Tatap Muka Saudara Muda Dengan Romo Benny Susetyo, Pr

“Untuk konteks sekarang, menjadi imam tidak boleh hanya fokus pada pelayanan sakramental, tetapi mesti peduli pada persoalan sosial politik masyarakat. Itulah peran profetis seorang imam”

Hal itu disampaikan oleh Sekertaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan KWI, Romo Benny Susetyo, Pr dalam pertemuan dengan saudara-saudara muda fransiskan di Biara Fransiskus Kramat, Jakarta Pusat.
Pertemuan tersebut yang diikuti oleh 36 saudara muda di tiga komunitas pendidikan di Jakarta (Komunitas Fransiskus-Kramat, Komunitas-Padua Rawasari dan Komunitas Vinsensius-Kramat) berlangsung pada Rabu, 19 Januari 2010, pukul 16.00-17.45 WIB. Magister saudara muda Komunitas Fransiskus, Sdr. Aloysius Triyono turut hadir beserta Sdr. Budi Hernawan. Romo Benny hadir atas undangan Sdr. Budi Hernawan.

Pertemuan itu berjalan lancar. Saudara-saudata muda tampak serius menyimak sharing Romo Benny. Di sela-sela pembicaraan, sesekali ia memberi cerita-cerita lucu, yang membuat suasana terasa hangat.

Menjadi Imam Yang Terlibat
Romo Benny mengingatkan saudara-saudara muda bahwa sebagai calon imam mereka perlu sejak dini memahami dan menghayati tugas profetis yang perlu dimiliki seorang imam. Hal itu menjadi semakin mendesak di tengah kondisi masyarakat yang tidak lagi hanya membutuhkan imam yang bisa memimpin misa tetapi juga imam yang masuk dan terlibat dalam kondisi riil masyarakat. Untuk itu dibutuhkan sejumlah kualifikasi yang mesti dimiliki.

“Imam mesti mampu membaca realitas masyarakat dan mampu menganalisisnya secara cermat. Dalam hal ini sentuhan langsung dengan realitas amat penting. Ilmu filsafat dan teologi yang diterima di bangku kuliah sifatnya hanya membantu sebagai pisau analisis ketika berhadapan dengan persoalan konkret. Masuk dalam pengalaman umat yang dilayani adalah sebuah keharusan” kata Rm. Benny.

Ia mengkritisi model penghayatan imamat yang berat sebelah, yang hanya berpusat di sekitar altar, tetapi sama sekali asing dengan realitas kehidupan umat yang dilayani. Ia menegaskan perlunya perpaduan antara “altar”, tempat seorang imam menimba kekuatan untuk berkarya serta “pasar” dimana imam mengalami perjumpaan langsung dengan realitas kehidupan umat beserta kompleksitas persoalan yang dialami. ”Imam mesti terbuka dan mengembangkan sifat dialogis. Kalau gereja mau eksis, maka tidak ada jalan lain. Ia mesti terlibat, terjun dalam persoalan-persoalan konkret. Gereja mesti peduli pada urusan politik, asal ia tidak ikut campur dalam politik praktis”, lanjutnya.

Urgensi Dialog : Belajar dari St. Fransiskus Asisi
Dalam pertemuan itu, Romo Benny juga mengisahkan pengalaman keterlibatannya dalam urusan dialog dengan pemuka dan umat agama lain. Menanggapi pertanyaan Sdr. Theo Betha tentang keterlibatannya dalam urusan dialog dengan kaum islam radikal yang acapkali dianggap sebagai sesuatu yang sulit, Romo Benny mengungkapkan bahwa berdialog memang tidak selalu mudah, tetapi perlu dilakukan terus-menerus. ”Hal itu membutuhkan kesetiaan sekaligus keterbukaan. Kita juga perlu menghilangkan prasangka-prasangka negatif terhadap agama lain. Kita perlu mendekati mereka. Kita tidak boleh hanya menjalin relasi dengan kelompok Islam liberal yang memang relatif lebih mudah untuk diajak berdialog, tetapi juga dengan kelompok Islam radikal. Kita pasti bisa mendekati mereka. Buktinya, beberapa kali mereka hadir ketika diundang oleh KWI”, paparnya.

Wacana tentang dialog memang selalu dikaitkan dengan St. Fransiskus Asisi. Hal itu juga diamini oleh Romo Benny ketika ditanya oleh Sdr. Bovan Lelo tentang bagaimana gema pengalaman konkret St. Fransiskus yang mengunjungi Sultan Malik al-Kamil di Messir dalam suasana perang salib bagi gereja saat ini. Romo Benny menjelaskan bahwa spirit hidup St. Fransiskus memang menjadi cerminan bagi Gereja. Apa yang dilakukan oleh St. Fransiskus ada sesuatu yang luar biasa dan patut untuk dihidupi terus oleh para fransiskan. ”Fransiskus sudah memberi kita contoh bagaimana menjadi orang Kristen. Nah, para pengikut St. Fransiskus sudah seharusnya terlibat aktif dalam urusan dialog dengan agama lain. Kalau para fransiskan sendiri tidak memperhatikan dimensi ini, itu artinya mereka telah mengingkari identitasnya sendiri”, tutur Romo Benny.

Lantas, ia memberi tantangan bagai para saudara muda tentang bagaimana mereposisi relasinya dengan agama lain serta mengubah mindset yang negatif terhadap agama lain. ”Kita mesti berani merubah cara pandang kita. Kalau gereja kita mau tetap bertahan dan memberi warna yang nyata dalam kehidupan masyarakat ia mesti terbuka dan mengenal serta terlibat dalam persoalan-persoalan konkret masyarakat. Para fransiskan sudah menunjukkan hal itu lewat perjuangan nyata di bidang advokasi terhadap persoalan-persoalan tambang di NTT. Tantangannya bagaimana hal itu dipertahankan dan dioptimalkan lagi. Jadilah religius yang dialogis, yang mampu mengenal realitas di sekitar dan terlibat di dalamnya”, tandas Romo Benny.

Oleh: Ryan Dagur, OFM

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *