Perjumpaan Sukacita

P. Pius Repat OFM (duduk) dan adik

P. Pius Repat OFM (duduk) dan adik

Bapak Bernadus Badut seakan tidak sabar untuk segera menyongsong mentari pagi di tanggal 15 Agustus 2013. Ia sudah terlihat berpakaian rapi dengan tangan kanan menyandang tas kecil berisi pakaian seadanya yang dibawanya dari Jaong (kampung kecil di wilayah Kabupaten Manggarai – NTT). Tangan kirinya juga terlihat memegang beban sekotak kardus bekas “mie indomie” yang berisikan “kompiang” (roti khas dari daerah asalnya) dan kopi manggarai. Suaranya ketidaksabarannya terdengar, “jam pisa lako e pater?” (Jam berapa kita berangkat pater?) Saudara dina yang menemaninya langsung menjawab, “kita jalan sekarang ya kraeng tua”.

Kamis (15/8/2013), tepat pukul 05.30 wib Bapak Bernadus Badut ditemani oleh seorang saudara dina bergegas meninggalkan kompleks Novisiat Transistus Depok yang terletak di jalan kamboja. Keduanya berjalan agak tergesa-gesa menuju Jalan Raya Siliwangi, Depok tempat di mana keduanya menunggu Bus MG jurusan Depok – Sukabumi. Sekitar pukul 06.15 wib bus yang dinanti pun tiba.

Perjalanan Depok – Sukabumi ditempuh kurang lebih 4 jam. Keduanya pun tiba di pintu gerbang bangunan yang bertuliskan “WISMA ASSISI”. Di wisma inilah Sdr. Pius Repat OFM (kakak kandung Bapak Bernadus Badut menjalani masa lansianya). Bapak Bernadus sudah tak sabar untuk bertemu Pater Pius terlihat dari langkah kakinya yang cepat yang sesekali lebih panjang dari langkah kaki Suster Agustin SFS (pemimpin Wisma Assisi).

Dari jauh terlihat seorang bapak tua duduk termenung di atas kursi roda di pojok ruang makan Wisma Assisi. Semakin dekat sosok bapak tua itu semakin jelas. Beliau adalah Sdr. Pius Repat OFM. Tetesan air hangat perlahan berderai membasahi dua pipi dari kedua saudara kandung itu saat mereka berpelukan. Sdr. Pius sesekali mengusap-usap dagu adiknya, Bapak Bernadus Badut. Ia juga memeluk erat-erat adik kandungnya itu seakan tidak ingin berpisah darinya.

Suara lembut Sr. Agustin yang mengajak minum menghentikan sejenak perjumpaan “dramatis” dua insan bersaudara itu. Saat berjalan menuju ruang minum terdengar ungkapan tulus dari bibir Bapak Bernadus yang disampaikannya pada saudara dina yang menemaninya, “terimakasih pater karena ordo ofm sudah memfasilitasi saya berjumpa dengan kakak saya. Saya bisa terbang dengan pesawat dari Manggarai sampai ke Jawa berkat bantuan ordo.”

Kontributor : Sdr. Mateus Batubara OFM

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *