JOGJAKARTA, OFM – Keluarga Besar Fransiskan-Fransiskanes Yogyakarta menggelar rangkaian peringatan Transitus dan Hari Raya Santa Klara dari Assisi pada Senin hingga Selasa (10–11 Agustus 2026). Bertempat di Biara Santa Klara Santren, Mrican, Yogyakarta, perayaan ini menjadi momen refleksi spiritual mendalam bagi para biarawan/ biarawati, dan umat awam untuk memperbarui komitmen hidup sesuai semangat keheningan, kesederhanaan, dan keperkasaan iman St. Klara.
Rangkaian acara diawali dengan Ibadat Transitus pada Senin (10/8/2026) pukul 18.00 WIB untuk mengenang detik-detik wafatnya St. Klara pada 11 Agustus 1253 dan peralihannya menuju keabadian. Ibadat yang dihadiri oleh para Saudari Klaris, para Saudara OFM Komunitas St. Bonaventura Papringan, serta anggota Ordo Ketiga Fransiskan ini dipimpin oleh Sdr. Leonardo Rikardo Soba, OFM.
Dalam renungannya Sdr. Rikardo menyitir pandangan seorang pengagum St. Fransiskus Assisi, Paul Sabatier. Ia menyebut bahwa kidung kenamaan Gita Sang Surya karya St. Fransiskus seolah menyisakan satu bait yang kemudian terpenuhi oleh kehadiran St. Klara: “Terpujilah Engkau Tuhanku, karena saudari kami Klara; Engkau membuat dia berdiam diri, menjadi asyik dan bijaksana. Melalui dia, bersinarlah cahaya-Mu di dalam hati kami.”
“Santa Klara adalah pribadi yang melalui kesederhanaan, keheningan, doa, dan kesetiaannya berhasil memancarkan cahaya Tuhan bagi orang-orang di sekitarnya,” tutur Sdr. Rikardo. Ibadat malam itu ditutup dengan penghormatan relikui dan penyerahan Berkat St. Klara kepada seluruh hadirin.
“Klara: Terang yang Perkasa”
Keesokan harinya, Selasa (11/8/2026), suasana syukur berlanjut dalam perayaan puncak Hari Raya St. Klara. Kegiatan yang diselenggarakan atas kerja sama Forum Keluarga Fransiskan-Fransiskanes Yogyakarta (KEKANTA) dan Biara St. Klara ini dihadiri sekitar 60-an peserta, terdiri dari para biarawan-biarawati anggota KEKANTA, anggota Ordo Fransiskan Sekular (OFS), serta umat dari lingkungan sekitar biara.
Rangkaian acara dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan rekoleksi bertajuk “Klara: Terang yang Perkasa” yang dipimpin oleh Sdr. Y. Ferry Kurniawan, OFM.
Di awal rekoleksinya, Sdr. Ferry mengungkapkan bahwa, “Keperkasaan itu tidak hanya dimiliki oleh para pria. Keperkasaan juga tidak sama dengan kelelakian. St. Clara adalah contoh yang terang benderang dari Keperkasaan”. Menurutnya, St. Klara adalah bukti nyata keperkasaan iman seorang wanita. Keperkasaan St. Klara tercermin dari keberaniannya melepaskan status kebangsawanan demi memilih cara hidup paling radikal dalam mengikuti Yesus yang miskin, sebuah langkah yang secara resmi diteguhkan melalui Privilegium Paupertatis (hak istimewa untuk hidup miskin).
“Hak istimewa ini pada hakikatnya adalah ‘keistimewaan tanpa keistimewaan atau jaminan untuk hidup tanpa jaminan’. Klara juga membuktikan keperkasaannya dengan keluar dari budaya patriarki masa itu, berdiri mandiri dengan menghayati Injil secara murni tanpa bergantung pada jaminan petinggi Gereja,” ungkap Sdr. Ferry.
Ia menambahkan, pilihan St. Klara untuk tinggal di San Damiano—sebuah tempat terpencil di luar tembok kota yang rentan dan jauh dari jaminan keamanan—justru mempertegas iman, keteguhan dan kepercayaannya pada pemeliharaan Allah semata.
Pembaruan Kaul Religius
Usai rekoleksi, acara dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi pada pukul 10.00 WIB di Kapel Biara St. Klara. Dalam homilinya, Sdr. Ferry merefleksikan kembali peristiwa bersejarah yang membuat St. Klara diangkat menjadi Pelindung Televisi. Ketika sakit parah dan tidak dapat menghadiri Misa, St. Klara secara ajaib diberi penglihatan dan pendengaran untuk menyaksikan Misa di dinding kamarnya dari jarak jauh.
“Kisah ini mengajarkan bahwa karena kasih yang mendalam, tidak ada lagi jarak antara Klara dan Allah. Kita diajak untuk memiliki wawasan yang luas dalam melihat penderitaan maupun kegembiraan dunia, tetap terbuka kepada sesama, namun tanpa kehilangan keheningan dan interioritas diri,” tegasnya.
Suasana Misa berlangsung penuh khidmat, terutama saat para Suster Klaris secara bersama-sama memperbarui kaul-kaul religius mereka. Perayaan Ekaristi ini semakin semarak berkat iringan lagu-lagu liturgis yang dibawakan secara merdu oleh bapak-bapak dari Kelompok Paduan Suara Seniores Canunt.
Seluruh rangkaian perayaan diakhiri dengan acara ramah tamah dan makan siang bersama di kompleks biara. Peringatan ini tidak hanya merekatkan tali persaudaraan di antara para pengikut St. Fransiskus Assisi di Yogyakarta, tetapi juga menyegarkan kembali daya spiritual St. Klara sebagai terang yang terus menerangi perjalanan iman gereja hingga kini.
Sdr. Erwinardus G. Beto, OFM

Tinggalkan Komentar