Terkenang John Makmun Mochtar OFM

Para peserta Dialog Teologis

Bertempat di Hotel Jayakarta, Jl. Hayam Wuruk, Jakarta, sejak 2-4 November 2012 diadakan Dialog Teologis. Dialog ini melibatkan 14 orang, termasuk Dr Th Deshi Ramadhani SJ, Prof Dr BS Mardiatmaja SJ, RD Vincentius Indra Sanjaya, Mgr AM Sutrisnaatmaka.

Sdr Adrianus Sunarko OFM (Minister Provinsi) juga diundang dalam acara ini, namun berhalangan hadir. Meski demikian, kehadiran Fransiskan (OFM) tidak surut dengan keterlibatan kontributor reportase ini.
Fokus diskusi selama dua-tiga hari ini adalah “Bahasa Roh dan Karunia Penyembuhan”. Deshi Ramadhani mengupas Bahasa Roh. Sementara itu, Indra Sanjaya menguraikan Karunia Penyembuhan.

CIRI MENCOLOK MATA

Dialog teologis ini diprakarsai dan diselenggarakan oleh Badan Pelayanan Nasional Pembaruan Karismatik Katolik (BPN PKK). Sejumlah anggota BPN juga terlibat dalam dialog ini, seperti George Wangsanegara, Judy Nuradi, Felix Adi Chendra, Hardus Desa, RP Antonius Gunardi MSF.

Pembicaraan mengenai “Bahasa Roh dan Karunia Penyembuhan” didasarkan pada kajian atas Kitab Suci. Sebab Pembaruan Karismatik Katolik (PKK) seringkali diidentikkan dengan pencurahan bahasa Roh dan karunia penyembuhan.

Acap kali dalam PKK sangat dicirikan oleh gaya pentakostal, terutama gaya Amerika Serikat. Dalam gerakan pentakostal semacam ini, dasar utama pembahasan tentang Bahasa Roh adalah kupasan atas 1 Kor 12:4-5.12. Agak mengherankan bahwa gerakan itu kurang memberi perhatian pada Kisah para Rasul.

Bahasa Roh pada dasarnya merupakan merupakan karunia Ilahi. Meski demikian, orang beriman dapat memfasilitasi penganugerakan bahasa itu dengan melatih diri. Penganugerahan Bahasa Roh tidak selalu merupakan indikasi tentang kedalaman iman seseorang.

Sementara itu, Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) seringkali dikaitkan dengan (doa-doa) penyembuhan. Kajian alkitabiah tentang Karunia Penyembuhan, terutama yang dikerjakan oleh Yesus dari Nazaret, senantiasa dihubungkan dengan pewartaan dan penggenapan Kerajaan Allah. Karunia Penyembuhan pastilah merupakan sarana, dan tidak pernah merupakan tujuan. Sarana itu mengantar pada pemuliaan dan sembah bakti kepada Allah.

Terkadang orang terjebak dalam kesempitan pemahaman. Maksudnya, Karunia Penyembuhan hanya dimengerti sebagai penyembuhan fisik. Padahal penyembuhan fisik itu hanya salah satu aspek, selain penyembuhan luka batin, rohani, moral.

Kedua ciri mencolok mata dalam PKK tersebut, yakni Bahasa Roh dan Karunia Penyembuhan, sangat dibutuhkan oleh PDKK. Karena dalam praktiknya ada banyak hal yang perlu diluruskan. Dorongan untuk meluruskan itu diindikasikan oleh banyaknya warga Gereja Katolik yang shopping, berguru pada gerakan pentakostal Amerika Serikat.

Untuk itulah pembekalan dan katekese tentang pokok-pokok yang didiskusikan di sini perlu dilakukan. Mungkin mendesak untuk dilakukan suatu survei. Dari survei yang lengkap kemudian akan diketahui pengalaman tentang kedua karunia tersebut.

SANGAT VISIONER

Hanya di Indonesia anggota-anggota gerakan PKK disebut dengan istilah “karismatik”. Di negeri lain, sebutan yang biasa adalah PEMBARUAN (renewal). Istilah “pembaruan” diharapkan menegaskan perlunya pendalaman tentang pneumatologi, pemahaman akan dokumen salvificantem doloris.

Sdr. John Makmum OFM

Sdr. John Makmum OFM

Seraya terlibat aktif dalam diskusi teologis ini, saya teringat akan alm. John Makmun Mochtar OFM. Putra seorang haji yang memeluk cara hidup Fransiskan ini pernah ditugaskan oleh Persaudaraan untuk mendalami Gerakan Karismatik Katolik di Australia.

Beliau dapat dikategorikan sebagai pribumi pertama yang dikader untuk melakukan pelayanan di bidang yang baru sama sekali. Jajaran pimpinan entitas Fransiskan Indonesia saat itu sangat visioner, mengingat Pembaruan Karismatik Katolik saat itu boleh dibilang masih bersifat embrional.

Ketika PKK yang baru saja muncul di kalangan para mahasiswa Universitas Pittsburg, dan dalam waktu yang relatif singkat menyebar ke pelbagai penjuru dunia, jajaran pimpinan entitas Fransiskan sudah mencium “arah angin Roh Kudus”. Roh inilah yang menjadi jiwa pembaruan Gereja Katolik.

Sayang sekali, Sdr John Makmun Mochtar hanya berkarya beberapa saat, sebelum Saudari Maut menjemputnya. Beliau wafat dalam perjalanan bermotor, ketika ia hendak ikut serta dalam kapitel (1974). RIP.
Pengenalan yang serba terbatas tentang Sdr Makmun Mochtar saya kemukakan pula dalam dialog teologis tersebut. Selain itu, saya memang tidak mengasosiasikan diri dengan kelompok Pembaruan Karismatik Katolik. Tetapi justru itulah yang mendorong panitia untuk mengundang saya terlibat dalam perhelatan ini.

Satu hal yang pasti, saya tidak bisa (lagi) berpraduga (buruk) terhadap kelompok ini; apalagi pemahaman tentang kelompok ini dibarengi dengan pembacaan tentang dokumen gerejawi Pembaptisan dalam Roh Kudus (Pencurahan Roh), 2011.

Banyak sekali anggota Gereja Katolik yang dibantu oleh keberadaan kelompok ini. Itulah sebabnya, anggota Pembaruan Karismatik Katolik tidak pertama-tama hendak merengkuh kesucian dan kesempurnaan pribadi, melainkan kepedulian dan kecintaan pada Gereja melalui pelayanan pada sesama. Syukurlah, Allah yang adalah Roh Murni senantiasa membarui Gereja dan Dunia dengan cara-Nya sendiri yang tak terduga.****

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM

 

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *