Perjalanan Bersama (Bagian 7 – terakhir)

[tab name=”Berita”]

Malam terakhir di Vancouver saya gunakan untuk menyelesaikan satu-dua reportase ini. Dengan begitu, saya baru berangkat tidur pada dini hari. Hal ini saya pilih agar dalam perjalanan pulang ke Indonesia, yang akan memakan waktu 19 jam plus menunggu saat transit di Taipei 2 jam, saya dapat beristirahat di pesawat.

Sebelum Delri naik ke kamar masing-masing disepakati: besok sarapan bersama di bar “subway”. Lalu, berkemas, dan pk. 11 check out. Kopor-kopor akan diusung ke KJRI. Sementara itu, Delri terbagi dalam 3 kelompok. Satu, shopping. Dua, shopping. Tiga, shopping.

Bersama Joas Adiprasetya, Jamhari Makruf, Muhamad Antoni (wartawan senior Kantor Berita Antara), saya pergi ke Stenley Park dengan mobil dan sopir dari KJRI. Setelah foto dan keliling taman, kami ke Mall besar di bilangan Richmond.

Jadi, tak satu pun anggota Delri yang melaksanakan sholat Jumat. Malahan anggota Delri pergi ke Mall untuk menikmati Black Friday, yakni kesempatan untuk berbelanja dengan diskon mencapai 70% untuk sebagian terbesar “items”. Inilah cara Amerika Serikat melakukan cuci gudang, memupuk semangat membeli dan membeli, yang tidak lain adalah gaya konsumeristis pada satu hari Jumat menjelang Christmas.

Menarik sekali mengamati pola perilaku konsumen, yang mengesankan keranjingan dan tersihir untuk berbelanja. Kendati kebiasaan “black Friday” ini berasal dari Amerika Serikat, namun toko-toko di Canada juga menerapkan “black Friday”. Konon, dahulu banyak warga Canada pergi Amerika Serikat untuk berbelanja dengan harga miring pada saat “black Friday”. Dngan demikian, keuntungan berlari dan masuk ke pundi-pundi pedagang di Amerika Serikat. Maka itu, daripada profit menjauhi Canada, maka para pedagang Canada mempulerkan “black Friday” Amerika Serikat di Canada.

Secara pribadi saya tidak tertarik untuk belanja apa pun. Bukan karena tidak ada uang! Bukankah di saku saya masih ada 2000an USD? Saya hanya tertarik untuk membeli beberapa bungkus “alder smoked pacific salmon” dan coklat untuk dibawa ke Indonesia.

Jadi, sepanjang siang hingga sore kami (berempat) menghabiskan waktu untuk jalan dan jalan. Tetapi sore menjelang petang, saya mempunyai acara khusus, yakni “omong-omong” dengan sejumlah Umat Katolik Indonesia British Columbia (UKI BC). Sekitar pk 18.00 saya dijemput Bpk. Frans untuk menjumpai UKI BC.

BERBAGI DI UKI BC
Ada sekitar 8 keluarga Katolik asal Indonesia yang berkumpul untuk menjumpai saya. Tidak banyak, memang! Tetapi anggota UKI BC tercatat sekitar 600-700 orang. Sedikitnya jumlah warga yang datang dan berkumpul disebabkan terutama acara ini relatif mendadak (meskipun sesungguhnya “tidak terlalu mendadak juga”). Mungkin karena Sdr. Eddy Kristiyanto yang datang ke Vancouver ini bukan sosok yang terkenal.

Memang, tak seorang pun anggota UKI BC yang mengenal saya dan yang saya kenal. Berbeda halnya dengan Johanes Indrakusuma, Deshi Ramadhani, Robby Wowor, Kees van Dijk, Pidyarto, Indra Sanjaya, dll. Nama-nama ini pernah didatangkan dari Indonesia oleh UKI BC. “Nah, saya kan ke Vancouver bukan atas undangan UKI BC. Tetapi anggota UKI BC “menangkap dan memanfaatkan” saya, ketika saya sedang di Vancouver atas prakarsa Kemlu-Kemenag R.I.”

Setelah makan malam bersama di salah satu rumah anggota UKI BC, acara BERBAGI dimulai. Saya menjelaskan apa yang saya presentasikan di SFU. Kemudian, hadirin menanggapi, bertanya macam-macam soal berkenaan dengan situasi Gereja Katolik di Indonesia, kebijakan pemerintah, relasi antar umat beragama, dan soal-soal pengetahuan iman yang beraifat praktis.

Seluruh pertemuan dengan UKI BC ini berakhir pk 22.08. Setelah doa dan berkat, Bpk. Frans mengantar saya ke Bandara. Di sini saya berjumpa dengan anggota rombongan Delri yang diantar dari KJRI. Kami akan kembali ke Jakarta dengan maskapai China Airlines, yang akan take-off pk. 01.45, Sabtu, 30 November.

Perjalanan ke arah barat rasanya lebih nyaman daripada ke arah timur. Dari Vancouver menuju Jakarta berarti perjalanan ke arah barat. Perjalanan ini dipenuhi dengan sikap tidur. Penat menggelayuti seluruh tubuh. Itulah sebabnya, tiada niat secuil pun untuk beraktivitas lain, kecuali memadukan segenap raga dalam peraduan di tengah deru mesin-mesin yang mengangkasa.

CATATAN AKHIR
Baik dalam perjalanan berangkat ke USA maupun menuju ke Indonesia, Delri tidak pernah bersama. Mereka yang duduk di klas bisnis (eksekutif) mendapat perlakuan khusus, misalnya di lounge istimewa. Kami yang duduk di klas ekonomi menghabiskan waktu di ruang tunggu yang serba biasa.

Atas dasar apa pembedaan itu? Bapak Joas Adiprasetya beberapa kali mengangkat soal ini dalam pembicaraan bersama. Lebih kurangnya beliau mempersoalkan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan malah mengungkit dan merujuk posisi saya. “Bukankah Romo Eddy itu guru besar, golongan IVc? Itu sama dengan eselon 1. Pembicara lagi! Dan mestinya ia duduk di klas bisnis!” Hal yang diangkat Joas itu masuk akal, tetapi bisa jadi penyandang dana (Kemenag R.I.) memiliki pertimbangan khusus yang tidak pernah diinformasikan secara terbuka.

Hal yang sama juga berhubungan dengan keuangan. Kami diberi uang Rp 31.079.622,00. Pada amplop dituliskan: “Living cost: 6 hari x Rp. 5.179.937”. Kami tidak pernah menandatangani berkas apa pun (setelah menerima uang tersebut), bagaimana rincian penggunaan atau peruntukannya, berapa besar honor sebagai pembicara, dan lain sebagainya. Uang rakyat yang tidak dijelaskan penggunaannya dan peruntukannya dapat memancing macam-macam pertanyaan, yang berujung pada ketidakpercayaan.

Bahkan, ketika saya mengambil bagasi di Cengkareng, salah seorang pegawai Kemenag (anggota Delri) meminta boarding pass saya. Untuk apa? Mengapa tidak diumumkan sebelumnya kepada semua anggota Delri, bahwa boarding pass jangan dibuang, melainkan dikumpulkan untuk alasan ini dan itu? Dan anehnya lagi, orang yang meminta boarding pass saya tidak juga meminta boarding pass Pendeta Joas? Mengapa? Wallahualambissawab! Semestinya pola kerja dalam gelap semacam itu sudah ditinggalkan. Ataukah kita sebagai bangsa belum siap dan belum mau bekerja secara tertib-transparan?

Namun di atas segala-galanya, nilai-nilai positif dari lawatan selama sepekan ini jauh melampaui hal-hal negatif. Terpapar harapan bersama yang kokoh. Teruji pula sikap bersaudara antar-penganut agama dan antar-etnis, serta antar-bangsa. Sejumlah komitmen baru dibangun dan ditawarkan untuk kehidupan bersama yang kian bermartabat.

Terimakasih untuk semua kebaikan, keindahan, keluhuran, kedermawanan, kerendahhatian, kesiapsediaan, kebijaksanaan, kegembiraan, dan keugaharian yang diselenggarakan Tuhan dalam perjalanan bersama yang sangat langka ini. Gloria Dei vivens homo! * * * * *

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM

[/tab][tab name=”Foto-foto”]

Sebagian dari anggota UKI BC yang berkumpul untuk berbagi bersama Sdr Eddy Kristiyanto OFM

Sebagian dari anggota UKI BC yang berkumpul untuk berbagi bersama Sdr Eddy Kristiyanto OFM

Mohamad Antoni (Wartawan Antara), Joas Adiprasetya (STT Jakarta), Eddy Kristiyanto OFM, Jamhari Makruf (UIN Syarif Hidayatullah).

Mohamad Antoni (Wartawan Antara), Joas Adiprasetya (STT Jakarta), Eddy Kristiyanto OFM, Jamhari Makruf (UIN Syarif Hidayatullah).

Berempat di Stenley Park, Vancouver.

Berempat di Stenley Park, Vancouver.

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *