SFD di Pulau Bebas Gempa

[tab name=”Berita”]

Suster Fransiskus Dina (SFD) baru mendapat jatah “dilayani” setelah menunggu dua (2) tahun. Sebab pada 2011, SFD di Sumatera Utara, telah memperoleh kupasan hasil penelitian kami tentang Gerakan Awal Peniten Rekolek dan baru kali ini saya sempat ada bersama SFD di Borneo.

Melihat kebaruan yang dipaparkan dalam pertemuan di Pasar VIII, Medan dua tahun lalu itu, maka Sr. M. Gaudentia SFD menghubungi saya untuk memaparkan materi yang sama, tetapi kini untuk SFD yang hidup dan berkarya di Kalimantan, salah satu dari sangat sedikit pulau di Indonesia yang bebas gempa bumi.

Sr. M. Gaudentia SFD adalah salah seorang anggota Dewan Pimpinan SFD yang berdomisili di Banjarmasin. Kami kemudian mencari waktu yang tepat untuk melakukan “sosialisasi” hasil riset kami, terutama yang berhubungan dengan Warisan Rohani Joanna van Jezus, pencetus Reformasi Limburg, yang di kemudian hari memberikan inspirasi bagi lahirnya sejumlah kongregasi.

Setelah menunggu giliran dan kelonggaran waktu, maka pada 13-15 Agustus 2013 sosialisasi hasil riset itu baru dapat dilangsungkan. Acara berlangsung di biara induk SFD Banjarmasin, dan dihadiri oleh 30an SFD. Tentu, jumlah ini tak hendak menyatakan bahwa semua SFD yang berada di Borneo menghadiri acara ini. Sebab ada beberapa yang sungguh-sungguh tidak dapat hadir mengingat sekolah dan anak-anak asrama sudah memulai kegiatan di Tahun Ajar yang baru ini. Jenis karya ini naga-naganya menuntut komitmen sepenuh hati. Tidak mentoleransi sikap setengah-setengah.

BANJARMASIN BUNGAS

Tiga orang suster menjemput saya di Bandara Sjamsudin Noor, Banjarmasin, pada 12 Agustus 2013 pukul 14.20 WITA. Rombongan penjemput tidak segera membawa saya ke Jl. Rantauan Timur I/21, melainkan mengarahkan seluruh isi mobil ke Lotte Mart lalu ke Giant. Di dua supermarket ini pun apa yang rombongan cari, yakni teh Tong Jie, tidak ditemukan.

Setelah jarum arloji melewati angka 17.00 WITA kami sampai di tempat, di mana saya akan melewatkan 4 malam. Hingga Senin tengah malam belum semua peserta yang diharapkan hadir mengisi kamar yang disiapkan bagi mereka. Saya sendiri mendengar beberapa Suster (SFD) masuk komunitas induk ini pada pukul 03.30 dini hari. Mereka ini datang dari Buntok dengan menggunakan jasa travel, dan membutuhkan minimal 8 jam untuk mencapai Banjarmasin, Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan yang bersesanti BUNGAS, yang berarti CANTIK.

Kami memulai acara bersama dengan Ibadat Pagi disambung perayaan Ekaristi yang dimulai pukul 06.00. Di awal konferensi (pertama), saya menyampaikan kesan saya seraya bertanya, “Mengapa semua SFD bersikap menutup mata pada perayaan Ekaristi, terutama saat Bacaan Pertama, Injil, Homili, Doa Syukur Agung sampai saat Komuni?” Saya melanjutkannya, bahwa sikap itu sangat mudah diselewengkan menjadi “ketiduran”. Tampak ada kelesuan dan ketidakgairahan dalam “acara rohani” ini. Dalam Ekaristi pada hari berikutnya semua mata melek dengan hati berjaga..

Sesungguhnya, kegiatan di Banjarmasin ini merupakan sosialisasi tentang materi yang sama yang pernah saya bawakan di Pasar VIII, Medan pada 2011. Tetapi dalam praktiknya, “materi Medan” sudah dikembangkan dan diperdalam ketika akan dipresentasikan di Banjarmasin. Hal itu terutama disebabkan oleh bertambahnya sumber (materi bacaan, terimakasih atas karya-karya P. Nico Syukur Dister OFM dan Sr. Alberta CB ), berkembangnya pengalaman dan refleksi pendamping (saya), dan situasi “audience” yang berbeda.

MENGKINIKAN SPIRIT JOANNA VAN JEZUS

Dalam rangkaian konferensi dibabarkan apa saja warisan rohani Joanna van Jezus, perintis Reformasi Limburg. Sebagai seorang biarawati Suster-Suster Kelabu di Gent, Joanna merasa tidak “happy” mengingat sejumlah tatacara kehidupan biara tidak dijunjung tinggi oleh para suster. Kemerosotan kualitas hidup membiara terutama berasal dari dalam biara itu sendiri.

Para Suster Kelabu suka bergaul dengan keluarga-keluarga berada, dansa-dansi hingga larut malam, tidak bersemangat dalam berdoa dan bacaan rohani, sangat jarang menerima sakramen rekonsiliasi, tidak meluangkan waktu untuk visitasi pada Sakramen Mahakudus, tidak menjaga silentium (keheningan) dalam biara, dlsb. Kemerosotan demi kemerosotan ini menguras habis segenap tradisi sehat yang selama beberapa abad dicoba dibangun dan dilestarikan.

Upaya pembenahan dan penertiban -ketika Joanna menjadi Pemimpin- dalam biara ditolak oleh para Suster. Itulah sebabnya, ia mundur dan berencana membentuk komunitas yang menghayati cita-cita hidup membiara dengan a.l. menetapkan tertib hidup klausura dengan tetap peduli pada pelayanan terhadap orang-orang terlantar, miskin, dan dipinggirkan.

Semua usaha Joanna itu juga dimungkinkan oleh pembimbing rohani, Petrus Marchant (seorang Fransiskan dari Cabang Observan, Rekolek), selain 4 orang suster yang mendukung penegakan Reformasi Limburg. 4 pilar ditegakkan untuk menjamin terwujudnya gagasan Reformasi Limburg, yakni kemurnian hati, kemiskinan roh, mencintai sesama, matiraga dan penyangkalan diri.

Pemaparan ide yang bercorak historis-spiritual tidak pernah cukup tanpa menemukan lahan bagaimana spirit bernyala yang menjiwai dan mendorong Joanna cs dipraktikkan di sini dan saat ini. Problem utama yang dimiliki banyak komunitas religius Fransiskan bertautan dengan ketidakmampuan manusia religius -anggota komunitas itu- mendayagunakan, mengembangkan kemampuan-kemampuannya untuk menjawab panggilan Tuhan dalam pelayanan penuh kasih kepada sesama secara serius. Dalam satu sesi penuh, para SFD, peserta “studi” ini menggumuli persoalan hidup bersama sebagai Saudara. Selain itu, dalam 2 malam berturut-turut, para peserta juga melihat kembali nilai-nilai luhur yang dikumandangkan melalui tayangan “Brother Sun Sister Moon”, dan “Di Timur Matahari”.

Sejumlah komitmen ditelorkan untuk dilahirkan dalam tindakan konkret dalam persaudaraan. Dan beberapa butir rekomendasi dibulatkan untuk diperhatikan dalam hidup komunitas religius. Pada dasarnya, ada gairah, semangat, kemauan, dan kesediaan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dalam koridor tradisi sehat SFD. Dari kegiatan selama tiga hari penuh ini terbaca bagaimana SFD bergumul untuk memaknai panggilan suci sebagai Fransiskan Peniten Rekolek dalam Gereja-Nya, yang berada dalam masyarakat Borneo ini.

Pada 16 Agustus 2013 saya meninggalkan Banjarmasin, setelah pagi harinya mengunjungi pasar apung di Banjarmasin yang tesohor itu dan mencari ikan asin sebagai buah tangan bagi para penghuni Wisma Duns Scotus, Kampung Ambon, Jakarta Timur.

Borneo, wilayah yang bebas gempa di negeri ini, telah mengajari saya dalam pendampingan para SFD. Pengajaran itu berkenaan dengan bagaimana mengelola hidup yang mempertanggungjawabkan kefransiskanan secara kontekstual. * * * *

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM

[/tab][tab name=”foto-foto”]
Misa penutupan acara pendalaman Spiritualitas SFD

Misa penutupan acara pendalaman Spiritualitas SFD

Suasana Pasar Apung

Suasana Pasar Apung

Suasana Pasar Apung

Suasana Pasar Apung

Sdr Eddy Kristiyanto OFM di Pasar Apung

Sdr Eddy Kristiyanto OFM di Pasar Apung

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *