JAKARTA, OFM –Sebanyak 44 Saudara Muda Ordo Fratrum Minorum (OFM) Provinsi St. Mikael Malaikat Agung Indonesia dari tiga rumah formasi berkumpul di Rumah Retret La Verna Padang Bulan, Pringsewu, Lampung, pada Senin (27/7) hingga Sabtu (1/8). Para Saudara Muda ini melintasi dinamika doa dan refleksi batin sebagai bagian dari persiapan rohani sebelum memperbarui kaul-kaul religius mereka pada Minggu (2/8).
Para peserta merupakan para Saudara Muda tingkat II hingga IV serta saudara pasca-Tahun Orientasi Karya (TOK) / Tahun Orientasi Pastoral (TOP). Mereka berasal dari Biara St. Antonius Padua Rawasari (Jakarta), Biara Duns Scotus Kampung Ambon (Jakarta), dan Biara St. Bonaventura Papringan (Yogyakarta). Kehadiran lengkap terdiri atas 10 saudara tingkat II, 13 saudara tingkat III, 9 saudara tingkat IV, serta 8 saudara pasca-TOP/TOK.
Menggali Dimensi Spiritual “Bertunas di Tengah Reruntuhan”
Retret tahunan ini mendapuk Sdr. Desideramus Ansbi Baum, OFM (Pater Eras, OFM) sebagai pendamping dan pembimbing retret. Mengangkat tema “Bertunas di Tengah Reruntuhan: Seni Hidup (Forma Vitae) di Dunia yang Terluka”, Sdr. Eras mengajak para saudara muda untuk melihat realitas panggilannya secara jujur dan mendalam di tengah situasi zaman yang serba tidak menentu.
Dinamika pendalaman materi retret dikemas secara runut dan sistematis ke dalam empat babak utama:
- Babak I: Kerinduan, Mimpi, dan Dunia
Pada bagian awal, peserta diajak merefleksikan kembali kerinduan awal, mimpi, serta idealisme panggilan Fransiskan. Di saat yang sama, mereka diajak membedah realitas dunia modern melalui kacamata “patchiness landscape”—sebuah keadaan dunia yang mengalami ketidakstabilan, keretakan, dan kerapuhan. - Babak II: Luka, Kegagalan, Krisis, dan Friksi
Retret memasuki fase pembedahan historis dan spiritual kehidupan Santo Fransiskus dari Assisi. Peserta diajak membaca perjalanan Bapa Serafik baik secara hagiografis maupun historis-kritis. Pembacaan ini memperlihatkan bagaimana krisis, friksi persaudaraan, dan luka pribadi justru menjadi struktur jaringan yang membentuk kematangan rohani Fransiskus. - Babak III: Tunas-Tunas Kehidupan di Tengah Reruntuhan
Mengambil metafora ekologis yang unik tentang Jamur Matsutake—spesies jamur yang memiliki daya tahan luar biasa untuk tumbuh di tempat yang terganggu atau rusak namun bernilai amat berharga—para saudara diajak melihat penghayatan kemiskinan dan minoritas sebagai sebuah seni hidup. Kerentanan yang dimiliki Fransiskan bukanlah hambatan, melainkan ruang bagi kerahiman Tuhan untuk melahirkan tunas-tunas harapan baru. - Babak IV: Kembali Menjadi Benih-Benih Harapan
Pada babak penutup, para saudara disiapkan untuk kembali ke medan karya dan studi dengan pandangan yang lebih jernih. Usai retret, mereka diharapkan mampu membaca tantangan dunia dengan keheningan batin serta menghayati forma vitae Fransiskan dengan semangat kegembiraan yang diperbarui.
Misa Pembaruan Kaul: Kesetiaan Allah di Atas Kerapuhan Manusia
Puncak seluruh rangkaian kegiatan ini ditandai dengan Perayaan Ekaristi Pembaruan Kaul Suci yang dilaksanakan pada Minggu, 2 Agustus 2026, pukul 06.00 WIB, yang didahului dengan Ibadat Pagi bersama. Perayaan Ekaristi bertepatan dengan Peringatan Maria Degli Angeli (Portiuncula / Maria Ratu Para Malaikat)—sebuah perayaan yang sangat bersejarah dan bermakna mendalam bagi seluruh keluarga besar Fransiskan di seluruh dunia.
Misa Pembaruan Kaul dipimpin langsung oleh Minister Provinsi OFM Indonesia, Sdr. Agustinus L. Nggame, OFM, dengan didampingi oleh Sdr. Wolfhelmus Apriliano, OFM selaku Sekretaris Dewan Pendidikan Provinsi sebagai saksi I dan Sdr. Desideramus Ansbi Baum, OFM, sebagai saksi II.
Dalam pesan homilinya yang meneguhkan, Sdr. Gusti OFM mengingatkan para Saudara Muda mengenai hakikat sejati dari pengikraran ulang kaul-kaul religius. Beliau menegaskan bahwa keberlanjutan hidup membiara tidak bersumber dari kehebatan atau kesempurnaan diri para saudara.
“Kita memperbarui kaul-kaul suci ini bukan karena kita selalu berhasil atau sempurna dalam menjalani hidup membiara. Kita memperbaruinya karena Tuhan selalu setia, dan kita percaya sepenuhnya bahwa kasih setia Tuhan itu kuat menguasai dan menopang seluruh hidup kita,” tegas Pater Gusti.
Dari total 44 peserta retret, sebanyak 33 Saudara Muda secara resmi mengikrarkan kembali kaul kemiskinan, ketaatan, dan kemurnian di hadapan Minister Provinsi dan persaudaraan. Rinciannya, sebanyak 8 saudara memperbarui kaul untuk jangka waktu tiga tahun, sedangkan 25 saudara lainnya memperbarui kaul untuk jangka waktu satu tahun.
Seluruh rangkaian acara di Rumah Retret La Verna yang dikelola oleh para Biarawati Kongregasi Suster-Suster Fransiskan St. Georgius Martir (FSGM) ini ditutup dengan sesi foto bersama dan santap pagi persaudaraan, sebelum para saudara kembali ke komunitas formasi masing-masing dengan membawa semangat tunas baru.
Sdr. Erwinardus G. Beto, OFM

Tinggalkan Komentar