Perjumpaan Dua Generasi

[tab name=”Berita”]

Sabtu (02/02/2013), menjadi hari yang bersejarah bagi empat saudara fransiskan yang ditahbiskan menjadi diakon di Gereja Paroki St. Fransiskus Assisi, Sukasari – Keuskupan Bogor. Keempat saudara itu adalah Sdr. Wilibrodus Andreas Bisa yang biasa disapa dengan sebutan Sdr. Andre, Sdr. Bonivantura Yulianus Lelo yang biasa disapa dengan sebutan Bovan, Sdr. Theodoreus Betha Herdistyan yang biasa disapa dengan sebutan Theo dan Sdr. Sebastianus Gaguk yang biasa disapa dengan sebutan Tian. Selain keempat saudara itu turut ditahbiskan bersama mereka sebagai diakon lima frater dari Keuskupan Bogor dan tiga frater dari Kongregasi CSE. Perayaan ekaristi pentahbisan diakonat dimulai tepat pukul 09.00 WIB. Suasana langit yang mendung tidak mengurangi niat umat untuk hadir dalam perayaan itu. Umat yang hadir mulai memenuhi ruangan dalam gereja, beranda gereja dan halaman gereja yang dipasang terpal. Uskup pentahbis, Mgr. Michael Cosmas Angkur (Uskup Keuskupan Bogor) dalam sambutannya di awal perayaan ekaristi mengatakan bahwa peristiswa tahbisan diakonat kali ini sungguh suatu peristiwa luar biasa karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, Keuskupan Bogor mengadakan pentahbisan diakon dengan jumlah yang besar. Turut hadir di altar mendampingi Bapak Uskup : RD. Christoporus Tri Harsono (Rektor Seminari Tinggi St. Petrus-Paulus Keuskupan Bogor), RD. Ignatius Heru Wihardono (Pastor Paroki St. Fransiskus Assisi), RP. Yohanes Idrakusuma O. Carm (Pimpinan CSE) dan Sdr. Adrianus Sunarko, OFM (Pelayan Provinsi OFM Indonesia).

Perayaan pentahbisan kali ini bertepatan dengan Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Mengawali homilinya, Mgr. Michael berkata, ”Peristiwa pentahbisan ini juga merupakan gambaran dari peristiwa Yesus dipersembahkan di Kenisah.” Ia mengatakan bahwa sosok Simeon yang adalah gambaran dari generasi lama (tua) terwakili dalam diri beliau. Sosok Maria dan Yusuf terwakili dalam diri kedua orang tua para calon tertahbis. Sosok Hana terwakili dalam diri ibu-ibu tua yang senantiasa rajin berdoa di gereja. Sementara kedua belas calon diakon adalah gambaran dari generasi baru (muda) yang sekaligus juga pribadi yang dipersembahkan dalam perayaan hari ini. “Perjumpaan dua generasi ini memberi kegembiraan dan sukacita dalam diri generasi lama (tua) ketika melihat sosok generasi baru (muda) dan ada wajah optimis dan penuh harapan dari generasi baru (muda),” ungkap Mgr. Micael. Di akhir homilinya beliau mengharapkan agar para calon diakon setelah ditahbiskan menjadi diakon hendaknya sungguh-sungguh hadir sebagai pelayan di tengah-tengah umat.

Usai perayaan ekaristi kedua belas diakon diarak ke luar gereja menuju ruang resepsi dengan tarian Jawa. Suasana perayaan ekaristi dan resepsi berjalan lancar dan khidmat. Wajah keempat diakon fransiskan terlihat ceria dan gembira. Mereka siap untuk diutus melayani. Tempat perutusan mereka yaitu : Sdr. Wilibrodus Andreas Bisa diutus untuk menjalani masa diakonat di Komisi JPIC OFM dan Paroki St. Paskalis Jakarta, Sdr. Bonivantura Yulianus Lelo diutus untuk menjalani masa diakonat di Paroki Hati Kudus Kramat Jakarta, Sdr. Theodoreus Betha Herdistyan diutus untuk menjalani masa diakonat di Paroki St. Paulus Depok, dan Sdr. Sebastianus Gaguk diutus untuk menjalani masa diakonat di Fundasi Timor Leste.

Kontributor : Sdr. Mateus Batubara OFM

[/tab][tab name=”Foto-foto”]







[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *