Kunjungan Persaudaraan ke Kali Mulya

Para Novis sesaat sebelum berangkat ke Kali Mulya

Iman Katolik meyakini adanya hubungan erat antara manusia yang masih berziarah di dunia ini dengan mereka yang sudah meninggal dunia. Hubungan itu dilihat berdasarkan kesatuan sebagai anggota Gereja. Ada tiga Gereja yaitu, Gereja Jaya, Gereja Peziarah, dan Gereja Menderita. Penetapan tanggal 2 November sebagai hari peringatan arwah semua orang beriman oleh Gereja, semakin mempertegas hubungan itu. Dalam rangka itu, komunitas Novisiat Transitus Depok (Nostrade) mengadakan kunjungan ke tempat pemakaman di Kali Mulya. Kunjungan ini tidak hanya dalam rangka peringatan arwah umat beriman, tetapi juga kunjungan persaudaraan. Di sanalah tempat peristirahatan terakhir para Saudara Dina yang telah berpulang menghadap Bapa.

Meskipun hari peringatan arwah semua umat beriman jatuh pada tanggal 2 November, kami memilih untuk melakukan kunjungan ini tanggal 4 November 2020. Dengan demikian kami bisa menghindari kerumunan mengingat situasi pandemi, karena tanggal 2 November banyak umat yang juga berkunjung. Perjalanan dan pelaksanaan kegiatan ini diwarnai berbagai cerita yang menarik untuk dikisahkan.

Tersesat dan Tertinggal
Kami (para Novis) memutuskan untuk berjalan kaki saat berangkat dari Novisiat, sekalian berolahraga. Kami berangkat sekitar pukul 08.00 wib dengan perhitungan satu jam perjalanan, sehingga agak terhindar dari terik matahari. Ternyata perhitungan kami sedikit melenceng, karena kelompok pertama sampai sekitar satu setengah jam, bahkan kelompok terakhir hampir dua jam. Kami dibagai ke dalam empat kelompok, demi menjaga protokol kesehatan. Kelompok pertama dan kedua tiba di tempat tujuan dengan aman. Kedua kelompok ini masing-masing dipimpin oleh Sdr. Marciano dan Sdr. Adit yang sudah berkali-kali mengunjungi tempat pemakaman ini.

Berdoa di depan makam para Saudara Dina

Kelompok ketiga dipandu oleh Sdr. Al, bermodal sekali kunjungan ke Kali Mulya ketika mengikuti pemakaman pater Sadji. Alhasil mereka tersesat karena yang menjadi patokannya ialah sebuah menara, sementara di tempat itu ada banyak menara. Untunglah mereka tidak malu bertanya. Karena mereka memakai salib tau, mereka dituntun ke tempat pemakaman Kristen. Kelompok terakhir memang tidak tersesat, tetapi menempuh perjalanan kurang lebih dua jam. Kelompok ini melakukan ‘Perjalanan Emaus’ yaitu, Sdr. Servas dan Pater Oki. Langkah kaki Sdr. Servas cukup pendek, dan patrer Oki berat badannya bertambah, sehingga maklumlah mengapa mereka tiba cukup lama. Demikianlah kami semua akhirnya berkumpul dan memulai kegiatan sekitar pukul 11.00 wib.

Bekerja, Berdoa, Rekreasi
Kegiatan yang kami lakukan di sana ialah, menabur bunga, menanam bunga Lili Paris di setiap makam, membaca Necrologium di setiap makam dan setelahnya berdoa satu kali Salam Maria. Meskipun terik mata hari membakar kulit, kami tetap semangat. Ketika Necrologium setiap saudara dibacakan, dalam kisah hidup mereka selalu ada hal-hal yang membuat kami tertawa. Hal ini membuat kami tetap semangat dan merasa sedang berekreasi sambil bekerja dan berdoa.

Kami melakukan kegiatan ini sekitar satu jam, lalu kami mengunjungi keluarga Pak Kasino di dekat tempat pemakaman itu. Di sana kami beristirahat sejenak sambil snack. Kami melakukan ofisi Bapa Kami menggantikan ibadat siang, sambil mendoakan keluarga itu. Setelahnya dengan menggunakan mobil Ambulance dan sebuah mobil angkot, kami diantar oleh Pak Kasino. Demikian kegiatan kami komunitas Nostrade dalam rangka hari peringatan arwah semua orang beriman.

Laporan Sdr. Elya Putra Ngaso (Novis OFM)

Post navigation

Komentar

  1. Sdr Tanto OFM
    November 7, 2020 at 08:42

    Trima kasih Saudara-saudara termuda di Provinsi sudah mengadakan ziarah ke makam para saudara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *