RAPAT KERJA JPIC-OFM INDONESIA 2021


Mengawali tahun 2021, JPIC-OFM Indonesia-Ekopastoral mengadakan Rapat Kerja bersama (Raker) yang berlangsung selama lima hari (8-12 Januari 2021).  Raker dihadiri oleh 20 peserta yang berasal dari berbagai tempat karya, antara lain: para staf di kantor JPIC-OFM di Jakarta, Sdr. Valens yang sedang menjalankan advokasi di Flores, Sdr. Johny Dohut, OFM dan Sdr. Latif Widyawan, OFM dari Ekopastoral Pagal, Sdr. Widi, OFM dan Sdr. Anton Sahat, OFM dari Ekopastoral Ciloto, Sdr. Trimur, OFM dari Panti Asuhan St. Yusuf Sindanglaya, Sdr. Agus Dewantoro, OFM dari Ekopastoral Fransiskan Timor (E-Framor), Sdr. Simao Nono, OFM dari Ekopastoral Dotik (Timor Leste), Sdr. Andre Bisa dari Ekopastoral Parokial Tentang,Sdr. Edrin, OFM, Sdr. Obeth, OFM, dan Sdr. Deri, OFM dari Rumah Singgah St. Antonius Padua, OFM, Sdr. Goris Pontus, OFM sebagai Ketua Komisi JPIC-OFM, dan Sdr. Mike Peruhe, OFM sebagai Minsiter Provinsi. Raker dilaksanakan di Rumah Retret St. Lidwina, Sukabumi.

Improvisasi di Tengah Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 mendorong para peserta Raker untuk melakukan sejumlah improvisasi demi terlaksananya Raker. Pandemi Covid-19 menyebabkan tidak semua peserta Raker berkumpul di Sukabumi. Oleh karena itu, Raker dilaksanakan dalam kombinasi pertemuan online dan offline. Para staf kantor JPIC-OFM, ketua Komisi JPIC-OFM,  Minister Provinsi (pada hari kedua) dan Sdr. Anton Sahat, OFM mengikuti Raker dengan berkumpul di Sukabumi sambil tetap mematuhi protokol kesehatan. Menjelang keberangkatan ke Sukabumi terlebih dahulu menjalani tes rapid antigen untuk memastikan kondisi kesehatan dan mendapatkan surat keterangan bebas virus Corona. Selama menjalankan Raker, menjaga jarak dan mengenakan masker serta mencuci tangan menjadi aturan yang disepakati dan dijalankan bersama. Rangkaian kegiatan Raker dilakukan dalam area Rumah Retret St. Lidwina dengan minim kontak ke wilayah luar. Koordinasi dan share materi Raker dilakukan dengan memanfaatkan media komunikasi bersama seperti aplikasi WhatsApp dan pertemuan daring terjadi melalui media pertemuan virtual Zoom.

Cerita menarik dari para peserta Raker di pulau Flores dan pulau Timor terselip di sela-sela Raker. Sdr. Agus Dewantoro, OFM mengikuti Raker secara online dari lahan Ekopastoral di Kuneru. Kualitas sinyal handphone lebih bagus di area kebun ketimbang di dalam rumah. Sementara itu, Sdr. Simao, OFM mesti pulang-balik dari Dotik menuju pastoran Welaluhu dengan menerjang banjir kali di musim hujan demi mengikuti Raker. Kualitas sinyal 4G di Welaluhu lebih bagus ketimbang di Dotik. Lain lagi kisah dari Flores. Biara Karot menjadi tempat bagi Sdr. Valens, Sdr. Latif, OFM, Sdr. Johnny, OFM, dan Sdr. Andre, OFM untuk terhubung secara virtual dengan para peserta Raker yang lain. Jaringan Wifi di komunitas Rivotorto menjadi andalan bagi mereka dalam mengikuti rapat kerja.

Improvisasi akibat pandemi Covid-19 tidak mudah dilakukan terutama bagi para peserta yang bergabung secara virtual. Sejumlah tantangan mesti dihadapi dengan sabar, terutama bagi para peserta di daerah. Kendala mati listrik di tengah pertemuan sehingga para peserta tiba-tiba “pamit” dari ruang pertemuan bukan hal baru. Belum lagi kendala lain seperti tiba-tiba kualitas sinyal menjadi jelek atau paket data habis ketika sedang asyik menyimak presentasi dan evaluasi bersama. Meskipun demikian, hingga akhir Raker para peserta antusias dan setia mengikuti rangkaian acara yang telah disusun.

Dialog Kemanusiaan dan Ekologis

Tema Raker tahun 2021 adalah “Dialog Kemanusiaan dan Ekologis”. Tema dialog yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan perhatian pada lingkungan hidup menjadi inspirasi bagi para peserta Raker dalam menyusun program kerja untuk tahun 2021. Program kerja yang disusun mesti dilandasi keberpihakan pada kemanusiaan dan keutuhan ciptaan. Sdr. Goris Pontus, OFM dalam khotbah misa pembukaan Raker menjelaskan tentang peranan agama yang semestinya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana yang ditunjukkan Yesus peduli dan berbelas kasih terhadap penderita kusta sehingga Ia menyembuhkan penderita kusta tersebut.

Minister Provinsi dalam sambutannya menjelaskan tentang dialog sebagai aspek penting dalam kehidupan bersama. Manusia merupakan makluk sosial yang tidak tertutup dalam dirinya sendiri. Sejak lahir manusia selalu berada dalam relasi dengan yang lain. Tanpa yang lain, manusia tidak dapat hidup seutuhnya. Inspirasi dialog dalam iman kekristenan adalah Allah Tritunggal sendiri yang selalu berada dalam relasi kasih. Relasi kasih itu tampak bagi manusia dalam inkarnasi Yesus Kristus. Bagi para Fransiskan, St. Fransiskus Assisi sendiri memberi contoh dalam membangun dialog. Sejak mengusahakan jalan kedinaan, Si Miskin sudah menampilkan keprihatinan pada orang-orang kecil. Salah satu kisah terkenal tentang dialog ini adalah kunjungannya ke Damietta, Mesir guna menemui Sultan Malik Al-Kamil. Dalam Anggaran Dasar (AngTBul 16 dan AngBul 12) termaktub cara pandang St. Fransiskus terhadap kaum Muslim dan mereka yang tidak beriman.

Lebih lanjut, beliau menegaskan dialog yang tidak hanya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan tetapi juga mengedepankan perhatian terhadap Bumi. Perawatan Bumi sebagai rumah bersama dapat dijalankan dengan baik hanya jika suatu dialog yang baik dapat terbangun. Dialog bukan merupakan pilihan alternatif bagi manusia tetapi merupakan unsur penting mengingat manusia dengan ciptaan lain berada dalam suatu jejaring kehidupan. Pater Mike mengusulkan beberapa kata kunci dalam mengusahakan dialog yang baik. Dialog dapat dijalankan jika sikap mendengarkan dikedepankan. Berdialog mesti muncul dari sikap berbelas kasih terhadap sesama. Selain itu, kolaborasi merupakan unsur penting dalam berdialog. Dialog tidak dibangun atas dasar kompetisi atau upaya saling mendominasi tetapi atas dasar kerja bersama yang berdampak pada perubahan (conversion) pada semua pihak.

Pater Mike menggarisbawahi perlunya merancang program yang bernada dialog. JPIC-OFM Indonesia dan Ekopastoral telah dikenal sebagai karya yang peduli pada lingkungan hidup. Aspek penting yang tidak boleh dilupakan adalah mengupayakan pelayanan yang bernada dialog kemanusiaan yang bermuara pada keprihatinan pada keutuhan ciptaan. Cara kerja para Saudara Dina yang terlibat dalam karya Ekopastoral dan JPIC pun mesti menampakkan aspek dialog. Kerja bersama dan iklim saling mendukung satu sama lain perlu diupayakan.

Kondisi pandemi Covid-19 juga menjadi acuan bagi para saudara untuk merancang program bernuansa dialog. Pandemi menghadirkan tantangan untuk merumuskan model dialog yang berbeda ketika physical distancing, dan PSBB membatasi ruang temu dan dialog secara fisik. Improvisasi bukan hanya dalam menyelenggarakan Raker tetapi juga dalam menyusun program-program.

Spiritualitas Kesetiaan

Selain penyusunan program kerja untuk tahun 2021, kesempatan Raker juga dipakai untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja tahun 2020. Evaluasi terhadap program kerja tahun 2020 diwarnai dinamika. Sebagian besar program dapat dilaksanakan dengan baik tetapi sebagian program kerja pada masing-masing bidang, baik di JPIC maupun Ekopastoral, tidak dapat dijalankan. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu penyebab utama tersendatnya pelaksanaan program, selain koordinasi dan kerja tim yang perlu ditingkatkan lagi kualitasnya.

Refleksi menarik muncul dalam evaluasi bersama. Terkait pelayanan JPIC di bidang sosial, Sdr. Fridus, OFM menekankan pentingnya spiritualitas kesetiaan. Perjuangan para saudara yang melayani di JPIC dan Ekopastoral pertama-tama merupakan upaya untuk setia menghayati nilai-nilai Injili. Kesetiaan tersebut menjadi suatu bentuk kesaksian yang khas di tengah masyarakat. Dalam rekoleksi sebelum evaluasi bersama, Sdr. Goris juga menekankan hal yang sama. Orientasi kerja di JPIC dan Ekopastoral pertama-tama bukanlah kesuksesan menjalankan program atau meraup keuntungan finansial tetapi kesetiaan menghidupi nilai-nilai Injil sebagai dasar dari seluruh perjuangan dan cara hidup para Saudara Dina. “Up and down (red. keberhasilan dan kegagalan) adalah hal yang biasa dialami dalam suatu pelayanan sosial,” ungkap Sdr. Mike yang sebelum menjadi Minister Provinsi bertugas cukup lama dalam bidang JPIC-Ekopastoral. Seluruh rangkaian Raker ditutup dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Sdr. Fridus OFM.

Sdr. Rio Edison, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *