Seorang OFM Di Sarang OSF

[tab name=”Berita”]

Sutan Takdir Alisjahbana, salah seorang sastrawan akbar angkatan Pujangga Baru, menulis novel yang menjadi rebutan para pembaca. Karya yang ditulis pada tahun 1940 itu berjudul, “Anak Perawan di Sarang Penyamun”. Kisah tentang Haji Sahak dan isterinya, Hajjah Andun yang dibegal dan dibunuh oleh kawanan perampok di bawah komando Madesing, kecuali anak perempuan mereka bernama Sayu. Judul novel ini berkisah tentang Sayu di antara penyamun. Di antara mereka ini ada yang menaruh hati, yakni Samad. Kendati judul tulisan ini (dan novel STA tersebut) sama-sama memakai sarang, tetapi hal itu tidak berarti bahwa baik AEK maupun STA sama-sama pernah memakai sarung yang sama.

Narasi berikut ini tidak memfokuskan diri pada semacam aksi seorang Fransiskan bagaikan Samad dalam novel STA tersebut di sarang OSF. Tidak! Akan tetapi, hendak dituturkan di sini Kapitel OSF pada Desember 2013. Tentu saja, yang dikisahkan di sini bukan segala jenis “jerohan” OSF, melainkan sejauh mata memandang dan sebening hati menemukan makna berjalan bersama OSF (Semarang).

Kongregasi para Suster Santo Fransiskus Assisi dari Tobat dan Cinta Kasih Kristiani Provinsi Tritunggal Mahakudus Indonesia, yang dikenal dengan nama OSF Semarang menyelenggarakan Kapitel ke-11 pada 8-13 Desember 2013 di Griya Assisi, Bandungan, Ambarawa, Jawa Tengah. Kapitel ini dihadiri oleh Jendral OSF, Sr. Deborah Lockwood. Dua asisten Jendral (asal Indonesia) dari Roma, yakni Sr. Clara Ruoh dan Sr. Theresio Tuti Setyowati, juga hadir. Selain itu, ada 40 utusan terpilih; di samping anggota ex-officio. Berikut suster-suster anggota panitia yang gesit, ligat, dan full dedikasi.

Kapitel yang mengambil tema “Menjadi Utusan dan Saksi Kristus dalam Hidup dan Pelayanan” ini dibuka dengan perayaan ekaristi. Uskup Keuskupan Agung Semarang, Johannes Pujasumarta, memimpin ekaristi pembukaan Kapitel tersebut pada 8 Desember, pk. 17.00. Dalam homili, Mgr. Johannes selain mengulas bacaan Minggu Ke-2 Adven, juga menggarisbawahi tema Kapitel yang dikaitkan dengan spiritualitas Fransiskan. Tidak dapat disembunyikan, bahwa arus utama Uskup Puja adalah bidang spiritualitas.

OFM DI ANTARA OSF
OSF mengundang penulis reportase ini untuk berperan sebagai Moderator/Fasilitator dalam Kapitel ini. Dalam kesempatan menyampaikan masukan (input), Senin (9 Desember) dari pk. 11.00 – 13.00 Sdr. Eddy Kristiyanto menyampaikan gagasannya yang terurai dalam 3 (tiga) aras. Pertama, tradisi sehat Kapitel Fransiskan. Kedua, fungsi-peran dan tanggungjawab kapitulan. Ketiga, menjadi saksi dan utusan Kristus.

Pada kesempatan pengantar materi presentasi, Sdr. Eddy Kristiyanto menyatakan sebagai berikut. “Merupakan suatu kehormatan, bahwasanya pada kesempatan ini seorang Fransiskan dipercaya untuk hadir dan terlibat sepenuh hati dalam Kapitel OSF Provinsi Tritunggal Mahakudus. Kami tidak menghitung, juga tidk mencatat berapa kali seorang Fransiskan dilibatkan dalam Kapitel OSF seperti ini. bisa jadi, inilah Fransiskan pertama yang “dimanfaatkan” oleh OSF berkenaan dengan Kapitel.” Hal ini pasti benar adanya, jika dikatakan bahwa Fransiskan ini adalah yang pertama terlibat dalam Kapitel OSF dalam abad XXI ini.

Selanjutnya, Sdr. Eddy Kristiyanto mengungkapkan pandangannya begini. “Rasa-rasanya sudah lama kita sadar diri bahwasanya kita ini berasal dari satu pohon kehidupan yang sama, yang berurat-berakar dalam pengalaman rohani-Ilahi insan suci, Fransiskus Assisi. Maka dari itu, undangan dari para Suster kepada Fransiskan ini untuk terlibat dalam Kapitel, merupakan niat baik dan luhur untuk menjahit kembali cita rasa dan rahmat asal-usul kita sebagai Fransiskan, yang entah sudah berapa lama kurang terawat dengan baik.”

Bukan hanya itu! Sdr. Eddy Kristiyanto tidak hendak menyia-nyiakan kesempatan emas dan penuh rahmat ini. Oleh sebab itu selain kepada Pemimpin OSF yang telah mengundangnya untuk memberikan sepenuh hati dalam Kapitel ini Sdr. Eddy Kristiyanto menghaturkan terimakasih, juga akan memberikan yang terbaik dari perbendaharaan yang Tuhan berikan kepadanya.

Untuk meneruskan “perbendaharaan” hati dan budi, Sdr. Eddy Kristiyanto melarik pokok-pokok berikut ini. Pertama, bagaimana tradisi sehat Fransiskan berkenaan dengan Kapitel. Apa yang terjadi dalam Kapitel dan bagaimana gagasan asasi tentang Kapitel dipungut dari Fransiskus Assisi dan para Fransiskan pertama.

Kedua, dibeberkan paran atau fungsi dan tanggungjawab utama para Kapitulan berkenaan dalam Kapitel. Bagian ini hendak mengulas unsur-unsur yuridis (hukum), dan (tentu saja) moral Kristiani.

Tiga, diutarakan sekaligus dikaji makna tema Kapitel, yakni menjadi utusan dan saksi Kristus dalam hidup dan pelayanan. Tema ini kiranya merupakan pengejawantahan cita-cita hidup religius sebagai mistikus dan nabi pada zaman sekarang ini.

BEBERAPA GAGASAN DASAR
Pada mulanya adalah tata kebiasaan para Benediktin. Capitulum (Bahasa Latin) sesungguhnya merujuk pada Bab dari buku. Tentu, bukan sembarang buku! Sebab buku itu merujuk pada The Rule of St. Benedict. “Batrik Hidup Membiara Gereja Barat” (Gereja Latin) merupakan gelar yang disematkan pada orang kudus dari Nursia itu, terutama karena Regula yang beliau susun sangat teratur, jelas, teliti, sederhana.

Setiap hari para rahib mengerjakan tugas-tugas lumrah dan perlu berkenaan dengan pekerjaan sehari-hari. Sebelum melakukan pekerjaan di pos masing-masing para rahib berkumpul. Dalam “perkumpulan” itu mereka mendengarkan pengajaran, petunjuk, nasihat, arahan dari pemimpin mereka. Tetapi sebelum semuanya itu, diperdengarkanlah kutipan dari BAB Regula. Itulah sebabnya pertemuan itu diberinama “Capitulum” (Chapter).

Dalam tradisi Fransiskan, kita mengenali istilah Kapitel juga, yang story-nya dapat diasalkan pada peristiwa yang digelar oleh Thomas Celano (1 Cel XII: 29-30). Gagasan utama di sana antara lain adalah para Saudara bergerak keluar dari zona nyaman, Fransiskus menerapkan bulat-bulat firman Tuhan sehingga nasib para murid-Nya merupakan peruntungan para Fransiskan. Mereka ini menerapkan ketaatan suci sebagai prioritas mengingat bekal rohani yang diberikan Fransiskus: “Serahkanlah kekhawatiranmu kepada Tuhan” (lihat 1 Petrus 5:7). Gerakan perutusan itu memberi kesan: Tuhan sendiri yang terus-menerus memotorinya.

Dalam perjumpaan antar-saudara terungkap spirit fraternitas yang semestinya terjadi dalam setiap Kapitel. Spirit itu juga terlihat nyata dalam Kapitel Tikar, tiga tahun sebelum Fransiskus memperoleh stigmata. Paparan populer Kapitel ini menjadi penghias Fioretti XVIII. Di sini pun kita menemukan identitas kefransiskanan yang lentur di hadapan kebutuhan konkret. Identitas itu adalah transformasi.

Selain itu, dalam persaudaraan yang diutus itu dikembangkan pula sikap rela atau ikhlas (yang pasti berhubungan sangat erat dengan sikap kesiapsediaan) untuk melepaskan. Selagi para Saudara belum sampai pada tahap ini, yang berarti masih bersikukuh, belum rela merelatifkan pandangan dan kepentingan mereka, maka mereka seakan tertahan dan bergerak di tempat. Mereka stagnan, dan tidak mengalami kemajuan yang signifikan. Tidak pula memperoleh kedalaman hidup.

Sikap melepaskan ini senantiasa diiringi ketidaknyamanan. Sarat risiko. Itulah sebabnya banyak orang tidak mau “melepaskan” apa yang selama ini me-nyaman-kan. Sesungguhnya sikap tidak mau “melepaskan” itu berarti mengubur diri sendiri. Jika seorang saudara hanya mau mempertahankan diri, maka yang terjadi malahan sebaliknya, yakni ia mengorbankan diri tanpa makna bagi kehidupan bersama.

Kata lainnya, sikap rela atau ikhlas (legowo) membebaskan manusia dari keterikatan. Fransiskus Assisi dan Magdalena Daemen telah memperlihatkan sikap merelakan di sepanjang lorong hidup mereka. Dampak langsung dari sikap itu adalah ringan, percaya, tidak tersandung, penuh harap, dan gembira kendati segala bentuk keterbatasan dan kekurangan dirinya. Baik Fransiskus maupun Magdalena bukan makhluk serba sempurna. Hanya bagaimana mereka melakukan latihan rohani itulah kuncinya!

Bangunan rohani dan sikap mental tersebut terancam oleh narsisme rohani. Maksud ungkapan “narsisme rohani” adalah cara hidup dan weltanschaaung yang menyatakan bahwa kita, para Fransiskan, merasa “cukup” atau “sudah mencapai garis finish”. Sepertinya kita menghabiskan seluruh energi terutama demi mengejar kesempurnaan dan kesucian diri sendiri tanpa pernah melangkah jauh ke luar “tembok komunitas”, melihat dan terlibat pada permasalahan kemasyarakatan dan dunia. Pada prinsipnya, narsisme rohani hendak menyangkal tanggungjawab dan dimensi sosial panggilan kefransiskanan kita.

Akhirnya, gagasan terus berkembang kreatif. Tatapan mata hati berlanjut dalam padang pengembaraan keutamaan. Tanggapan OSF menyatakan kehendak kuat untuk mendalami sekaligus menegaskan arah ke mana perahu OSF hendak diarahkan. Pilihan-pilihan strategis telah dipatok untuk melayani sesama agar kian bermartabat. Proficiat untuk OSF (Semarang)!****

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM
[/tab][tab name=”Foto-foto”]

Suasana Kapitel OSF menjelang sesi pengambilan keputusan

Suasana Kapitel OSF menjelang sesi pengambilan keputusan

Sdr A Eddy Kristiyanto OFM bergaya pasca presentasi gagasan dalam Kapitel OSF, pada 9 Desember 2013.

Sdr A Eddy Kristiyanto OFM bergaya pasca presentasi gagasan dalam Kapitel OSF, pada 9 Desember 2013.

Dewan Pimpinan Provinsi OSF bernyanyi pasca melaporkan kepada Kapitel hasil kinerja mereka selama tiga tahun terakhir.

Dewan Pimpinan Provinsi OSF bernyanyi pasca melaporkan kepada Kapitel hasil kinerja mereka selama tiga tahun terakhir.

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *