Saudara Dina “Bergerak Keluar”

OFM5 (Custom)Kita hidup dan berada dalam zaman yang terus berubah. Sebagai anak zaman ini, saudara-saudara dina yang hidup dan bertumbuh, kita dipanggil untuk mampu membaca tanda-tanda zaman. Itu berarti, dalam konteks kita sebagai pengikut St. Fransiskus dan sebagai anggota Gereja, kitapun diajak untuk membangun persaudaraan sejati dan ambil bagian secara aktif dalam pelayanan kasih di tengah masyarakat.

Sangatlah diharapkan agar tugas pelayanan kita sungguh-sungguh mengena dan menyentuh umat yang kita kita layani. Apa yang dituntut ialah kita semestinya berani “bergerak keluar”. Dalam Anjuran Apostolik “Evangelii Gaudium”, Paus Fransiskus menggarisbawahi demikian,”Evangelizers thus take on the “smell of the sheep and the sheep are willing to hear their voice-Para pewarta Injil memiliki “bau domba” dan domba pun mau mendengar suara mereka” (EG. 24).

Untuk mewujudkan spirit “bergerak keluar” itu, kami para saudara yang tergabung dalam “Forum Pastoral Fransiskan” se-Jabodetabek mengadakan Studi Bersama Managemen Paroki pada 28 Januari 2015 di Paroki St. Paskalis-Cempaka Putih. Studi bersama ini dibimbing oleh Bpk. AB. Susanto seorang pakar managemen yang sudah sangat terkenal di bumi Indonesia ini. Ia mengulas satu persatu tema yang muncul dalam buku terbarunya tentang managemen paroki yang terbit tahun 2014 yang lalu.

Dalam bagian awal presentasinya, Bpk. AB. Susanto mengatakan,”Managemen paroki adalah usaha sadar dan terencana bagaimana mengelolah sebuah paroki untuk mencapai tujuannya dengan memanfaatkan ilmu managemen yang dianggap tepat. Di dalam proses pencapaiannya, menerapkan manageman partisipatif yakni mengerahkan seoptimal mungkin peran serta umat beriman Kristiani.”

Sesudah itu, beliau menjelaskan beberapa bentuk managemen paroki yang bisa dihadirkan dalam tugas pelayanan sebagai berikut:

Pertama, managemen pembinaan umat, liturgi dan sakramen. De fakto, umat beriman terdiri dari berbagai macam profesi, tingkat pendidikan, minat dan juga etis. Maka, seorang “gembala” harus mengenal domba-dombanya. Di Keuskupan Agung Jakarta, hal ini sejalan dengan program pastoral berbasis data. Database umat sangatlah penting dalam menentukan pembinaan, matriks kerja lingkup paroki dan visi-misi paroki.

Kedua, managemen komunikasi. Dalam konteks komunikasi, Yesus adalah sang mediator antara Bapa dan manusia. Ia rupa Allah itu sendiri (realis presentia Dei). Komunikasi yang dibangun Yesus dengan para pengikut-Nya bukanlah komunikasi satu arah. Ia berempati dan berbela rasa dengan khalayak. Dia turun gunung (blusukan), menyusuri lembah dan naik perahu dengan murid-murid-Nya, dll. Kita perlu meneladani Yesus dalam pelayanan dan pengajaran yakni mengajarkan yang dilakukan dan melakukan yang diajarkan.

Ketiga, managemen keuangan Gereja. Managemen keuangan paroki ditempatkan pada sebuah lingkaran yang saling terkait satu sama lain yang diberi nama “Lingkaran Managemen Keuangan”. Ada empat pilar penting di dalam lingkaran tersebut, yakni: planning and budgeting, resource allocation, operating-monitoring-safeguarding dan Evaluation-Reporting.

Keempat, managemen harta benda Gereja. Perlu diingat bahwa harta benda duniawi hanyalah sarana pelancar untuk mencapai tujuan. Jika kita ibaratkan paroki sebuah perusahaan maka ia bertanggungjawab kepada stakeholder-nya yakni umat beriman Kristiani dan Keuskupan. Hendaknya managemen harta benda Gereja ini dikelola berdasarkan prinsip-prinsip managemen, yakni mengikuti siklus planning, organizing, staffing, directing, coordinating, recording, budgeting (POSDCoRB).

Kelima, managemen talenta. Talenta umat paroki dikategorikan dalam bidang liturgia, kerygma, koinonia, martirya dan diakonia. Berbasiskan data umat, kita mulai mengelolah talenta umat. Kerapkali yang terjadi hanya talenta-talenta tertentu saja yang ingin melayani Gereja, atau “4 L”-Lue Lagi,Lue Lagi. Bisa jadi ada umat yang melayani Gereja tetapi kurang disapa dan dikenal oleh pastor parokinya. Maka perlu kaderisasi khususnya dalam diri Orang Muda Katolik (OMK).

Keenam, managemen kesukarelaan. Organisasi paroki berjalan atas asas sukarela. Artinya setiap umat beriman Kristiani yang sudah menerima dengan cuma-cuma (prodeo) memberi juga dengan cuma-cuma kepada Gereja. Yang hendak disasar dari managemen sukarela ialah bagaimana kita terutama Dewan Paroki (DP) dapat mengenali, mengumpulkan, menggerakkan, memberdayakan, dan menggunakan kesuka-relaan umat beriman Kristiani untuk mencapai tujuan.

Ketujuh, managemen kaderisasi pemimpin dan pembinaannya. Misalnya kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dengan membuat Gereja menarik dan nyaman, melibatkan semakin banyak Orang Muda Katolik (OMK) dalam kegiatan Gereja, dsb.

Itulah beberapa hal penting berkaitan dengan managemen yang perlu diterapkan dalam hidup berparoki. Dalam konteks formasi fransiskan kita, kiranya kita dapat menimba hal-hal berikut:

Pertama, kita perlu belajar managemen. Dari hasil survey, mayoritas para imam atau para klerus, biarawan, dll adalah mahaguru dalam teologi, Kitab Suci, pelayanan sakramental, dsb, namun “4L=Lemah-Lunglai-Loyo-Lesu” dalam managemen. Ilmu managemen bak sebuah”alien”, makhluk asing yang tidak perlu diraba, “barang langka”. Padahal kita perlu tahu apa itu ilmu managemen dan kemudian di-“follow up” dalam me-manage sebuah karya entah di paroki, sekolah, panti asuhan, dll.

Kedua, membangun komunikasi yang lebih baik. Disini pentingnya managemen komunikasi. Pastor atau biarawan bukan berlagak seperti “superman”, tahu segala-galanya. Sikap pastorsentris kiranya tak hinggap pada kita fransiskan-fransiskan masa kini. Semuanya harus melalui pastor. Justru umat beriman (awam) yang lebih profesional dalam bidang profan. Maka, kita perlu membangun komunikasi dua arah demi sebuah perubahan yang positif dalam pelayanan. Pelayanan yang partisipatif, melibatkan semua organ penting dalam karya, bukan monopoli diri sendiri.

Ketiga, perlunya mengatur mamon. Kita perlu terbuka dan transparan dalam hal keuangan dan harta benda. Sejauhmana hasil kapitel tahun 2013 yang begitu luarbiasa itu dapat diwujudkan dalam hidup kita setiap hari? Ataukah hasil kapitel “Persaudaraan Injili:Formasi dan Aktualisasi identitas Fransiskan di Era Globalisasi” hanya sebatas di atas kertas, belum sungguh “merasuk” dalam jiwa kita masing-masing?” Dalam Lineamenta dalam rangka persiapan untuk Kapitel General 2015, Minister General telah mengingatkan kita bahwa ekonomi hidup kita cenderung menyesuaikan diri dengan ekonomi pasar (Lineamenta, hal. 19).

Semoga kita bisa membarui diri. Kita diundang oleh Paus Fransiskus untuk senantiasa menjadi pemberani bukan penakut berhadapan dengan realitas zaman ini:”Janganlah takut pada sesuatu yang baru dari Injil, janganlah takut pada hal-hal baru yang dikerjakan Roh Kudus dalam diri kita masing-masing dan janganlah takut pada pembaruan struktur”. Kiranya spirit itu sungguh terekam jejaknya dalam tugas perutusan kita di tengah dunia ini.

Kontributor : Sdr. Andreas Satur, OFM          

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *