Persaudaraan yang Dianiaya

Dalam suasana penuh optimisme di tengah tren menurunnya angka positif Covid-19, para saudara muda Ordo Fratrum Minorum kembali mengadakan rekoleksi bulanan (11-12/09/21) dengan tema “Persaudaaran yang Dianiaya”. Dalam kesempatan kali ini, para saudara muda disegarkan dengan materi rekoleksi yang dibawakan oleh Sdr. Herpin Hormat, OFM.

Dalam refleksinya, sdr. Herpin memaknai kata “dianiaya” sebagai “penolakan”. Penolakan ini kerap kita jumpai dalam tugas perutusan sebagai seorang Saudara Dina, dan penolakan tersebut semakin menguat di tengah arus pluaralisme, subjektivisme, dan konsumerisme dewasa ini. Manusia terombang-ambing dalam lautan masa, dalam kebenaran-kebenaran subjektif. Sulit bergerak dalam nada kebenaran objektif, kebenaran aktual, dan kebenaran umum. Semua orang menjadikan dirinya sebagai kebenaran itu sendiri. Dalam subjektivitas kebenaran itulah kita menjumpai bahaya penolakan, terutama penolakan atas cara hidup injili.

Akan tetapi dalam situasi sulit itu kita diminta untuk setia. Menurut sdr. Herpin, St. Fransiskus menjadi contoh yang tepat dalam memaknai arti penting kesetiaan. Penolakan dalam pewartaan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan menjadi pemantik untuk lebih gigih dalam mewartakan kabar sukacita.

Lebih lanjut, menurut sdr. Herpin, kesetiaan yang hendak kita hidupi, sebagaimana sudah dicontohkan oleh St. Fransiskus Asisi, berakar pada kasih yang menjiwai kesetiaan Yesus dalam menjalankan tugas perutusan-Nya. Peristiwa salib menjadi puncak penolakan yang dialami Yesus sekaligus menjadi bukti kesetiaan Yesus dalam menjalankan misi-Nya. Berhadapan dengan ancaman-ancaman yang senantiasa mengintai sebagai akibat pewartaan yang Ia nyatakan, Yesus tidak mundur, namun Ia tetap setia sampai akhir.

 

Sdr. Bona Jebarus, OFM 

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *