Rekoleksi dan Studi Bersama Komunitas Beato Yohanes Duns Scotus – Kampung Ambon

Pada tanggal 28 dan 29 November 2020, segenap anggota Komunitas Beato Yohanes Duns Scotus Kampung Ambon mengadakan rekoleksi dan studi bersama tentang Christus Vivit atau Kristus Hidup. Christus Vivit merupakan seruan apostolik pasca sinode tentang orang muda. Pemateri dalam kegiatan ini adalah P. Andreas B. Atawolo OFM. Pada sesi pertama (Sabtu, 28/11/2020) kami mendalami secara umum isi dari Seruan Apostolik ini. Kami disuguhkan dengan berbagai macam ilmu dan hal baru, semisal sasaran dari Seruan Apostolik ini, yakni orang muda dalam rentang umur 16-29 tahun secara usia, semua orang yang hidup dalam spirit kemudaan, dan semua umat kristen yang mengimani Kristus. Terdapat sembilan pokok utama dalam Seruan Apostolik ini, yakni Sabda Tuhan tentang Orang Muda, Yesus Kristus Selalu Muda, Kalian adalah Masa Kini Allah, Pesan Luhur Bagi Seluruh Orang Muda, Jalan Masa Muda, Orang Muda dengan Akar, Pelayanan Pastoral bagi Orang-Orang Muda, Panggilan, dan Penegasan Rohani.

Dari kesembilan pokok ini, secara khusus kami mendalami pokok yang kelima yakni Pesan Luhur Bagi Seluruh Orang Muda. Sebagai pengantar untuk mendalami pokok ini, P. Andre Atawolo OFM menampilkan figur orang muda dalam perjanjian lama dan perjanjian baru, berkaca pada Yesus yang selalu muda, dan juga beberapa orang kudus muda. Kami kemudian diajak untuk menyelami tiga poin penting dari pokok Pesan Luhur Bagi Seluruh Orang Muda, yakni Allah adalah kasih, Kristus menyelamatkan, dan Kristus hidup. Di sana kami diajak untuk selalu mengandalkan Allah yang adalah kasih, melihat diri sendiri sebagai pribadi yang berharga di mata Tuhan sebab telah ditebus oleh darah Kristus yang begitu berharga, dan menjadikan Kristus yang hidup sebagai penopang atau dasar hidup Kristiani. Sebagai pengendapan pribadi pada akhir sesi pertama ini, kami dituntun melalui beberapa pertanyaan yakni, Siapakah aku? Apakah aku mengenal diriku sendiri di luar penampilan dan perasaanku? Apa saja kekuatan dan kelemahanku?

Pada sesi kedua, yakni pada Minggu, 29 November 2020 tepat pukul 08.30-09.05 WIB, kami mendalami pokok baru, yakni Jalan Masa Muda. Kami dituntun oleh beberapa kata kunci untuk menemukan eksistensi sebagai orang muda. Pertama berjalan, dimana orang muda selalu melangkah ke depan dan siap untuk pergi. Kedua, bermimpi, di mana suatu harapan, kesabaran dan komitmen, menolak ketergesaan merupakan dasar untuk mimpi yang paling indah. Ketiga, bertekun, yakni melakukan tindakan yang biasa dengan cara yang luar biasa. Keempat, bersahabat dengan Yesus. Kelima, bertumbuh secara mandiri untuk menemukan diri sendiri dan mengembangkan cara hidup sendiri untuk menjadi kudus. Keenam, ekstasi, yakni keluar dari diri sendiri untuk membantu dan membagi kebaikan kepada orang lain. Ketujuh, bersaudara, di mana perjumpaan merupakan sebuah mukjizat untuk membagi damai dan kebaikan. Kedelapan, misioner, yang merupakan semangat bermisi untuk memberitakan Injil kepada setiap makhluk ciptaan Tuhan. Selain kata-kata kunci ini kami juga diajak untuk memiliki akar yang kokoh agar bisa membedakan sukacita kemudaan dan pemujaan palsu terhadap kemudaan. Kami juga dituntun untuk bijaksana dalam menggunakan internet, melihat ciri dunia kita saat ini yang hampir seluruhnya digital.

Model pendampingan yang ditawarkan adalah pendampingan model Emaus (Luk, 24:13-35). Bahwa Yesus selalu berinisiatif berjalan bersama kita ketika badai menghampiri hidup kita dan Yesus membantu kita untuk kembali kepada dasar atau landasan hidup, yakni sabda dan ekaristi agar kita bisa kembali ke arah yang lebih baik. Sebagai penegasan Rohani kami diajak untuk selalu menyadari bahwa kami sebagai orang muda tidak menjadi boneka pasar dari tren masa kini. Sehingga menjadi sangat penting pendidikan hati nurani dengan selalu memeriksa batin, hening, dan doa serta selalu mengandalkan Yesus. Sesi kedua ini ditutup dengan pertanyaan emaus yakni “untuk apa aku ada sebagai orang muda kini? Untuk siapakah aku ada? Bagaimana aku bisa melayani lebih baik dan lebih berguna bagi Gereja dan Masyarakat?”.

Setelah sesi kedua berakhir, kami masuk ke dalam permenungan pribadi selama 15 menit dan tepat pada pukul 09.20 WIB kami masuk ke dalam kelompok sharing. Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh P. Andreas B. Atawolo OFM.

Laporan Sdr. Vedo Tarling OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *