1 September – B. Beatrice da Silva

1 September

B. Beatrice da Silva
1425-1490

RIWAYAT HIDUPNYA
Beatrice lahir dari keluarga Portugis di Ceuta di tanah Maroko dan memancarkan suatu ikatan khusus pada Bunda Maria Tak Bernoda semenjak masa mudanya. Di lingkungan istana raja Castile, dia dituduh dan dijebloskan ke dalam penjara oleh seorang ratu yang dilanda cemburu, tetapi berkat campur tangan yang nyata dari Ratu Surga Yang Tak Bernoda, dia dibebaskan dan namanya dipulihkan dengan hormat yang besar. Kemudian dia meninggalkan istana itu dan pergi ke Toledo. Di tengah perjalanannya ke sana itu St. Fransiskus dan St. Antonius menampakkan diri kepadanya dan menyatakan bahwa dia akan menjadi seorang pendiri tarekat yang baru.

Di Toledo dia mengundurkan diri ke sebuah biara Suster-suster Cistersian dan tinggal di sana selama hampir 40 tahun. Dia tidak mengenakan jubah religius; namun demikian dia adalah contoh kesempurnaan seorang religius. Selangkah demi selangkah terbentuklah keyakinan yang pasti untuk mendirikan sebuah ordo religius yang baru, yang akan menghormati Bunda Allah yang Tanpa Noda. Bersama dengan dua belas orang teman yang memiliki semangat yang mirip dengannya, dia memisahkan diri pindah ke sebuah rumah terpisah. Beatrice menulis Anggaran Dasarnya dan mohon Paus Innocentius VIII untuk mengesahkannya. Ini terjadi pada tahun 1489.

Beberapa tahun sebelumnya Santa Perawan telah menampakkan diri kepadanya, bahwa dia hendaknya mengenakan sebuah jubah yang terdiri atas sebuah tunik putih, sekapulir dan mantol yang berwarna biru muda. Inilah permulaan Ordo Maria Dikandung Tanpa Noda (the Order of the Immaculate Conception), yang juga terkenal sebagai Suster-suster Klaris Konsepsionis (the Conceptionist Poor Clares).

Seluruh hidup sang pendiri ini dibentuk sesuai dengan Anggaran Dasar religiusnya. Anggaran Dasar itu sendiri dapat diringkas menjadi tuga buah moto: diam dan menyerahkan diri dalam segala hal yang terjadi pada kita karena itu sudah diatur oleh Tuhan atau yang diminta dari kita karena ketaatan suci; menjadi kecil pada mata Allah, mata dunia dan mata kita sendiri, dan lebih memilih hidup yang tersembunyi; mencintai setiap orang dengan cinta suci, dan menjadi segalanya bagi semuanya melalui doa, pengurbanan dan pekerjaan.

Pada usia 65 tahun, Muder Beatrice meninggal dunia pada 1490, satu tahun setelah ordonya berdiri. Paus Pius XI memasukkannya ke dalam daftar para beata. Suster-suster Klaris Konsepsionis itu dipersatukan dalam Ordo Fransiskan dan segera tersebar ke seluruh Eropa dan Amerika. Berkat usaha-usaha seorang Uskup Fransiskan, Amandus Bahlmann dari Santarem, sebuah cabang dari ordo ini yang bernama Misionaris Bunda Maria yang Dikandung tanpa Noda (Missionaries of the Immaculate Conception), melaksanakan karya-karya yang menakjubkan, khususnya di daerah-daerah misi di Brasilia. Rumah induknya ada di Patterson, New Jersey.

PERIHAL KESIA-SIAAN DUNIA

  1. Renungkanlah bahaya yang digelar oleh dunia kepada kita. Hormat dan kekayaan merangsang nafsu yang lebih rendah dan menggoda kita untuk sombong dan melupakan Tuhan. Beata Beatrice telah mengikuti nasehat yang baik ketika dia menyelamatkan diri dari kesia-siaan dan memilih untuk hidup dalam ketarakan. Kata-kata Kitab Suci dapat dikenakan pada banyak orang yang sering berkelit dalam kesia-siaan duniawi: “berikanlah kepadanya siksaan dan perkabungan, sebanyak kemuliaan dan kemewahan, yang telah ia nikmati” (Why 18:7). – Janganlah membiarkan dirimu terperosok ke dalam perangkap.
  2. Kesia-siaan dunia itu fana. Telah tertulis: “Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia” (Ams 31:30). Apakah yang akan menjadi akhir dari kesia-siaan dunia ini? “Mereka terbuat dari tanah dan ke tanah pula mereka semua akan kembali” (Pkh 3:20). Karena itu, Orang Bijak berkata: “Mengapa tanah dan debu itu berbangga-bangga?” (Pkh 10:9). Beata Beatrice telah berbuat dengan bijak ketika mengucapkan selamat tinggal kepada semua kesia-siaan itu. – Sering ingatlah kembali akan kata-kata yang dipergunakan Gereja pada hari Rabu Abu: “Ingatlah manusia, bahwa engkau ini debu dan akan kembali menjadi debu.”
  3. Renungkanlah bahwa mempersembahkan diri pada Kebaikan yang tak terbatas itu merupakan hal terbaik yang dapat kita perbuat. Beata Beatrice telah berbuat demikian. Segalanya bagi Tuhan, itulah semboyanya. Di dalamnya dia menemukan kedamaian dan kepuasan batin selama persinggahannya di bumi, dan dalam dunia yang akan datang akan memiliki Kebaikan yang tertinggi dalam kebahagiaan yang kekal. Benarlah Thomas a Kempis ketika dia menulis: “Segalanya itu kesia-siaan, kecuali mencintai Allah dan mengabdi pada-Nya saja.” Uskup Fransiskan, Clement XIV, pada kesempatan pengangkatan para kardinal, menulis: “Saya memperhitungkan martabat ini laksana sebuah kumpulan huruf-huruf pada batu nisan yang tak bermanfaat bagi dia yang berbaring di bawahnya.”

DOA GEREJA
Dengarkanlah kami, ya Allah, sumber segala berkat kami, supaya kami yang bergembira dalam merayakan pesta perawan-Mu Beata Beatrice, dapat dimuliakan dalam cita rasa dan didorong untuk mencintai kerendahan hati. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Sumber: The Franciscan Book of Saints, ed. by Marion Habig, ofm., © 1959 Franciscan Herald Press. Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM