26 September – St. Elzearius dari Sabran dan B. Delphina dari Glandeves

26 September
St. Elzearius dari Sabran

RIWAYAT HIDUPNYA

St. Elzearius dilahirkan pada 1285 dan termasuk keluarga bangsawan ternama. Ayahnya adalah kepala trah Sabran di Perancis Selatan dan pangeran dari Ariano di kerajaan Napoli. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat saleh, yang, karena kemurahan-hatinya kepada orang miskin, menjadi terkenal sebagai pangeran wanita yang baik. Elzearius adalah anak sulungnya. Setelah dipermandikan, sang ibu membopongnya dan mohon kepada Tuhan untuk memanggilnya dari dunia ini, bila saja Tuhan melihat bahwa jiwa anak ini akan tercemari oleh dosa. Berkat air susu ibunya, dia ikut teresapi oleh roh kesalehan, karena sejak masa bayinya dia sudah nampak selalu manis, lembut dan sederhana, tanpa gurat kecengengan apapun dalam kesalehannya itu. Dia ramah terhadap setiap orang, dan khususnya sangat bersikap hormat kepada orang miskin. Ketika dia baru berumur 13 tahun, dia sudah menjalani matiraga jasmani yang keras untuk menjaga supaya tubuh tetap berada dibawah kendali roh.

Memenuhi kehendak raja Napoli, yang adalah juga Penguasa di Perancis Selatan, kendati masih sangat muda dia menikahi Puteri Delphina dari keluarga Glandeves. Pada hari pernikahan mereka, kedua pengantin itu mengucapkan janji keperawanan kekal, dan tetap menjaga hidup seperti kakak dan adik sampai hari kematian mereka.

Ketika ayahnya meninggal dunia, Elzearius, yang waktu itu berusia hanya 23 tahun, mewarisi titel martabat ayahnya. Dia berpendapat, merupakan tugas sucilah untuk menyelenggarakan bagi rakyatnya kesejahteraan duniawi dan terutamanya kesejahteraan rohani. Di atas segalanya dia sangat cermat berusaha supaya hukum Allah dan hukum Gereja dilaksanakan dalam wilayahnya. Orang-orang miskin memperoleh perhatian khusus dari dirinya. Setiap hari dua belas orang dari mereka itu makan malam pada mejanya, bersama dia dan para pangeran puteri. Dalam tingkah lakunya tenang dan penuh penguasaan diri. Luka hati pribadi tidak terdapat dalam dirinya. Bila seseorang berulang-ulang mengatakan kepadanya sesuatu yang tidak menyenangkan, yang dikatakan oleh seseorang perihal dirinya, dia bahkan tidak menanyakan siapakah yang mengatakan hal itu. Dia hanya menjawab: “Hal-hal yang lebih jelek dikatakan orang perihal Kristus.”

Ketika dia pergi ke Italia dalam kedudukannya sebagai Pangeran dari Ariano, didapatinya bahwa bawahannya yang berbangsa Italia itu tidak semua bersedia menerima kekuasaan Perancis. Hal itu berlangsung selama beberapa tahun. Orang manyarankan kepadanya untuk bertindak keras terhadap orang-orang yang membangkang itu, tetapi dia tidak menyetujuinya. Dalam kurun waktu empat tahun dia berhasil memenangkan hati rakyatnya itu berkat kelemah-lembutan dan kasih sayangnya. Dan semua orang pun memandangnya sebagai seorang ayah.

Ketika dia mau pergi kembali ke Perancis, rakyatnya mempersiapkan pesta besar baginya. Delphina sangatlah berbahagia, dan pasangan yang saleh ini pun bergabung dalam Ordo Ketiga St. Fransiskus dengan maksud supaya semakin dipersatukan dengan erat pada Allah. Elzearius melipat gandakan tingkah laku kesalehannya. Setiap hari dia mendoakan Ibadat Harian sebagaimana dilakukan oleh para Imam, mencambuki tubuhnya dengan keji, dan merawat orang sakit dengan kasih dan hormat sedemikian besar, seolah-olah dia sedang melakukan pelayanan itu kepada Kristus sendiri.

Tuhan menganugerahkan kepadanya anugerah mukjizat-mukjizat, dan dia menyembuhkan beberapa orang yang mengidap sakit kusta. Dengan doanya dia juga memulihkan kesehatan putera Pangeran dari Grimoard, yang adalah anak baptisnya. Pada kesempatan itu, Elzearius berkata kepada si ayah itu bahwa anaknya itu pada suatu hari akan diangkat menjadi salah seorang yang berkedudukan tinggi dalam Gereja. Kelak anak itu menjadi Paus Urbanus V.

Kendati terlibat dalam banyak kegiatan kesalehan, Elzearius tidaklah pernah melalaikan tugas-tugas duniawinya. Dia pernah harus menghabiskan beberapa tahun dalam istana Raja Robert yang suci dari Napoli. Di sana dia membuktikan keberanian dan bakatnya sebagai pimpinan pasukan tentara dan menteri dalam negeri.

Ketika diutus ke istana Paris untuk mengurusi masalah negara, dia tertimpa penyakit keras. Dengan kejernihan yang sama yang dia hayati selama hidupnya, dia memperisapkan diri menghadapi kematian. Dia pun membuat pengakuan dosa umum yang melingkupi sepanjang hidupnya, menerima sakramen terakhir disertai hormat mendalam laksana malaikat, dan akhirnya meninggalkan kehidupan dunia ini dalam usianya 40 tahun, pada 27 September 1323. Karena banyaknya mukjizat yang terjadi pada makamnya dan permohonan yang mendesak dari raja Perancis dan Napoli, maka Paus Urbanus V, putera baptisnya, dengan penuh sukacita memberikan kanonisasi kepadanya pada 1369.

DOA GEREJA

Ya Allah, yang telah menghiasi St. Elzearius, Pengaku Iman-Mu, dengan keutamaan keperawanan di dalam hidup pernikahannya bersama dengan keutamaan-keutamaan lainnya, anugerahkanlah dengan murah hati sehingga kami yang merayakan peringatan kudusnya ini di dunia, dapat memperoleh kebahagiaan di surga bersama dengannya. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Sumber: The Franciscan Book Of Saints, ed. by Marion Habig, ofm., © 1959 Franciscan Herald Press.

26 September
B. Delphina dari Glandeves

RIWAYAT HIDUPNYA

B. Delphina adalah puteri tunggal Pangeran William dari Glandeves di Perancis Selatan yang kaya raya. Dia kehilangan kedua orang tuanya ketika dia baru berumur 7 tahun. Anak yatim piatu kecil ini pun lalu diterima dalam sebuah sekolah biara yang abdisnya adalah bibinya sendiri. Di sana dia menerima pendidikan yang jempolan dalam takut pada Tuhan dan dalam segala sesuatu yang menyangkut tingkat martabatnya yang tinggi itu.

Delphina telah mempersembahkan dirinya sendiri kepada Allah dengan kaul keperawanan, ketika Raja Karolus II memilihnya sebagai pengantin bagi Elzearius. Karena bingung dan galau, Delphina mencari perlindungan pada Bunda Santa Perawan Maria, karena kepada pemeliharaan keibuannyalah dia telah mempercayakan diri sepenuhnya. Bunda kita pun kemudian menampakkan diri kepadanya dan menenangkannya dari ketakutan. Delphina lalu menyetujui perkawinan itu yang kemudian dirayakan dengan kemeriahan besar di hadapan sang raja dan Uskup Agung dari Aix. Kemurnian dan ketulusan suci dari sang isteri itu memenuhi Elzearius dengan cinta yang sedemikian besar sehingga dia membuat nazar untuk berlaku sebagai pelindung keperawanannya dan sepanjang hidupnya kaul ini dipenuhinya dengan setia. Mereka hidup bersama laksana dua malaikat; yang satu mendorong yang lain untuk semakin berkobar dalam cinta mereka kepada Tuhan.

Delphina mempersembahkan dirinya sepenuhnya dalam pemeliharaan rumah tangganya. Para pelayan, yang harus dia pertahankan berhubung dengan tingkat martabatnya yang tinggi itu, diajarinya dalam kesalehan dan takut pada Allah. Mereka semua diperhatikannya secara pribadi dengan saksama dan dicintainya seolah-olah mereka itu adalah anak-anaknya sendiri. Mereka pun lalu mencintai dan menghormati sang puteri ini bagaikan ibu mereka sendiri, kendati dia itu masih sangat muda.

Elzearius meninggal dunia dalam perjalannya ke Paris dalam tugas demi kepentingan raja. Ketika Delphina mendengar berita duka itu, dia pun menangisinya dengan getir. Kendati demikian dia pun berdoa: “Tuhan dan Allahku, kehendak suci-Mulah yang hendaknya terjadi!” Didorong oleh roh Tuhan untuk bergerak ke kesempurnaan yang semakin agung, dengan segera dia melepaskan semua harta benda duniawinya dan menambahkan pada kaul keperawanannya sebuah kaul kemiskinan yang suci.

Kemasyhuran hidup suci dari Delphina mendorong Ratu Eleonora dari Sisilia mengangkatnya menjadi kepala urusan rumah tangga istanya. Delphina demikian mengubah tata susila gampangan dalam istana itu sehingga menjadikan istana itu bagaikan sebuah tempat peziarahan suci. Dia masih hidup banyak tahun lagi, dan terus membangun harkat kebangsawanan istana itu dengan contoh keutamaannya yang cemerlang. Dia meninggal dunia dengan kematian yang suci pada 1358 pada usia 74 tahun. Makamnya berada di samping makam suaminya di kota Apt di Perancis Selatan. Berkat banyak mukjizat yang terjadi, hormat kepadanya pun semakin bertumbuh besar dan kemudian Paus Urbanus V dengan meriah mengesahkan penghormatan terdapanya.

DOA GEREJA

Ya Allah, yang, di samping keutamaan-keutamaan lain, telah menghiasi Beata Delphina, hamba-Mu, dengan kemurnian keperawanan dalam status perkawinannya, anugerahkanlah dengan murah hati, bahwa kami yang dengan penuh kesalehan merayakan pestanya di dunia ini, dapat sampai dengan selamat pada persekutuan terberkati dengan dia. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Sumber: The Franciscan Book Of Saints, ed. by Marion Habig, ofm., © 1959 Franciscan Herald Press. Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM.