuk menjalani hidup bakti, tetapi, karena berbagai alasan, dia harus menunda selama sembilan tahun pelaksanaan panggilannya ini. Namun penundaan itu tidaklah menghalanginya untuk menjalani hidup yang lebih keras dan dengan semangat yang lebih berkobar lagi.

Ketika dia masuk novisiat Saudara-saudara Dina di Mesoraca (Crotone), dia berumur dua puluh tujuh tahun. Pada waktu itu pendidikan bagi orang-orang muda di biara Fransiskan itu dipercayakan pada dua orang religius yang suci: Sdr. Antonio de Rossano, sebagai Magister para Novis, dan Sdr. Cosimo de Bisignano, sebagai Gardian Biara itu. Umile mengikrarkan profesi religiusnya pada 4 September 1610, setelah dia mengatasi tidak sedikit kesulitan-kesulitan berkat perantaraan Santa Perawan Maria.

Dengan kesederhanaan dan ketekunan, dia melaksanakan tugas-tugas khusus yang biasanya diserahkan kepada religius bukan imam, seperti mengemis mengumpulkan dana, menghadiri Misa Komunitas, mengurus kebun dan pekerjaan-pekerjaan tangan lainnya yang dipercayakan oleh atasan kepadanya.

Sejak masa novisiatnya dia menonjol dalam hal kematangan rohani dan semangatnya dalam hal menaati Anggaran Dasar. Dengan penuh keberanian dia memasuki doa dan pikiran-pikirannya selalu berpusatkan pada Allah. Dia taat, rendah hati dan bersikap ramah. Dengan penuh kegembiraan dia ambil bagian dalam berbagai kesempatan hidup komunitas. Sesudah profesi religiusnya dia semakin memperkuat komitmennya pada jalan kekudusan. Dia melipat gandakan matiraga, puasa  dan semangatnya dalam melayani Allah dan komunitas. Kemurahan hatinya membuat dirinya dicintai oleh semua orang, baik saudara-saudara dina, orang-orang yang lewat maupun orang miskin yang dia tolong dengan membagikan kepada mereka semua yang dia terima karena Penyelenggaraan Ilahi. Dia menerima banyak anugerah karismatis dan semua itu dipergunakannya untuk mempermuliakan Allah, membangun Kerajaan Kristus dalam jiwa-jiwa dan menghibur orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Sejak masa mudanya dia telah memiliki anugerah ekstase yang terus menerus, sampai-sampai dia dinamakan “Saudara Dina yang Ekstase”. Ekstase-ekstase ini menyebabkan dia menderita sederetan panjang pencobaan-pencobaan dan penghinaan yang diberikan para atasannya dengan maksud mendapatkan kepastian bahwa ekstase-ekstase itu sungguh datang dari Tuhan dan di dalamnya tidak terdapat tipu daya setan.  Pencobaan-pencobaan semacam itu, yang dihadapi dan diatasi dengan bahagia, menambah keharuman kesuciannya di antara para saudara dina dan orang-orang asing.

Dia diberkati dengan anugerah-anugerah luar biasa: dapat membaca hati orang lain, bernubuat, mukjizat dan khususnya pengetahuan yang dicurahkan oleh Allah. Kendati dia itu buta huruf dan tanpa pendidikan, namun dia mampu menjawab persoalan-persoalan perihal Kitab Suci dan perihal apa pun dari ajaran Katolik dengan ketepatan yang mencengangkan para ahli teologi. Pada berbagai kesempatan dia diuji oleh sebuah dewan yang terdiri atas imam-imam religius dan praja, dikepalai oleh Uskup Agung dari Reggio Calabria, yang mengemukakan keragu-raguan dan keberatan-keberatan; oleh berbagai profesor dari kota Cosenza; oleh Penyidik Msgr. Campanila dari Napoli, dan dihadiri oleh Pater Benedetto Mandini dan saudara-saudara lainnya. Namun Sdr. Humilis ini selalu memberikan jawaban dengan sedemikian bijak sehingga mencengangkan mereka yang mengujinya.

Mudahlah untuk memahami bahwa dia memperolah penghargaan di mana-mana. Sdr. Benigno Genova, Minister General Ordo, membawanya sebagai pendamping pada visitasi kanoniknya ke para Saudara Dina di Calabria dan Sisilia. Dia pun memperoleh kepercayaan dari Sri Paus Gregorius XV dan Urbanus VIII, yang memanggilnya ke Roma dan, setelah mengujinya dengan saksama dan berat, mengangkat sdr. Humilis ini menjadi pendoa dan penasehat mereka. Dia bertahun-tahun tinggal di Roma dan hampir selalu tinggal di biara St. Fransiskus di Ripa dan selama beberapa bulan di biara St. Isidorus. Dia juga untuk beberapa waktu tinggal di biara Salib Suci di Napoli, dan di sana dia dengan sangat bermurah hati menyebarkan penghormatan kepada B. Yohanes Duns Scotus, yang dihormati khususnya di keuskupan Nola.

Sekitar tahun 1628 dia memohon diizinkan “pergi menderita” di daerah misi. Setelah permohonannya itu ditolak oleh atasannya, dia tetap mengabdi Kerajaan Allah di antara umatnya sendiri, dengan merawat dan memperhatikan orang-orang yang berkebutuhan, yang tersingkir dan terlupakan (VC 75).

Hidupnya adalah “suatu doa tanpa henti bagi segenap umat manusia”. Doanya sangatlah sederhana, tetapi mengalir hari hati. Atas pertanyaan dari Sdr. Dionisio de Canosa, bapa pengakuannya selama bertahun-tahun dan penulis biografinya yang pertama, perihal apa yang dia mohon kepada Tuhan selama doanya yang berjam-jam itu, dia menjawab: “Satu-satunya yang kukatakan kepada Tuhan adalah ‘Tuhan, ampunilah dosa-dosa segenap umat manusia dan buatlah mereka mencintai-Mu sebagaimana mereka seyogyanya mencintai-Mu’!”

Dia selalu siap sedia menaati, penuh keberanian dalam menjalani kemiskinan, hangat dalam menjalani hidup kemurnian yang penuh kegembiraan, Sdr. Humilis menapaki jalan terang yang membawanya kepada kontemplasi atas Cahaya Ilahi pada 26 November 1637 di Bisignano, yakni “tempat di mana dia telah pernah menerima jiwa rahmat” (LM 14:3a) dan dari situ “dia menyinari dunia dengan mukjizat-mukjizat yang begitu banyak” (1Cel 118a).

Dia dibeatifikasi oleh Leo XII pada 29 Januari 1883.

Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM.