Jauh di ujung paling barat Borneo, di tepian batas Indonesia–Malaysia, ketika matahari hampir tenggelam dan udara masih membawa aroma panas arang dan kebakaran, seseorang dapat menyantap, hanya dengan jari-jarinya, makanan yang bagi orang luar mungkin tampak seperti hasil dari sesuatu yang telah rusak: Bekasam, atau yang oleh masyarakat Dayak Iban sebut sebagai Jukut.Nasi yang sudah dingin. Ikan yang dipotong-potong, garam, ragi dan waktu; semuanya tercampur. Tak ada saus yang rumit, tak ada teknologi mesin yang mengesankan, tapi mikroorganisme bekerja dalam gelap, memecah dan mengubah apa yang sebelumnya segar menjadi sesuatu yang masam, asin, dan beraroma tajam. Bagi orang yang asing, mungkin ini terdengar seperti proses pembusukan. Bagi mereka yang menyukainya, inilah jukut: ikan fermentasi yang sederhana, tegas aromanya, dan lezat.
Barangkali kehidupan manusia juga bekerja dengan cara yang demikian. Kita sering mengira bahwa sesuatu yang membusuk, terluka, hancur dan kehilangan bentuk, atau bahkan sedang menuju kematian, tidak lagi memiliki masa depan. Kita terlalu cepat mengira bahwa akhir dari suatu bentuk adalah akhir dari kehidupan itu sendiri. Tetapi Jukut justru mengajarkan sesuatu yang sederhana dan agak mengganggu tentang kehidupan, yakni bahwa tidak semua perubahan menuju kehidupan baru tampak seperti kemajuan. Kadang-kadang kehidupan harus terlebih dahulu kehilangan bentuk lamanya. Sesuatu harus dibiarkan pecah, larut, dan berubah melalui kerja makhluk-makhluk kecil yang tidak kita kendalikan. Makhluk-makhluk kecil yang bekerja dalam gelap itu sendiri dapat mati dan lenyap, sementara dari perubahan itu kehidupan lain dapat bertumbuh
Mungkin dari situlah kita dapat mulai memahami Fransiskus dari Assisi.
Kita terlalu sering mengenal Fransiskus sebagai sosok yang sudah sejak mula kudus. Ia berbicara kepada burung-dan serigala, memeluk orang yang sakit kusta, menyebut matahari dan air sebagai saudara dan saudari, lalu menjadi ikon perdamaian dan ekologi. Patungnya berdiri di taman-taman, dengan tangan terbuka yang dihinggapi merpati-merpati putih. Namanya diberikan kepada sekolah, universitas, rumah sakit, komunitas ekologis, bahkan gerakan politik-kiri anarkis. Dalam perjalanan waktu, Fransiskus telah menjadi sesuatu yang sangat mudah kita cintai dan justru karena itu, mudah pula kita jinakkan atau bahkan kita salah pahami.
Tetapi Fransiskus yang hidup tidaklah jinak.
Ia adalah manusia yang berkali-kali mengalami keruntuhan. Ia tumbuh dalam keluarga pedagang yang sedang naik daun, menikmati pakaian bagus, pesta, persahabatan, dan mimpi tentang kejayaan. Ia pergi berperang dan ditawan. Ia sakit. Ia mengalami perubahan batin yang tidak datang sebagai sebuah keputusan sederhana, melainkan sebagai proses panjang kehilangan pegangan lama dan hidup tanpa janji akan kestabilan. Apa yang dahulu dianggap rumah, sekarang justru terasa asing. Apa yang dahulu memberinya arah, perlahan kehilangan daya untuk menunjukkannya ke mana harus pergi.
August Thompson (2012) menggambarkan masa ini bukan sebagai jalan lurus menuju kesucian, melainkan sebagai masa pencarian yang penuh kegelisahan. Fransiskus seperti berada di antara dua kehidupan: yang lama telah runtuh, tetapi yang baru belum juga tampak. Ia tidak tahu akan menjadi apa dan siapa. Ia hanya tahu bahwa ia tidak dapat kembali menjadi dirinya yang dahulu. Maka ia mulai berjumpa dengan apa yang selama ini ia hindari: gereja yang nyaris roboh, orang-orang kusta, kisah hidup Yesus, kelahiran-Nya di Betlehem, dan akhirnya Salib Kristus. Kekalahan, penjara, luka, dan kegagalan perlahan membawanya mendekati dunia yang sebelumnya terasa asing baginya.
Dalam Wasiat-nya, Fransiskus mengenang: “Ketika aku masih dalam dosa, rasanya terlalu pahit bagiku melihat orang kusta. Tetapi Tuhan sendiri menghantar aku ke tengah-tengah mereka; dan ketika aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya terasa pahit berubah menjadi kemanisan jiwa dan badan.”
Yang dahulu dijauhinya, kini ia dekati. Yang dahulu membuatnya jijik, kini ia layani. Dalam diri mereka, ia mulai mengenali sesuatu yang juga hidup dalam dirinya sendiri: luka, kerapuhan dan ’kematian’.
Barangkali di sinilah kita mulai mendengar apa yang Jukut katakan tentang Fransiskus: sesuatu harus kehilangan bentuk lamanya agar dapat masuk ke dalam hubungan yang baru. Ikan tidak lagi menjadi ikan seperti semula. Melalui kerja fermentasi, melalui kehidupan dan kematian organisme-organisme kecil yang bekerja di dalamnya, ia berubah menjadi sesuatu yang lain: menjadi makanan. Sesuatu mati sebagai bentuk lama, dan dari kematian itu kehidupan lain mendapat makanan.
Fransiskus pun begitu. Satu demi satu, hal-hal yang dahulu membentuk dirinya mulai dilepaskan. Dan setiap kehilangan membawanya kepada sesuatu yang lebih luas: kepada orang-orang yang dahulu ia jauhi, kepada saudara-saudaranya, kepada ciptaan, kepada Kristus. Ia tidak menjadi dirinya yang baru dengan kembali kepada bentuk dirinya yang lama. Ia berubah justru karena bersedia kehilangan sesuatu dari dirinya sendiri.
Ia adalah manusia yang hidupnya dibentuk oleh kehilangan, kerapuhan, luka, dan kematian. Namun kematian-kematian kecil itu tidak membuat hidupnya semakin sempit (bdk. Andre Vauchez 2012). Sebaliknya, dari sana lahir ruang bagi persaudaraan, bagi cara baru memandang ciptaan, bagi keberanian untuk mendekati mereka yang sebelumnya ia hindari, dan akhirnya bagi penyerahan hidupnya kepada Kristus.
Pada tubuhnya, semua itu seakan bertemu. Di La Verna, Fransiskus menerima stigmata: luka-luka Kristus menjadi tanda yang melekat pada tubuhnya sendiri. Tubuh yang rapuh, terluka, dan semakin dekat kepada kematian menjadi tempat perjumpaan antara luka dirinya, luka Gereja dan persaudaraan, luka orang-orang kusta yang pernah ia dekati, dan luka Kristus yang tersalib. Stigmata bukan sekadar tanda penderitaan. Ia adalah tanda konformitas: tubuh Fransiskus semakin menyerupai Kristus yang memecah-mecahkan diri-Nya bagi kehidupan. Fransiskus semakin menyerahkan dirinya kepada Kristus, dan tubuhnya menjadi tanda dari penyerahan itu. Hingga akhirnya, di Portiuncula, ia menerima kematian bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai passover, sebuah transitus, menuju perjumpaan total dengan Allah: ”Terpujilah Engkau,Tuhanku, karena Saudari Maut badani, daripadanya tidak akan terluput insan hidup satu pun. Celakalah mereka yang mati dengan dosa berat; berbahagialah mereka yang didapatinya setia pada kehendak-Mu yang tersuci, karena mereka takkan ditimpa maut kedua”.
Barangkali itulah sebabnya Fransiskus terus hidup dalam ingatan Gereja dan dunia. Ia tidak menjadi besar karena berhasil mempertahankan dirinya, melainkan karena semakin bersedia menjadi kecil. Semakin ia melepaskan egoisme, semakin banyak yang dapat ia rangkul. Semakin ia kehilangan, melalui kematian-kematian kecil yang terus-menerus dialaminya, semakin luas kehidupan yang dapat tumbuh melaluinya.
Dan Jukut memberitahu kita, siapa Fransiskus Assisi.
Sdr. Desideramus Ansbi Baum OFM

Tinggalkan Komentar