Tangisan Harapan Orang Miskin dan Segenap Ciptaan

Surat Minister General

untuk Perayaan Hari Orang Miskin ke-IX

16 November 2025

 

Kepada semua saudara dalam Ordo

Saudara-saudara yang terkasih,

Semoga Tuhan memberi kalian damai!

Sementara kita menjalani Tahun Yubileum 2025 ini, saya membaca Pesan untuk Hari Orang Miskin ke-IX yang diterbitkan oleh Paus Leo XIV pada 13 Juni lalu, pada “Peringatan Santo Antonius dari Padua, Pelindung Orang Miskin”.[1] Pertanyaan yang muncul, bagaimana kita sebagai saudara dina bertanggung jawab -dengan alasan historis-spiritual dan Gerejawi- dalam berbagi hidup dan melayani orang miskin?

Di tengah-tengah Pesan tersebut, kita menemukan kata-kata Pemazmur: “Engkaulah harapanku, Tuhan” (Mzm 71,5). Ini adalah pengakuan iman yang lahir dari cahaya yang menerangi “kegelapan hatiku”, seperti yang dikatakan Fransiskus muda di San Damiano, dan teguh dalam keyakinan bahwa hanya dalam Allah kita menemukan jangkar kehidupan yang sejati.

Tepat pada Tahun Yubileum ini, sebagai Keluarga Fransiskan, kita juga memperingati Perayaan Ke-800 Kidung Segenap Ciptaan. Kedua perayaan ini mengajak kita menjadi peziarah harapan bersama orang miskin dan ciptaan. Paus Fransiskus mengingatkan kita akan visi integral ini: “Tidak ada dua krisis yang  terpisah yang satu terkait lingkungan dan yang lain sosial, tapi itu satu krisis sosial lingkungan yang kompleks. Pedoman untuk solusi membutuhkan sebuah pendekatan integral untuk memerangi kemiskinan, memulihkan martabat orang yang dikucilkan, dan pada saat yang sama melestarikan alam.”.[2] Teriakan orang miskin harus didengar bersama dengan teriakan ciptaan, rumah kita bersama, tidak hanya dalam nada kesedihan dan keluhan, tetapi juga dalam nada harapan.

Kita mendengarkan teriakan ini bersama Santo Fransiskus, yang di Greccio ingin “melihat dengan mataku sendiri keadaan-keadaan pahit dan papa yang dideritanya sebagai Bayi, bagaimana Kanak-kanak itu dibaringkan di dalam palungan dan bagaimana Kanak-kanak itu diletakkan di atas jerami, dengan didampingi lembu dan keledai”.[3] Kita dipanggil pada Tahun Yubileum ini untuk menjadi peziarah harapan bersama orang miskin, mengenali mereka sebagai guru-guru utama Injil, dengan mendengarkan teriakan mereka dan teriakan ciptaan. Bapa Suci mengingatkan bahwa orang miskin dapat menjadi saksi harapan yang kuat dan dapat diandalkan, tepatnya karena kepercayaan mereka tidak bertumpu pada keamanan kekuasaan dan kepemilikan, tetapi hanya pada Allah.

 

Injil membebaskan dari belenggu zaman kita

Dalam Nyanyian Makhluk-Makhluk, Santo Fransiskus menunjukkan kepada kita bahwa Kesegaran Injil memutuskan belenggu pengucilan, berkat persaudaraan antarmanusia dan kosmis; belenggu kebencian melalui pengampunan; dan belenggu ketakutan akan kematian, dengan menerimanya sebagai saudari kita. Belenggu-belenggu hari ini terungkap dalam bentuk perbudakan baru: perbudakan ekonomi yang dibatasi, perbudakan ketidakpedulian global, dan perbudakan budaya kesejahteraan yang “menutup mulut suara-suara mereka yang hidup dalam kemiskinan”.

Pada saat yang sama, Paus Leo XIV dengan jelas memperingatkan: “Kemiskinan terbesar adalah tidak mengenal Allah”. Ini adalah diskriminasi terburuk yang dialami orang miskin: kurangnya perhatian yang utuh terhadap seluruh pribadi, termasuk dimensi spiritual. Sebagai saudara dina, kita dipanggil untuk menawarkan bukan hanya roti untuk tubuh, tetapi juga dan bersama-sama dengan kedakatan dengan Allah melalui FirmanNya, mempersembahkan Roti Ekaristi dan roti persaudaraan.

Berada bersama orang miskin bagi kita jauh lebih bermakna daripada aktivitas amal apa pun, seberapa pun pentingnya. Itulah cara untuk menjadi saudara dina. Seperti yang ditulis Paus Fransiskus: “Kita dipanggil untuk menemukan Kristus di dalam diri mereka, untuk meberikan suara kita bagi perkara-perkara mereka, dan juga menjadi sahabat-sahabat mereka, mendengarkan mereka, memahami mereka dan menerima hikmat tersembunyi yang ingin disampaikan Allah kepada kita melalui mereka.”.[4]

Persaudaraan sebagai “pintu suci” penyambutan (the doors of welcome) 

Pada Tahun Suci ini, sementara ribuan peziarah telah memasuki Pintu Suci, persaudaraan kita dipanggil untuk menjadi “pintu suci” penyambutan bagi orang miskin. Kita tidak boleh membiarkan realitas virtual menguasai kehidupan nyata, sehingga orang miskin menjadi “gambar yang hanya berlalu untuk sementara waktu”, tapi tatkala kita menjumpai mereka “secara langsung di jalanan”, kita menyingkirkan “ketidaknyamanan dan marginalisasi” yang menguasai.

Apakah kita mampu menjadi teman orang miskin, mengatasi jarak yang memisahkan kita dari mereka? Pesan Bapa Suci mengarahkan kita kembali ke sumbernya: “Harapan lahir dari iman -yang menyuburkan dan menopangnya-, atas dasar fondasi kasih, -yang merupakan ibu dari semua kebajikan”. Kekuatan inilah yang mengubah cara hidup dan penilaian kita, dan, “melayani Tuhan dalam kemiskinan dan kerendahan hati”[5] memampukan kita menjadi saudara sejati di antara kita sendiri dan dengan semua orang.

Oleh karena itu, Fransiskus, pada awal Ordo, “ingin agar para saudara tinggal di dalam tempat tinggal orang kusta untuk melayani mereka”.[6] Kita tahu bahwa ada cara khusus yang diterapkan Fransiskus dalam merawat mereka yang menderita kusta. Cara ini didasarkan pada totalitas untuk berbagi penderitaan dan kondisi mereka: perlu untuk membersihkan luka mereka, memberikan obat, melayani mereka, dan benar-benar hidup bersama mereka, bahkan makan dari mangkuk yang sama.[7] Mari kita temui orang miskin, mari kita memberikan diri disambut oleh mereka. Dengan demikian, kita mengubah cara pandang kita tentang wajah kita sendiri dan wajah Tuhan.

Hal ini berlaku bagi setiap kita, bagi persaudaraan kita, dan bagi karya-karya kita, yang dapat menjadi “tanda-tanda harapan”, membuat kita terlebih dahulu menjadi lebih sederhana dan miskin, dan belajar hidup bersama dan di antara orang miskin melalui berbagi dan partisipasi dalam rumah keluarga, pusat pendampingan (the center of listening), meja untuk orang miskin, sekolah umum, menyambut para pengungsi dan migran, serta proyek-proyek ekologi integral.  Ini adalah tanda-tanda yang sering tersembunyi namun sangat penting “untuk menyingkirkan ketidakpedulian dan membangkitkan komitmen”.

Dari belaskasihan ke keadilan

Dalam pesannya, Bapa Suci menyimpulkan: “Membantu orang miskin sebenarnya adalah soal keadilan, bukan sekedar soal belas kasihan”. St. Fransiskus telah memahami ikatan mendalam ini. Dalam AngTBul ia menulis: “Sedekah adalah warisan dan hak (keadilan) yang wajib diberikan kepada orang miskin: Tuhan kita Yesus Kristus telah memperolehnya bagi kita”.[8] Bagi dia, berbagi bukanlah pilihan amal, tetapi tuntutan iman dan keadilan Injili.

Hal ini mengundang kita untuk mempromosikan kebaikan bersama, bekerja untuk ekonomi fraternal, dan mengutuk penyebab struktural kemiskinan.  Sine proprio bukan hanya pengorbanan pribadi, tetapi kesaksian profetik bahwa barang-barang di bumi harus “secara setara dapat diakses” (equally accessible) untuk semua.

Dalam hal ini, komitmen kantor JPIC kita bersama Keluarga Fransiskan adalah mengoordinasikan berbagai jaringan regional atau kontinental untuk para migran, perdamaian, dan ekologi integral.  Ini bukan aktivitas -aktivitas pinggiran, tetapi ekspresi autentik karisma Fransiskan di dunia saat ini.

Tindakan Pelayanan pada 2025 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada kesempatan Perayaan ini, saya meminta setiap saudara dan setiap persaudaraan untuk melakukan tindakan pelayanan konkrit dan berbagi dengan orang-orang dan situasi yang kurang beruntung. Kegiatan ini bukan tindakan sporadis, tetapi sebagai awal dan akan berlanjut pada perjalanan kita nanti sepanjang Peringatan Kematian Santo Fransiskus.

Untuk itu, saya mengajak Anda untuk:

  • Memperkaya pengetahuan tentang lingkungan dan situasi kemiskinan yang mengelilingi kita.
  • Membuka pintu kita untuk mendengarkan dan menyambut, meninggalkan zona nyaman kita.
  • Bekerja sama dengan komunitas gerejawi dan sipil lainnya dalam merawat yang paling rentan.
  • Menyampaikan suara (berdoa bagi) orang miskin di komunitas dan perayaan kita.

Ketika Pintu Suci Yubileum ditutup, kita akan menjaga dan meneruskan karunia yang diterima. Orang miskin bukanlah objek pelayanan pastoral kita, tetapi subjek kreatif yang mendorong kita untuk selalu menemukan bentuk-bentuk baru menghidupi Injil saat ini.

Dengan Maria, Perawan yang miskin  (Poor Virgin)

Fransiskus memilih Maria sebagai teladan karena dalam dirinya ia melihat sosok yang, bersama dengan Putranya, “ingin memilih kemiskinan di dunia ini”.[9] Perawan yang miskin adalah lambang bagi mereka yang tahu cara mengatakan “ya” kepada Allah dan dengan sepenuhnya bergantung pada kasih karunia-Nya, bahkan dalam ketidakpastian dan kerentanan.  Bersama dia kita berkata: “Pada-Mu, Tuhan, aku berharap, jangan biarkan aku kecewa” (Mzm 25,2).

Orang-orang miskin mengajarkan kepada kita bahwa harapan Kristiani seperti jangkar yang menancapkan hati kita pada janji Tuhan Yesus. Di Tahun Suci ini, mari kita biarkan diri kita dipimpin oleh mereka menuju “langit baru dan bumi baru” (Why 21,1),  di mana keberadaan setiap makhluk akan menemukan makna sejatinya. Semoga Santo Fransiskus, yang menemukan jalan menuju Injil melalui orang-orang kusta, menemani kita dalam perjalanan pertobatan dan pelayanan ini.

 

Bagi yang berkenan, silakan bagikan kepada saya tentang tindakan yang dilakukan oleh persaudaraan Anda, beserta foto (mingen@ofm.org), sebagai bentuk kesaksian akan kebaikanmu.

Dengan Berkat Santo Fransiskus dan pelukan persaudaraan saya,

Harare (Zimbabwe), 1 November 2025

Pada Hari Raya Semua Orang Kudus

Br. Massimo Fusarelli, OFM

Minister General and Servant

Diterjemahkan (secara bebas) oleh Sdr. Yosep Selvinus Agut OFM.

Sumber: https://ofm.org/lettera-del-ministro-generale-per-la-ix-giornata-mondiale-dei-poveri.html

[1] Perayaan Hari Orang Miskin Sedunia dimulai sejak 2016 dan dirayakan pada setiap Minggu Biasa XXXIII. Biasanya Pesan Paus untuk Peringatan ini dikeluarkan pada 13 Juni setiap tahunnya, pada Peringatan St. Antonius Padua -disebutkan sebagai Pelindung Orang Miskin. Pada 2025 Pesan Paus Leo XIV berjudul “You are My Hope (Mzm 71,5); dapat dibaca pada https://www.vatican.va/content/leo-xiv/en/messages/poor/documents/20250613-messaggio-giornata-poveri.html

[2] Laudato Si, art. 139

[3] 1 Cel 84

[4] Pesan Paus Fransiskus pada Hari Orang Miskin Sedunia ke V tahun 2021, art. 2.

[5] AngBul VI, 2

[6] The Assisi Compilation, 9

[7] The Assisi Compilation, 12

[8] AngTBul IX,8

[9] 2SurBerim 5

Tinggalkan Komentar