Yang Politis di Gedung Djoeang 45

JPIC-OFM pada Sabtu, 13 Oktober 2012 menyelenggarakan hajatan. Dihadiri sekitar 100-an orang hajatan itu mempunyai maksud utama, yakni meluncurkan buku berjudul “GEREJA ITU POLITIS”.

Acara, yang diselenggarakan di Gedung Djoeang 45 ini. direncanakan dimulai jam 09:00. Tetapi baru pada pjam 10:00 kepada para hadirin dinyatakan “Marilah kita memulai acara kita”.

GELAR GAGASAN

Setelah lagu kebangsaan Manggarai dilantunkan bersama, Sdr. Peter Aman OFM, Direktur JPIC-OFM Indonesia menyampaikan sambutan. Diungkapkannya, bahwa karya yang diluncurkan dan dibedah ini merupakan sebuah kontribusi bersama kepada Gereja Katolik di Manggarai, Keuskupan Ruteng.

Kontribusi pemikiran ini, tegas Sdr. Peter, semakin bermakna justru karena dilakukan pada saat Gereja Katolik Manggarai genap merayakan kehadirannya secara kontinyu sejak seabad lalu. Oleh karena itu, momentum ini merupakan kesempatan penuh rahmat, sekaligus menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan bersama demi merancang masa depan penuh tantangan dan peluang.

Menyusul gelar gagasan yang dilakukan oleh Rikhard Rahmat (editor), A. Eddy Kristiyanto OFM (penulis buku “SAKRAMEN POLITIK”), Bp. Trisno Subianto Sutanto (Wakil dari Persekutuan Gereja Indonesia), dan Rikard Bagun (Pimpinan Redaksi KOMPAS).

Rikhard Rahmat menyatakan garis besar pemikiran “Gereja Itu Politis”, berikut masalah utama masyarakat warga Manggarai, yang adalah anggota Gereja Katolik Keuskupan Ruteng. Dalam tatapan editor buku ini, masyarakat warga tengah dibelenggu oleh kondisi yang sangat mengenaskan: kemiskinan dan keterbelakangan.

Kemudian giliran A. Eddy Kristiyanto OFM untuk membeberkan buah-buah pemikirannya. Ia menyampaikan idenya dengan berfokus pada perspektif Kerajaan Allah. Diawalinya dengan tuturan tentang film (2005) yang disutradarai oleh Ridley Scott dan berjudul: Kingdom of Heaven .

Guru Kehidupan dari Nazaret juga menggunakan istilah yang sama, yakni Kerajaan Surga (Kingdom of Heaven). Akan tetapi apa yang menjadi inti pewartaan dan hidup Yesus Kristus, bertolak belakang dengan apa yang diperjuangkan dan hendak direbut oleh Laskar Perang Salib. Bahkan kritik para modernis, seperti A.F. Loisy, G. Tyrell, terhadap Gereja yang terlalu masif, melembaga, formal-yuridis, tirani, menyatakan juga bahwa telah terjadi pembelokan dan dengan demikian juga pengkhianatan. Sebab Yesus Kristus mewartakan Kerajaan Allah, tetapi mengapa yang muncul Gereja?

Kalau gagasan itu ditetapkan pada Gereja Katolik yang tengah hadir di Manggarai sejak 100 tahun terakhir apakah paham Kerajaan Allah yang menjadi inti hidup dan pewartaan Yesus Kristus juga demikian nyata dalam praksis hidup harian?

Tidak kurang menarik, telaah dari Bp. Trisno, yang mengedepankan gagasan teologi politis. Dikutipnya gagasan para pakar, seperti K. Barth, J.B. Metz, J. Moltmann yang memberi amunisi bagi keterlibatan Gereja di dalam dunia. Keterlibatan itu terlebih dahulu menuntut demitologisasi dan deprivatisasi iman.

Sementara itu, Bp. Rikard Bagun tidak alpa mengapresiasi karya monumental ini, dengan terlebih dahulu memberi catatan atas judul buku. Memang, di satu pihak beliau bangga menjadi anggota Gereja Katolik. Gereja Katolik sendiri diyakini sebagai lembaga yang membanggakan. Tetapi di lain pihak, kata “politis” pada judul buku membuat beliau tidak “happy”. Karena begitu banyak wajah lembaga yang bersifat politis di Indonesia ini memperlihatkan kebobrokan, korup, dan bejat.

PENANGGAP MENGHIBUR

Dua penanggap, Bp. Rufinus Lahur dan Mohammad Sobary. Penanggap pertama mempunyai banyak ide, yang hampir semuanya diungkapkan dengan Bahasa Inggris. Tidak begitu jelas apa yang yang ditanggapinya, tetapi ada benang merah yang beliau kemukakan, yakni pendidikan dasar dan perbaikan nutrisi. Dua unsur ini kiranya mengingatkan kita akan adagium klasik: “Primum vivere deinde orare“. Hal yang perlu didahulukan adalah pemenuhan kebutuhan dasar. Setelah itu barulah orang dapat berdoa.

Tanggapan kedua disampaikan oleh Kang Sobary. Masukannya, seperti yang biasanya, tanpa fokus, kendati begitu senantiasa menghibur dan sentil sana, sentil sini. Kang Sobary dalam beberapa kali udar gagasan yang saya hadiri selalu membawa-bawa gagasan dan sosok YB Mangunwijaya, alm. Kali ini pun as usual. Tetapi keunggulan Orang Bantul ini adalah kemampuannya mengartikulasikan pandangannya dari perspektif yang terlewatkan oleh orang lain.

Jadi, kedua penanggap ini sungguh segar dan menghibur dalam usaha memformulasikan alam pikiran. Keduanya memiliki kepedulian pada pada masyarakat manusia yang kian sejahtera.

PROFICIAT JPIC OFM

Terbitnya buku “GEREJA ITU POLITIS” berikut peluncurannya atas prakarsa JPIC OFM Indonesia patut diproficiati. Secara objektif isi, editing, dan performance buku ini melampaui kedua buku lain (“Gereja Menyapa Manggarai”, dan “Iman, Budaya, Pergumulan Sosial”). Sebagaimana “Gereja Itu Politis”, kedua buku terakhir ini juga dimaksudkan untuk mengenang dan merayakan seabad Gereja Katolik di Manggarai, NTT.

Dengan harga (hanya) 100 ribu dan dengan ketebalan 420an halaman, berikut isi yang berbobot buku ini sangat berbicara, bahkan bernubuat. Ia menjadi kontribusi yang tak tergantikan untuk Gereja Setempat (Keuskupan Ruteng).

Kontribusi buku ini masih menyisakan penjabaran, yang diharapkan diolah oleh regu penulis, yang pada gilirannya akan menjadi aksi dan gerakan yang berdaya guna. Sekali lagi, bravo usaha konkret JPIC OFM Indonesia yang membidani lahirnya karya monumental ini, dan mendistribusikan gagasan yang inspiratif dan liberatif bagi warga masyarakat dan Gereja Keuskupan Ruteng, yang masih mengalami keterbelakangan dan kemiskinan.*****

Kontributor : A. Eddy Kristiyanto, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *