Jakarta, OFM – Minggu, 19 April 2026, Keluarga Fransiskan-Fransiskanes Jakarta (KANESTA) mengadakan Seminar dengan judul ” Mengulik Dinamika Gerakan Religius Fransiskus Assisi” di kapel Panti Asuhan Vincentius Putra jln. Kramat 134, pkl. 09.30 hingga 10.45 WIB. Guru besar Sejarah Gereja dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Sdr. Antonius Eddy Kristiyanto OFM dipercayakan menjadi pembicara dalam seminar yang dihadiri lebih dari 200 peserta ini. Dalam kesempatan ini, Sdr. Edy Kristiyanto akan menyampaikan semacam ringkasan dari karya terbarunya, “Dinamika Gerakan Religius Fransiskus Assisi, Sejarah Keberakaran, Ketersebaran, dan Kepedulian” terbitan Obor, Maret 2026.
Fransiskan yang akrab disapa Romo Edy, ini memaparkan dengan kreatif narasi historis perihal dinamika gerakan Fransiskan yang dimulai oleh St. Fransiskus Assisi (1182-1226). Dengan gayanya yang khas, Sdr. Edy mengajak peserta seminar dengan melemparkan pertanyaan, “Apa yang menarik dari Fransiskus Assisi?” Kepada forum seminar, Saudara yang dikenal produktif menulis karya-karya ilmiah ini menegaskan bahwa St. Fransiskus Assisi mempunyai peak experience, pengalaman puncak yang merupakan daya hidup dan gerakannya membarui gereja. Pengalaman puncak St. Fransiskus Assisi, menurut tuturan Sdr. Edy, adalah momen penting pertobatannya yang melandasi gerakan radikal Fransiskus Assisi dan para pengikutnya. “Seperti Fransiskus Assisi, kita, para pengikutnya pun punya pengalaman-pengalaman puncak serupa,” ungkap Sdr. Edy.
Tidak lupa pula, dalam pemaparannya, Sdr. Edy mengingatkan para Fransiskan untuk menimba makna dari bapa pendiri melalui kesaksian hidup doa, kontemplasi, kesaksian yang gigih, tidak setengah-setengah, dan sebagainya. Fransiskan yang puluhan tahun mengabdikan dirinya bagi dunia akademik ini memberi penekanan pada dua pilar kehidupan religius fransiskan, yakni fraternitas dan minoritas. Ia menuturkan, “ukuran fraternitas adalah ketika di dalam komunitas, tidak ada Saudara yang dilukai.” Demikian pula terkait dengan minoritas, ia menegaskan bahwa “bagi Fransiskus Assisi, kemiskinan adalah mahkota utama, suatu sikap batin yang terwujud dalam hal-hal nyata, tidak menumpuk dan tidak serakah, “ tegas Sdr. Edy meyakinkan.
Perlu diketuahi bahwa kegiatan hari ini menjadi bagian dari seluruh rangkaian peringatan 800 tahun wafatnya St Fransiskus Assisi, Tahun Khusus Yubileum Fransiskan & secara khusus pernyataan Janji Setia Fransiskan terhadap Gereja yang dalam tradisi biasa diadakan setiap 16 April. Hadir dalam acara ini para Saudara dan Saudari yang tergabung dalam KANESTA, biarawan-biarawati Ordo Pertama & Ordo Ketiga Regular, serta para Fransiskan awam (Ordo Ketiga Sekular).
Sdr. Efendy Marut OFM/FMC

Tinggalkan Komentar