Jakarta, OFM ― Sesuai dengan program bulanan FORKASI, para Saudara Muda kembali melaksanakan rekoleksi pada Jumat, 16 Mei 2025, bertempat di STF Driyarkara. Rekoleksi kali ini dibawakan oleh Sdr. Stefan Nampung OFM dengan tema “Refleksi Sosiologis Hidup Menggereja: Melihat, Menilai, Melakukan, (Mengevaluasi),” sebagai bekal bagi para Saudara Muda dalam berdinamika di tengah masyarakat secara lebih reflektif dan kontekstual.
Berbeda dari rekoleksi sebelumnya, kali ini kegiatan hanya diadakan selama satu hari, sehingga susunan acara disesuaikan. Sesi pertama rekoleksi berlangsung pada pukul 18.00-18.45 WIB. Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk melihat kaitan antara Sosiologi dan Teologi (ASG), sekaligus memahami ketegangan dan titik temu di antara keduanya. Dari perjumpaan itu lahirlah satu prinsip dasar yang menjadi benang merah pembahasan malam itu: Sosiologi Katolik.

Para Saudara Muda sedang menyimak pemaparan materi Sdr. Stefan Nampung OFM.
Sdr. Stefan menantang para Saudara Muda untuk merefleksikan identitasnya: “selama menjadi seorang Fransiskan, apakah saya lebih sosiologis teologis?” lebih jauh lagi, para saudara diajak bertanya pada diri sendiri, “Sudahkah atau bisakah saya bertindak berdasarkan prinsip sosiologi Katolik?” Pertanyaan reflektif ini tidak hanya ditujukan kepada individu, tetapi sebagai suatu komunitas persaudaraan. Setelah sesi pertama yang penuh permenungan rohani, kegiatan dilanjutkan dengan makan malam dalam suasana silentium. Sesi kedua dimulai pukul 19.45-20.30 WIB.
Sesi kedua membawa peserta ke pembahasan yang lebih dalam dan kontekstual. Kali ini, Sdr. Stefan mengangkat persoalan dosa sosial dan bagaimana dosa ini sering kali berakar dalam komunitas atau kelompok. Ditekankan bahwa pertobatan sosial mesti dimulai dari pertobatan pribadi. Dosa sosial tidak bisa dilepaskan dari individu-individu yang membentuk struktur, maka renovasi hati dengan prinsip sosiologi Katolik menjadi pintu masuk utama. Satu pertanyaan reflektif diajukan: “dosa struktural apa yang hendak kita tanggulangi dalam biara, ordo, komunitas, angkatan, FORKASI, dan sebagainya?”
Pertanyaan tersebut mengingatkan para Saudara Muda pada semangat pertobatan St. Fransiskus Assisi, yang memulai perubahan bukan dari luar, melainkan dari dalam dirinya sendiri. Sesi ini ditutup dengan doa malam, dan para saudara kembali ke komunitas masing-masing dengan membawa bekal refleksi yang diharapkan dapat dihayati dalam kehidupan persaudaraan sehari-hari. Berbeda dari bulan-bulan sebelumnya, rekoleksi kali ini tidak diisi dengan perayaan Ekaristi atau sesi sharing, tetapi menawarkan ruang hening dan reflektif yang kuat. Semoga pengalaman rekoleksi singkat ini menjadi titik awal pertobatan sosial yang nyata dan membumi.
Oleh: Sdr Axel Rana OFM
Ed.: Sdr. Rio OFM

Tinggalkan Komentar