Vancouver Menyambut (Bagian 4)

[tab name=”Berita”]

Sekitar dua jam kami berada dalam perut “burung besi” Canada Air (CA 563). Bandara Vancouver relatif sepi. Nyaris saat itu, 26 November 2013 pukul 14.15, tidak ada insan yang lalu lalang di bagian kedatangan, imigrasi, sehingga semua urusan kami lancar banget. Kelancaran urusan pada awal kedatangan ini mengatakan pula bahwa acara Delri selama di Vancouver sangat mulus dan “penuh buah”.

Bagaimana tidak? Dengan dua mobil, Staf KJRI di Vancouver langsung membawa kami ke Empire Landmark Hotel, 1400 Robson Street, Vancouver, BC, Canada. V6G 1B9. (Saya menulis lengkap supaya informasi ini tidak mendua). Konsul Jendral R.I. di Vancouver bersama seluruh staf KJRI menyambut Delri di hotel tersebut.

Saat check-in di hotel, terjadilah hal yang layak dicatat berikut ini. Petugas hotel meminta membayar di depan dan hanya dengan kartu kredit. “Mati, aku!” Saya celingukan, seperti rusa masuk kampung. Sayalah satu-satunya anggota Delri yang tidak mempunyai kartu kredit. Namun seperti biasanya, Tuhan selalu mengutus penyelamat pada waktu yang tepat. Beruntunglah, Pendeta Joas Adiprasetya ada di dekat saya, dan mengerti kesulitan saya, sehingga dia mengurai kebuntuan saya.

Dia membayari penginapan saya dengan kartu kredit beliau, dan nanti diganti dengan rupiah di Indonesia, setelah tagihan diterbitkan. Jika dibayar dengan USD, maka kurs USD dihargai sangat rendah oleh hotel, yakni 1 USD = 0,89 USC. Padahal kalau kita belanja apapun di luar hotel, kursnya 1= 1. Biaya inap hotel semalam relatif murah, 75 USC/malam.

Cerita ringkasnya, inilah sebentuk kerjasama Katolik dan Protestan, terutama Imam Fransiskan dan Bapak Pendeta. Dalam hal ini, Pendeta menyelamatkan Imam Fransiskan, yang “miskin” karena tidak memiliki kartu kredit. Begitu mendapatkan kunci kamar, staf KJRI memberikan booklet tentang Vancouver, acara selama di kota ini, berikut macam-macam info tentang neraca perdagangan Kanada – Indonesia, dan keadaan cuaca (temperatur) selama Delri ada di Vancouver.

Setelah masuk kamar yang luas, bersih, dilengkapi dengan “view” yang indah, saya mendapati keranjang penuh buah segar dan “snack”. Tertempel pada pastik pembungkus keranjang itu: Kepada Yth., Prof. Dr. A. Eddy Kristiyanto. Pengirimnya: KJRI. Sambutan seperti ini tidak Delri alami di San Francisco.

SANTAP MALAM DI KJRI VANCOUVER
Setelah istirahat sekitar dua jam, Delri dijemput untuk santap malam di KJRI. Sambil menunggu saat jemputan dari KJRI, bersama Sdr. Joas Adiprasetya, saya mencari kopi di sebuah kedai sambil mengobrol sana-sini, misalnya menjajaki kemungkinan-kemungkinan konkret kerjasama lebih lanjut antara Prodi Teologi STF Driyarkara dan STT Jakarta.

Pukul 18.45 Delri sampai di KJRI. Ternyata jarak Hotel Empire Landmark – KJRI tidak jauh. Hanya dibutuhkan 5-7 menit naik mobil untuk mencapai KJRI. Di sana sudah disiapkan jamuan santap malam “selamat datang”. Kami semua menyantap hidangan a la Indonesia dengan penuh lahap.

Tepat pukul 20.00 acara breifing dimulai. Segala informasi tentang seleuruh acara di Vancouver dibeberkan dengan rincian waktu dan penanggungjawab. Pembicaraan melebar, bahkan menukik ke kedalaman, misalnya soal syiah, sunni, ahmadiyah, gereja Yasmin, FPI, suasana politik Indonesia, sarana dialog antar-kepercayaan, MUI, fatwa dan syariah, kemungkinan-kemungkinan kerjasama baik antar institusi pendidikan tinggi di Indonesia, maupun di luar negeri, khususnya yang di Kanada, konflik antar-penganut agama yang dibumbui dengan perkara sosial, ekonomi, politik, perizinan pembangunan tempat ibadah, Pancasila, dlsb.

Beberapa anggota Delri dan staf KJRI menyatakan, bahwa dialog pasca makan malam di KJRI ini benar-benar “interfaith dialog”. Penuh respek, dan mau mendengarkan pihak lain. Ada dua bahasa yang berbeda yang saya mengerti dalam pertemuan malam ini. Satu, bahasa yang digunakan oleh pejabat pemerintah sebagaimana diungkapkan dan digunakan oleh Sekjen Kemenag (Bpk. Bahrul Hayat) dan staf ahli Kemenag (Bpk. Abdul Fatah). Dua, bahasa yang digunakan oleh para “scholars”.

Kami, para ilmuwan yang hendak diturunkan untuk berbicara di depan publik dan ilmuwan di Simon Fraser University (SFU) dan terutama dari perspektif kelompok minoritas (Kristen), mempunyai pandangan yang tidak sepenuhnya sepaham dengan kata-kata dan bahasa pemerintah. Tetapi apa pun sikap kami dan seluruh perbedaan yang ada, kami harus satu dalam upaya memberikan deskripsi yang tepat dan jujur tentang Indonesia.

Acara makan malam dan pertemuan di KJRI yang seharusnya selesai pukul 21.30, ternyata baru menjumpai batas akhir pada pukul 22.00. Kami segera diantar pulang ke penginapan dengan harapan bisa istirahat dengan tenang, sehingga acara utama esok hari disokong dengan kebugaran butuh. Malam itu saya membaringkan “Saudara Keledai” hanya setelah berendam di “bathtub”. Selamat malam Tuhan. Selamat berjaga, ya Malaikat Pelindung.

DARI BRUNCH KE SFU
Buah-buah segar dan snack, teh, kopi, gula yang disediakan di kamar kiranya dimaksudkan untuk mengganjal perut sebelum “brunch” pada 27 November pagi. Memang, hotel tidak menyediakan sarapan yang gratis. Ada restoran dengan paket “breakfast” seharga 19 USC atau menurut tarif hotel sama dengan 21USD. Bahwasannya hotel tidak menyediakan sarapan pastilah tidak biasa dilakukan hotel, bahkan penginapan mana pun.

Pukul 09.40 Delri dijemput dan diantar untuk “brunch” di Hotel dan Resto Waterfront Fairmont. Beberapa tamu, yang akan menjadi pembicara dalam diskusi panel (bagian I) dan moderator bergabung dalam “brunch” ini. Mereka itu adalah Derryl Maclean, Chris Dagg. Saya menilai inilah “brunch” yang luar biasa, baik dari segi materi yang kami santap maupun dari segi penjelasan yang Delri terima dan berikan.

Dari Waterfront Fairmont kami berjalan kaki menuju (salah satu) kampus SFU. Kampus ini salah satu dari tiga kampus SFU yang tersebar di Vancouver. Acara di SFU baru akan dimulai pukul 12.00. Satu-per-satu tamu berdatangan, sehingga pada pukul 12.00 hadirin mencapai sekitar 150an orang.

Sambutan demi sambutan diberikan: Ketua Pusat Studi Islam dan Kebudayaan (Darlyn), Konsul Jendral R.I. (Bambang Hiendarto). Setelah sambutan-sambutan itu, segera diskusi panel dimulai, suatu diskusi yang menurunkan empat pembicara dari Canada: David Seljak dari St. Jerome’s University membawakan “the new religious diversity and interfaith dialogue in Canada”; Itrath Syed dari Simon Fraser University mengusung “religiously marked bodies and the multicultural public sphere”; Munir Jiwa dari Graduate Theological Union mrmbicarakan “framing/reframing dialogue: islamic norms, secularism, liberal fundamentalism; Philip Ryan dari Carleton University menyuguhkan “could you really persuade, if we don’t listen: dialogue in a world that hates dialogue.” Presentasi masing-masing pembicara selama 12-15 menit, lalu dilanjutkan dengan tanya jawab.

Setelah istirahat, sekitar 30 menit kini giliran 3 panelis dari Indonesia tampil, masing-masing Musa Asy’arie dari UIN Jogjakarta, Joas Adiprasetya dari STT Jakarta, Antonius Eddy Kristiyanto dari Prodi Teologi, STF Driyarkara. Yang pertama menguraikan “religious diversity and character building: an Indonesian perspective”. Lalu Pendeta Joas, yang mendapat PhD di Boston University membicarakan “befriending strangers and the beauty of unknowing”. Akhirnya, Fransiskan dan guru pada Prodi Teologi STF Driyarkara menarasikan “the experiences of a catholic minority in Indonesia”.

Tampilnya tiga panelis dari Indonesia ini mengundang keingintahuan para hadirin. Lalu lintas pembicaraan antara panelis dan hadirin diatur oleh Chris Dagg, profesor sepuh, seorang indonesianis warga negara Canada.

Jadi, panel satu berbicara tentang interfaith dialogue in a plural society dari pandangan Canada; sedangkan panel dua membicarakan hal yang sama dari pandangan Indonesia. Dinamika workshop 27 November dan “tour of sacred spaces” pada 28 November, akan saya gelar dalam tuturan berikut. *****

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM
[/tab][tab name=”Foto-foto”]

View (1) Vancouver dari kamar hotel Empire Landmark, tempat Sdr Eddy Kristiyanto menginap.

View (1) Vancouver dari kamar hotel Empire Landmark, tempat Sdr Eddy Kristiyanto menginap.

View (2) Vancouver dari kamar hotel Empire Landmark, tempat Sdr Eddy Kristiyanto menginap.

View (2) Vancouver dari kamar hotel Empire Landmark, tempat Sdr Eddy Kristiyanto menginap.

Bagian interior Katedral Anglikan di Vancouver

Bagian interior Katedral Anglikan di Vancouver

Pendeta Joas Adiprasetya dari STT Jakarta bersama Sdr Eddy Kristiyanto

Pendeta Joas Adiprasetya dari STT Jakarta bersama Sdr Eddy Kristiyanto

Jamhari Makruf dari UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, bersama Kontributor Resportase ini.

Jamhari Makruf dari UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, bersama Kontributor Resportase ini.

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *