Tiga Pekan di Jayapura

[tab name=”Berita”]

Hanya sehari setelah selesainya retret OFM Gelombang Dua di Samadi Shalom, Sindanglaya, Jawa Barat, saya bergegas ke Papua. Saya mencoba penerbangan pagi, pk 04.40 dari Cengkareng.

Pilihan jadwal terbang itu memiliki konsekuensi: harus meninggalkan pastoran Santo Paskalis pk 02.00. Ini berarti saat tidur malam sangat terbatas dan sudah harus memesan taksi. Sebab pada jam seperti itu, Bus DAMRI dari Rawamangun atau Gambirke Bandara belum beroperasi.

Narasi berikut ini membeberkan pengalaman tiga pekan di Jayapura. Tiga babak tuturan akan memenuhi narasi ini. Satu, pekerjaan di Arsip Keuskupan Jayapura. Dua, kunjungan ke Kampung Kalimo. Tiga, mendampingi retret imam-imam Keuskupan Jayapura.

ARSIP
Penerbangan dini hari dari Jakarta ke Jayapura, menurut pengalaman saya, tidak nyaman. Selain karena waktu tidur malam sebelum berangkat rasanya terpotong, juga rasanya pikiran ini tergoda untuk tidak bisa tidur dalam perjalanan. Semua ini menyangkut rasa, yang sulit untuk didiskusikan.

Di Bandara Sentani, ternyata Sdr Amatus Mill, Pastor Paroki Sentani, bersama sopir keuskupan, Viktor, sudah siap menjemput. Amatus mengarahkan mobil jemputan ke Pastoran Sentani. Di sana sudah disiapkan makan siang ikan dan sekaleng Bir Bintang, dibumbui dengan cerita sana-sini tentang hidup yang sedang berlalu ini.

Selepas makan siang, sopir membawa saya langsung ke Wisma Uskup Jayapura di Jalan Kesehatan no. 6, Dok II, Jayapura. Sdr Uskup dan Sr M Modesta FSGM, Ekonom Keuskupan, menyambut penghuni baru Wisma Uskup ini.

Di Wisma Uskup saya akan melewatkan hari-hari saya di Jayapura. Setelah mengambil waktu secukupnya untuk istirahat, kami ibadat sore sendiri-sendiri di Kapel Uskup, dilanjutkan dengan makan malam di susteran FSGM. Tanggal 1 Juli, hari itu, saya manfaatkan terutama untuk memulihkan kebugaran tubuh, supaya hari esok bisa berlari dengan “full speed” di ruang arsip.

Tanggal 2 Juli, pekerjaan di arsip langsung dimulai pk 07.30, setelah ibadat pagi, ekaristi, dan sarapan. Di ruang arsip ternyata archivaris keuskupan, Sdr Floor Hogenboom, sedang bekerja mengolah naskah.

Keberadaan Floor sangat membantu saya (dan saya “manfaatkan”), terutama untuk menemukan dokumen dan tambahan informasi yang saya perlukan. Beliau sungguh-sungguh tahu, di mana sebuah dokumen ditemukan. Hal itu terutama karena beliaulah yang menyusun
Pendokumentasian, membuat klasifikasi dokumen, melakukan penomoran dengan lengkap dan teliti.

Misalnya, saya membutuhkan informasi tentang dasar-dasar pertimbangan mengapa Wilayah Keuskupan ini pada tahun 2004 dibagi menjadi dua, yakni Keuskupan Jayapura dan Keuskupan Teimika. Sdr Floor dengan cepat menemukan semua diskusi yang mempersiapkan proses pembagian tersebut.

Jadi, Tuhan mengutus Sdr Floor sehingga saya tidak menghabiskan waktuuntuk membolak-balik arsip dan menemukan sendiri kandungan informasi yang saya butuhkan. Praktis, selama saya bekerja di arsip keuskupan, Sdr Floor juga ada di arsip, kendati ia tinggal di Komunitas APO, sekitar satu kilometer dari Kantor Kuria Keuskupan, tempat arsip-arsip disimpan.

Selain di Arsip Keuskupan, saya juga melacakdata ke Badan Pusat Statistik Provinsi. Kantor BPS ini untuk sementara (selama pembangunan gedung baru) pindah dari dekat Kuria Keuskupan ke Argapura. Mengingat jaraknya relatif jauh, maka saya meminjam kendaraan roda dua milik Keuskupan.

Kantor BPS ini, waktu saya kunjungi sedang ditinggal petugas yang sedang mengurus administrasi anaknya yang sedang sekolah di SD. Lebih dari tiga jam saya menunggu, sebelum akhirnya saya memperoleh data tentang profil Papua Dalam Angka (2012). Data ininsaya perlukan untuk mempertegas situasi konkret, di mana Keuskupan Jayapura berada.

Data itu diperjualbelikan, bukan dalam format buku, melainkan soft-copy (PDF). Harga satuannya sebesar 160 ribu Rupiah. Riset saya di arsip keuskupan pada akhir pekan pertama diselingi dengan kunjungan ke Kabupaten Keerom. Kunjungan ini sesuatu yang luar biasa, terutama karena melengkapi pemandangan dan pemahaman saya di lapangan tentang Keuskupan Jayapura.

KALIMO

Sdr Uskup, saya, dan “driver” meninggalkan Wisma Uskup pada pk 10.00. Mobil khusus, Mitsubishi Estrada, yang berdobel gardan siap membawa kami untuk masuk ke Pusat Paroki Santo Mikhael Di Distrik Waris.

Sebelum masuk Waris kami makan siang di Pastoran Arso. Pastor Rony SVD sudah menyiapkan makan siang mewah dengan porsi lebih dari cukup.

Arso merupakan Pos Pertama yang ditemukan oleh misionaris OFM yang masuk ke pedalaman dari arah Jayapura, 1938. Di dekat pastoran ini dahulu ada lapangan udara. Tetapi setelah dibangun jalan darat Jayapura-Abepantai, lapangan udara itu ditutup.

Setelah makan siang, sekitar pk 14.00, kami meninggalkan pastoran Arso, dan berjalan beriringan dengan mobil pastoran Arso, yang juga Mitsubishi Estrada berdobel gardan. Mobil pastor Arso ini selain memuat penumpang juga sembako, terutama beras berkarung-karung.

Sembako ini dimaksudkan untuk pesta pemberkatan Gereja Fransiskus Kalimo. Sesungguhnya, untuk acara inilah Sdr Uskup turun ke Paroki Waris, yang salah satu stasinya mempunyai gereja baru di Kalimo.

Sejumlah bagian jalan di Kabupaten Keerom ini rusak berat, berlumpur, dan sangat berbahaya, selain karena terancam longsor atau putus,juga jurang kiri dan kanan sangat lapar serta siap memangsa apapun yang jatuh dari ketinggian.

Mobil-mobil yang tidak dilengkapi dengan dobel gardan harus siap tertanam dalam lumpur di sejumlah tempat yang curah hujannya tinggi. Sementara itu, truk-truk dengan tonase tinggi yang melewati jalan ini kian memperparah dan mempercepat berubahnya jalan menjadi bagaikan sungai kering.

Kami mencapai Kalibom, tempat suster-suster SSpS mengelola sekolah dan asrama. Tetapi suster-suster ini dalam hitungan hari akan meninggalkan karya ini, terutama karena sudah lebih dari 6 tahun Pemda Kabupaten Keerom, yang menjanjikan semua hal yang baik dan bagus, tidak pernah menepatinya samasekali.

Hitung-punya-hitung meninggalkan karya itu – dalam pertimbangan pimpinan SSpS – lebih baik daripada meneruskannyaik. Biarkanlah Pemerintah Daerah yang mengelola sekolah-sekolah dan asrama itu! Tidak ada gunanya meladeni Pemerintah Kabupaten yang tidak punya komitmen sama sekali untuk pendidikan warganya.

Bisa dimengerti satu-dua suster yang hatinya sudah “tertanam” dalam kecintaan pada anak-anak yang sangat memerlukan pendampingan, meninggalkan karya di Kalibom dengan berderai air mata. Kalibom pasti akan menjadi kenangan pahit bagi Kongregasi SSpS, tetapi belum pasti begitu bagi suster-suster yang sudah bersentuhan dengan Tuhan dalam realitas manusia yang mereka layani.

Kami sampai di Pastoran Paroki St Michael di Distrik Waris. Pastor-pastor muda SVD, Krispi dan Eman, sudah mengetahui bahwa Uskup akan datang. Memang, tidak ada tarian penyambutan! Tetapi, bahwasanya jalanan bersih, rumput-rumput dibabat, halaman gereja juga rapih, pemuda-pemuda mempersiapkan kayu bakar dan kemudian memotong babi, ibu-ibu dikerahkan untuk menyiapkan makanan, dan lain sebagainya, memperlihatkan bahwa mereka semua menyambut Bapa Uskup.

Malam itu kami lewatkan dalam keheningan pelosok dengan kemeriahan barisan nyamuk yang menari-nari sambil menyukuri adanya mangsa yang menyiapkan makanan gratis. Sedikit disayangkan bahwa tidak ada kelambu yang mencipta jarak antara tubuh manusia dan nyamuk. Tetapi keletihan perjalanan mengatasi segala bentuk gigitan nyamuk.

Upacara pemberkatan Gereja Fransiskus Kalimo dimulai pk 10.00 dengan iring-iringan barisan penyambut kedatangan tamu. Tidak ada penyambutan untuk Uskup, malahan Uskup ikut menyambut Komandan Militer yang datang dari Abepura.

Kedatangan Komandan ini berhubungan dengan peran tentara yang membangun seluruh gedung gereja ini, mencari dana, merancang bangunan, dan lain sebagainya. Gereja baru ini menggantikan gereja lama terendam banjir.

Dalam khotbahnya, Uskup menguraikan damai sejahtera (syalom), dengan bertolak dari bacaan hari Minggu tersebut. Khotbah beliau bagus dan inspiratif! Hal itu terukur dari banyaknya pemberi sambutan yang mengutip kata-kata Uskup saat mereka menyampaikan sambutan dalam acara resepsi. Semua orang yang memberikan sambutan mengikuti misa kendati tidak beragama Katolik.

Perayaan Ekaristi diikuti oleh sekitar 250 orang. Koor yang dilatih oleh P. Eman SVD dan diiringi orgen tunggal yang dimainkan oleh Sr Vianny SSpS, menyanyi dengan suara penuh. Dari awal Ekaristi hingga berakhirnya, suara koor bergeming! Tidak turun barang satu nada pun!

Untuk semua hadirin disiapkan makan. Setelah rangkaian sambutan, ada kesempatan untuk makan bersama. Dikabarkan ada 6 ekor rusa yang berhasil diburu warga untuk pesta ini. Selain itu, ada puluhan ayam dipotong. Naga-naganya jumlah hadirin membengkak 3, bahkan 4 kali lipat jumlah yang merayakan ekaristi; apalagi ketika biduanita-biduanita yang putih-putih diturunkan di atas panggung.

Kini kampung Kalimo mempunyai tempat ibadah yang baru dan bersih, yang diberi nama pelindung Fransiskus. aSemoga kebersihan gedung terjaga baik seiring dengan pemanfaatannya.

RETRET
Senin, 15 Juli semua imam dan tenaga pastoral Keuskupan Jayapura yang mendapat penugasan dari Bapa Uskup memulai retret. Acara yang diikuti oleh sekitar 40 imam ini berlangsung di Rumah Retret Santa Klara, Sentani.

Retret yangberakhir pada 19 Juli ini didampingi oleh penulis reportase ini, yang menyuguhkan tema: “Menjadi Murid Tuhan Yesus dalam Pelayanan LOVE FULLY COMPASSION”. Beberapa retretan mengungkapkan, bahwa retret kali ini berhasil mempertahankan komitmen untuk hening.

Hening dalam retret, memang, merupakan sesuatu yang mutlak perlu. Menurut kesan saya, kita para Fransiskan juga mutlak perlu meningkatan tertib hening dalam retret-retret kita. Bertolak dari pengalaman mendampingi retret OFM yang ada di Pulau Jawa (Juni 2013 di Sukabumi dan Sindanglaya), saya berkesan bahwa kita, para Fransiskan ini, sangat sulit untuk hening. Kita mungkin tidak mau peduli mengenai disiplin retret, yang bukan kapitel, lokakarya, atau rapat.

Saya bersyukur, karena diberi kesempatan untuk mendampingi retret imam-imam Keuskupan Jayapura, sehingga pengenalan saya akan Keuskupan ini semakin pepak atau lengkap. Kini tersisa tugas berikut ini: Meneruskan hingga akhir langkah-langkah susulan setelah serangkaian riset, wawancara, pembacaan sumber-sumber sekunder, supaya akhirnya terbit buku bertajuk “MENJADI GEREJA YANG MANDIRI: Narasi Historis tentang 50 Tahun Terakhir Keuskupan Jayapura”.

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM

[/tab][tab name=”Foto-foto”]

Sdr. Eddy K OFM & Mgr. Leo Laba OFM

Sdr. Eddy K OFM & Mgr. Leo Laba OFM

Gereja (lebih tepat Kapel) Fransiskus Kalimo yang dibangun oleh TNI.

Gereja (lebih tepat Kapel) Fransiskus Kalimo yang dibangun oleh TNI.

Gereja (lebih tepat Kapel) Fransiskus Kalimo yang dibangun oleh TNI.

Gereja Fransiskus Kalimo tampak depan.

Tertanam di Lumpur Keerom

Tertanam di Lumpur Keerom

 

The Beauty of diversity

The Beauty of diversity

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *