Yang Memberikan Diri, Bukan Sisa

[tab name=”Berita”]Usai masa novisiat selama setahun, delapan Novis OFM mengikrar kaul sementara, Senin 15/7, di kapel Novisiat Transitus Jln Kamboja no. 22 Depok, Jawa Barat. Di hadapan dua ratusan umat yang hadir dan dalam tangan minister provinsi OFM Indonesia, Sdr.Adrianus Sunarko OFM, mereka mengikrar janji untuk hidup dalam ketaatan, tanpa milik dan dalam kemurnian.

Mereka adalah Sdr. Manuel de Araujo Nunes da Silva, Sdr. Fidelis Haman, Sdr. Maksimus Nanu, Sdr. Eugenio Isaac da Silva Tilman, Sdr. Yohanes Baptista Pendamai Marut, Sdr. Yohanes Triyantoko, Sdr. Ambrosius Setiadvento Haward, Sdr. Maximilyanus Jemadiarto Edison.

Tampil sebagai selebran utama dalam misa sore itu, Sdr. Adrianus Sunarko didampingi Sdr. Bonefasisus Budiman, magister novis Novisiat Transitus Depok, dan Sdr. Tauchen Hotlang Girsang, Gardian Rumah Biara San Damiano, Depok. Paduan suara Flobamora turut menyemarakkan upacara sore itu lewat lagu-lagu yang dinyanyikan penuh khidmat.

Supaya aku Melihat

Dalam homilinya Sunarko menegaskan pentingnya nilai-nilai kefransiskanan yang masih tetap relevan bagi zaman ini. Kesederhanaan, pelayanan terhadap mereka yang miskin dan tersingkir, serta pengabdian yang tulus adalah nilai-nilai dirindukan banyak orang saat ini.

“Orang seperti Jokowi,”demikian Sunarko, “yang terkenal dengan blusukannya dan Paus Fransiskus yang menghidupkan kesederhanaan dalam pelayanan, adalah dua tokoh yang mengantar kita ke pengalaman “terbuka mata”. Mereka dikagumi banyak orang” ungkap Sunarko sambil mengisahkan bagaimana Jokowi juga menjadi perbincangan orang-orang yang jauh di Papua sana. Terpilihnya mantan wali kota Solo sebagai Gubernur Jakarta ini rupanya tak luput dari perhatian warga nun jauh di ujung Timur Indonesia itu. ”Setiap hari, selalu saja ada media yang menurunkan berita terkait aktivitas Jokowi!”

“Kedua tokoh ini” lanjut Sunarko,“membuka mata kita untuk menyadari bahwa kesederhanaan, pelayanan yang tulus, dan merangkul mereka yang tersingkir, tetap merupakan nilai yang relevan serta dirindukan orang-orang di zaman ini.”
“Nilai-nilai itu tidaklah asing bagi kita sebagai Fransiskan. Itulah yang telah dilakukan olah Santo Fransiskus dari Assisi. Kalian berdelapan kiranya telah berbuka mata untuk melihat nilai-niai ini dan mencoba mengupayakannya dalam hidup kaian sebagai Fransiskan. Moto kalian, Domine ut Videam (Tuhan, supaya aku melihat), kiranya menunjukkan kesiapan hati kalian untuk berani membuka diri bagi tuntunan Tuhan dalam mewujudkan nilai-nilai itu”

Bukan Sisa

“Delapan saudara yang mengikrarkan kaul pertama ini”, demikikian kata Sdr. Bone Budiman, selaku magister novis, “bukanlah sisa. Awalnya mereka ini berjumlah 22, tetapi janganlah kita mengatakan; pada akhirnya sisa delapan orang!”. Sebuah penegasan yang menarik kita kembali ke cara pandang Fransiskan bahwa setiap saudara adalah anugerah. Yang terpanggil tidak pernah merupakan sisa.

“Tuhan memberi aku sejumlah Saudara” demikian kata Fransiskus dalam Wasiatnya ketika mensyukuri anugerah panggilan. Kini Provinsi OFM Indonesia menerima anugerah delapan saudara yang, mengutip saudara Bone, bukanlah sisa. Panggilan tetap merupakan rahmat Tuhan yang bertemu dengan kebebasan manusia dan bermuara pada penegasan; mengatakan ya atas ajakan-Nya. Rahmat bertemu dengan pemberian diri kedelapan saudara.

Kedelapan Saudara ini akan diutus studi ke tiga komunitas. Saudara Maksimus, Manuel, Eugenio, dan Yohanes Triyantoko (Tri) diutus ke Jogjakarta. Empat Saudara lainnya diutus untuk studi Teologi-filsafat di Jakarta. Saudara Fidelis dan Maximilyanus Edison (Rio) akan tinggal di Komunitas Padua. Sdr. Yohanes B. P. Marut (Fendi) Fendi dan Sdr. Ambrosius Haward akan tinggal di Biara St. Fransiskus Assisi jakarta Pusat. Saudara, selamat menjalankan perutusan studimu!)***

Kontributor: Sdr. Johnny Dohut, OFM
[/tab][tab name=”Foto-foto”]




[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *