Depok, OFM – Sebagai sebuah jalan mengenang kisah-kisah perjuangan masa lalu, pada 6 Oktober 2023, Gardianat San Damiano, Depok yang membawahi tiga komunitas (Novisiat, Casa di Ritiro, dan Pastoran Paroki St. Paulus) mengadakan kegiatan Napak Tilas ke beberapa tempat bersejarah di Keuskupan Bogor. Jauh sebelum terbentuknya Keuskupan Bogor, daerah Jawa Barat memiliki cerita penting dalam sejarah masuknya para misionaris pasca tiba di Batavia (sekarang Jakarta) tahun 1929. Setelah di Batavia (melayani panti asuhan dan paroki), sekitar tahun 1930-an, para misionaris awal membuka lebar wilayah pelayanan ke beberapa tempat seperti Cianjur, Cicurug, Sukabumi, dan beberapa wilayah lainnya. Beberapa tempat ini menjadi saksi pewartaan Injil para saudara awal. Kegiatan Napak Tilas dilakukan sebagai bagian kegiatan memeriahkan tiga agenda besar OFM Indonesia, yaitu 40 tahun berdirinya Provinsi OFM St. Michael Malaikat Agung, Indonesia, delapan abad Anggaran Dasar yang diteguhkan dengan Bulla dan peristiwa Natal di Greccio.

Sdr. Aloysius Ombos-kiri dan Sdr. Aleks Lanur-kanan, penghuni lama Biara St. Antonius Padua, kembali ke tempat mereka mengalami formasi sebagai Saudara Dina.
Kunjungan pertama dimulai di Cicurug. Di Cicurug inilah, Fransiskan memulai pendidikan calon-calon Fransiskan Indonesia di tanah asalnya sendiri (tahun 1950). Dulu nama komunitasnya adalah St. Antonius Padua. Beberapa tahun silam, biara tersebut dijual kepada awam atas berbagai pertimbangan. Di Paroki Hati Maria Tak Bernoda Cicurug, rombongan disambut oleh pastor paroki dan dilaksanakan kunjungan singkat ke lokasi biara. Rombongan dipandu oleh umat sebagai saksi hidup keberadaan biara tersebut (sekarang kondisi biara tinggal puing-puing). Ada begitu banyak kisah-kisah yang diceritakan pada saat keberadaan Biara St. Antonius Padua ini. Kisah-kisah indah masa lalu diringkas sedemikian rupa sebab rombongan Napak Tilas melanjutkan perjalanan ke Sukabumi. Setelah dari Cicurug (sebelum siang), rombongan berangkat menuju Sukabumi dan tiba di Komunitas Susteran SFS untuk santap siang. Setelah itu, kunjungan berlanjut ke Paroki St. Joseph, Sukabumi. Di Paroki Sukabumi ini juga, rombongan disambut dengan baik oleh pastor paroki dan umatnya. Pastor Paroki Sukabumi memberikan perkenalan singkat tentang paroki tersebut.
Menjelang sore, rombongan Napak Tilas berangkat menuju tempat yang ketiga, yaitu Paroki St. Petrus, Cianjur. Hingga sekarang paroki masih dilayani oleh saudara-saudara OFM Indonesia. Di paroki Cianjur, rombongan disambut secara meriah oleh dua saudara dan beberapa tokoh umat yang menjadi saksi hidup sejarah paroki Cianjur. Persiapan penyambutannya cukup serius, sehingga rombongan cukup betah di sana dan enggan untuk beranjak melangkah ke tempat kunjungan terakhir, yaitu Cipanas. Sebelum matahari terbenam, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Paroki St. Maria Para Malaikat, Cipanas.

Para Saudara Gardianat San Damiano Depok bersama sdr. Berto dan sdr. Ignas yang melayani umat di Paroki Cipanas.
Paroki Cipanas menjadi tempat terakhir kunjungan. Paroki ini juga masih setia dilayani oleh dua saudara Fransiskan. Rombongan disambut secara hangat oleh Sdr. Berto Jandu, Sdr. Ignas Wagut, dan beberapa perwakilan tokoh umat yang hadir. Kemudian, kunjungan berakhir di komunitas Carceri, kompleks Panti Asuhan St. Yusup, Sindanglaya. Setelah santap malam di komunitas Carceri, rombongan kembali menuju Depok. Kegiatan Napak Tilas ini berjalan dengan baik. Para rombongan dapat berangkat dari Depok dan kembali ke tempat yang sama dengan selamat.
Kisah perjalanan seharian dari Para Saudara Gardianat San Damiano Depok adalah jalan menolak lupa. Ini adalah jalan merawat ingatan. Ingatan untuk menelusuri jejak-jejak dan jatuh bangun pelayanan para tokoh perintis yang sudah mewariskan sejarah perlu diingat dan dirawat dengan baik. Semoga semangat para misionaris awal terus dihidupkan oleh generasi-generasi sesudahnya. Pace e bene.
Kontributor: Sdr. Guido Ganggus, OFM
Ed.: Sdr. Vincent, OFM

keren Tuang