Untuk merayakan pesta Natal, Sdr. Frans Roozen menerima tawaran mengadakan asistensi di Komopa, daerah Paniai (Papua), tempat dimana Frans lama bertugas sebagai pastor. Pada hari Kamis 27 Desember 2001 Frans turun ke Nabire dengan pesawat, menunggu hubungan ke Jayapura.

Pada hari yang sama Sdr.Tarsi Lengari turun dari Enarotali ke Nabire, untuk menghadiri loka karya kefransiskanan saudara-saudara muda di Sentani.

Sdr. Frans dan Sdr. Tarsi sama-sama dari kantor AMA ke pastoran katolik untuk meminta penginapan untuk 1-2 malam sampai dapat meneruskan perjalanan ke Jayapura. Yang tak terduga terjadi: permintaan mereka ditolak oleh pastor Nabire yang sedang sibuk dengan serah-terima tugasnya. Kedua saudara kita ini sangat kecewa dan sedikit rasa jengkel …

Walaupun, apa yang terjadi tidak lain daripada isi pewartaan pada hari Raya Natal: “di tempat penginapan tidak ada tempat untuk mereka”. Tambah lagi bahwa Fransiskus – yang kita ingin ikuti – memberikan contoh ‘suka cita sejati’ pada waktu ia ditolak oleh saudara-saudaranya sendiri, pada malam hari, waktu cuaca sangat dingin dan salju turun dari langit… Namun, saudara-saudara kita ditolak oleh seorang pastor SJ, pada siang hari, waktu cuaca cerah, dengan rumah komunitas suster-suster AK yang berdekatan.

Dikisahkan kembali oleh Sdr. Henk van Mastrigt, ofm.

2 Comments

Tinggalkan Komentar