Rayuan Pulau Tidung

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah selama satu semester ini bertarung dengan beragam tugas dan pekerjaan, pada tanggal 13-14 Juni segenap anggota komunitas Yohanes Duns Scotus (minus sdr. Eddy yang berhalangan karena pekerjaan) berkesempatan melepas penat dengan mengadakan rekreasi komunitas. Acara ini telah dipersiapkan secara matang di bawah komando sdr. Yornes, dan destinasi rekreasi kami adalah Pulau Tidung. Dengan beragam informasi yang diperoleh dari internet segala hal kami persiapkan, mulai dari dana, dokumentasi, sampai keperluan medis, segalanya dipersiapkan secara matang.

Kami mulai bergerak meninggalkan Kampung Ambon menuju Pelabuhan Muara Angke pada pkl. 05.00 wib dan tiba pkl. 05.30 wib. Di Pleabuhan Muara Angke speed boat yang akan kami tumpangi menuju Pulau Tidung sudah menunggu. Hanya saja waktu keberangkatan menjadi agak molor, dari waktu semula yang dijadwalkan pkl. 06.30 wib menjadi 07.30 wib. Meskipun waktu keberangkatan menjadi agak molor tetapi hal ini tidak mengganggu keseluruhan aktivitas kami di Pulau Tidung.

Sesampai di Pulau Tidung kami diantar oleh si guide menuju tempat penginapan yang telah disediakan. Sambil menunggu waktu untuk ber-snorkling-ria, kami sejenak beristirahat untuk melepas lelah setelah 2,5 jam berlayar menyebrangi laut menuju Pulau Tidung. Tepat pkl. 13.00 wib waktu yang dinanti-nantikan itu tiba. Dengan semangat ’45 masing-masing saudara mengambil perlengkapan yang diperlukan untuk ber-snorkling (masker, snorkle, dan pelampung). Bersama sang guide kami menuju ke pelabuhan untuk mulai kegiatan yang sudah dinanti-nantikan ini. Dengan menggunakan speed boat kami menuju lokasi snorkling. Selama berada di speed boat beberapa saudara tidak bisa menyembunyikan ekspresi kegugupannya, muka beberapa saudara tampak begitu tegang meskipun saudara-saudara yang bersangkutan berusaha menutupi kegugupannya dengan candaan-candaan.

IMG_3599

Sesampai di lokasi snorkling, tanpa meunggu aba-aba sang guide, sdr. Dino yang dijuluki “anak ikan” menjadi orang pertama yang terjun ke laut untuk menikmati keindahan alam bawah laut. Beberapa saudara kemudian menyusul. Ada sebuah insiden kecil yang menimpa salah seorang saudara. Ketika terjun ke laut, saudara yang bersangkutan lupa mengancing pelampungnya dengan kencang, alhasil tubuh saudara tersebut agak tertarik ke dalam air, dan dengan perasaan panik saudara tersebut segera berteriak-teriak minta tolong. Untung ada beberapa saudara yang segera menarik saudara tersebut kembali ke atas kapal. Sedangkan beberapa saudara yang sebelumnya tampak takut, pelan-pelan mulai menikmati kegiatan ini, bahkan beberapa saudara (yang memiliki kemampuan berenang di atas rata-rata) nekat melepas pelampungnya karena merasa tidak leluasa berenang dengan memakai pelampung.

Setelah lelah ber-snorkling-ria kami kemudian kembali ke penginapan, dan selanjutnya dengan menggunakan sepeda kami mengunjungi “jembata cinta”. Konon jembatan ini dinamai “jembatan cinta” karena menurut mitos, dikatakan bahwa setiap pasangan yang terjun dari jembatan ini ke laut sudah pasti hubungan mereka akan sampai ke pelaminan. Akan tetapi sebenarnya jembatan ini dinamakan “jembatan cinta” karena jembatan ini menghubungkan Pulau Tidung Kecil dengan Pulau Tidung Besar.

Pada malam harinya kami melanjutkan rekreasi komunitas dengan sharing komunitas di salah satu pantai di sudut Pulau Tidung. Pada kesempatan kali ini waktu sharing dikhususkan bagi saudara-saudara yang akan mengikuti retret agung. Sharing dipandu oleh saudara Lexi dengan beberapa pertanyaan penuntun. Acara kemudian dilanjutkan dengan acara bebas. Sambil ditemani ikan dan cumi bakar, para saudara mengisi kegiatan ini dengan bernyanyi bersama, bermain kartu, dsb. Acara baru berakhir pada pkl. 23.00 wib.

Keesokan harinya, (tgl 14 Juni) sebelum kembali ke Jakarta, pagi-pagi buta beberapa saudara menyempatkan diri untuk kembali ke “jembatan cinta” guna menyaksikan sunrise. Meskipun peristiwa sunrise terjadi setiap hari, tetapi di pulau ini sunrise menjadi barang langka yang diburu banyak orang. Dan memang sunrise di tempat ini tampak lebih indah bila dibandingkan dengan sunrise di Jakarta. Saudara Fendi sampai-sampai tak bisa menahan diri untuk melantunkan gita sang surya karena begitu terkagum-kagum dengan karya Sang Khalik.

Setelah puas memandang dan mengagumi keindahan saudara matahari, kami segera bergegas ke penginapan guna mengemasi barang-barang karena sudah harus kembali ke Jakarta. Memang terasa berat, tetapi mau tidak mau kami harus kembali ke Jakarta sebab sudah banyak pekerjaan dan kegiatan yang harus kami laksanakan. Pengalaman dua hari satu malam di Pulau Tidung meninggalkan kesan yang tidak mudah dilupakan, dan tentunya dari pengalaman ini kami berharap agar dapat memperoleh semangat baru dalam menjalani panggilan dan tugas perutusan kami selanjutnya.

Kontributor: Sdr. Haward OFM

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *