Tinggallah Di dalam Aku…

[Index Berita]

Kamis (20/9/2012), Paroki Kristus Raja – Pagal, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur terlihat ramai dengan berbagai hiasan seperti umbul-umbul di sepanjang jalan mulai dari persimpangan jalan Ruteng – Reo menuju Gereja Paroki. Kemah besar juga disiapkan di sisi kanan gereja. Gapura bambu yang bertuliskan motto tahbisan kelima saudara yg akan ditahbiskan, “Tinggallah Di dalam Aku …” (Yoh 15:4) berdiri indah di depan pintu gereja. Hari itu tepatnya pukul 12.00 WITA seluruh perhatian warga Pagal diarahkan ke persimpangan jalan Ruteng-Reo menuju Gereja. Rangkaian persiapan perayaan tahbisan dimulai pada hari itu dengan Acara Kapu Para Diakon. Kelima diakon yang sudah menjalani retret persiapan tahbisan di Pusat Ekopastoral Pagal diterima secara adat oleh Dewan Pastoral Paroki bersama umat Paroki Kristus Raja-Pagal. Juru bicara yang mewakili umat Paroki Pagal tampil ke depan dan menyampaikan kata-kata, “Kami umat Paroki Pagal sangat bersyukur atas kehadiran lima diakon yang akan ditahbiskan di Paroki Pagal.” Sebagai balasan atas ungkapan penyambutan itu, Sdr. Leon, OFM mewakili para diakon menjawab dengan berkata, “Neka koe kapu kanang weki, kapu kole imamat ata kudut tiba lami” (kami berharap agar umat Paroki Pagal mendukung kami supaya tetap setia sebagai imam).

Pemberkatan berbagai perlengkapan imam baru oleh Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng, Pr dilakukan pada Jumat (21/9/2012) pukul 08.00 WITA di Aula Youth Centre, Pagal yang berada persis di samping Gereja Paroki. Sesudah upacara pemberkatan itu Perayaan Tahbisan lima diakon di Gereja mulai dilakukan pada pukul 09.00 WITA yang ditandai dengan arak-arakan putra altar, lima diakon bersama kedua orangtuanya, para imam yang berjumlah sekitar enam puluh orang dan Bapak Uskup dari biara St. Yosef yang berada persis di depan gereja menuju ke dalam gereja. Bapak Uskup di altar di dampingi oleh Vikarius Provinsi OFM Indonesia, Sdr. Peter Aman, OFM dan Vikep Ruteng, Rm. Gerardus Janus, Pr. Jumlah umat yang hadir dalam perayaan itu ada sekitar lima ratusan umat. Di bagian awal homilinya, Bapak Uskup menandaskan bahwa panggilan menjadi imam adalah panggilan untuk menjadi pelayan bagi pembangunan Tubuh Kristus, yakni Gereja-Nya, umat Allah. Panggilan ini lahir dari diri Pribadi Kristus sendiri yang “datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). Beliau menegaskan bahwa hal itulah yang menjadi inti jatidiri dan inti tugas perutusan seorang imam, yakni menjadi pelayan untuk melayani Gereja atau umat Allah. Lebih lanjut beliau menguraikan beberapa hal yang harus disadari dan dihayati oleh seorang imam sebagai bentuk spiritualitas imamatnya, yaitu : pertama, sikap dan semangat dasar yang mesti ada dan bertumbuh dalam diri seorang imam adalah kesadaran dan komitmen untuk menjadi pelayan. Imam bukanlah pembesar dan penguasa, ia bukan pejabat dan pemimpin duniawi. Kedua, imam mesti memiliki spiritualitas ketaatan dan kepatuhan. Seorang pelayan pesta dalam kehidupan sehari-hari biasanya dipilih dan mesti mengikuti panduan atau instruksi tuan rumah atau tuan pesta. Ketiga, imam mesti memiliki spiritualitas pengorbanan dan kerendahan hati. Pada setiap pesta, pelayan biasanya tidak mengutamakan dan menguntungkan dirinya sendiri. Dan keempat, imam mesti memiliki spiritualitas kerjasama. Mengutip bacaan pertama dari Kitab Bilangan 11:11-17.24-25, beliau mengungkapkan keluhan Musa pada Allah, “Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini? Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini atau akukah yang melahirkannya? Dari manakah aku mengambil daging untuk diberikan kepada seluruh bangsa ini? Sebab mereka menangis kepadaku dengan berkata : Berilah kami daging untuk dimakan. Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku” (Bil 11:11-14). Keluhan Musa dijawab oleh Tuhan dengan mengutus dan mengirim tujuh puluh orang yang dipanggil dan dipilih dari orang-orang Israel, dari para tua-tua Israel sendiri. Di bagian penutup homilinya, Bapak Uskup mengatakan bahwa beban tanggung jawab yang besar seperti dihadapi oleh Musa banyak kali juga menjadi pengalaman hidup para imam. Oleh karena itu Bapak Uskup berharap sejalan dengan pengalaman Musa dalam mengalami semua kesulitan maka para imam hendaknya membangun kerjasama dengan orang lain atau pihak lain. Tidak semua keluhan, permintaan dan tuntutan hidup serta pekerjaan dapat dihadapi sendiri. Ada saja orang lain yang dapat membantu kita. Hal yang utama adalah kita mau mendengarkan orang lain dan mau bekerjasama dengan orang lain sehingga tidak akan ada lagi seorang imam yang single fighter.

Sesudah perayaan ekaristi selesai, pengumuman tempat perutusan kelima imam baru pun mulai dibacakan. Vikarius Provinsi OFM Indonesia, Sdr. Peter Aman, OFM tampil ke mimbar mengumumkan tempat perutusan keempat Imam Baru Fransiskan. Sdr. Rikardus Selan, OFM diutus untuk menjalankan tugas perutusan sebagai Pastor Rekan di Paroki Karot, Keuskupan Ruteng. Sdr. Yosef Selvinus Agut, OFM diutus untuk menjalankan tugas perutusan di Novisiat Transitus OFM di Depok, Keuskupan Bogor. Sdr. Leonardus Adrianto Hambur, OFM diutus untuk menjalankan tugas perutusan sebagai Pastor Rekan di Paroki Laktutus, Keuskupan Atambua. Sdr. Felyanus Dogon, OFM diutus untuk menjalankan tugas perutusan sebagai misionaris di Turki. Sementara pengumuman tempat perutusan Imam Baru SVD, Sdr. Beny, SVD dibacakan oleh Provinsial SVD Ruteng, P. Servulus Isaak, SVD. Ia diutus untuk menjadi misionaris di Brazil. Rangkaian kegembiraan atas rahmat tahbisan itupun dilengkapi dengan resepsi bersama di Aula Youth Centre, Pagal.

Kontributor: Sdr. Mateus Batubara, OFM

tinggallah-di-dalam-aku-1

tinggallah-di-dalam-aku-2

tinggallah-di-dalam-aku-3

tinggallah-di-dalam-aku-4

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *