Panti Asuhan St. Vincentius Putra sukses mementaskan drama musikal berjudul Memento Mori dalam rangka memperingati 800 tahun wafatnya St. Fransiskus Assisi dan 111 tahun usia Panti Asuhan St. Vincentius Putra, di Ballroom Vitra, Kramat, Jakarta. Pentas yang berlangsung selama dua hari (2-3 Oktober) tersebut dihadiri oleh total seribuan penonton. Pada hari kedua hadir pula Nunsius Apostolik untuk Indonesia, Mgr. Walter Erbi dan Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM.
Drama musikal ini berhasil memadukan dengan indah seni teater, orkestra, paduan suara, seni tari, dan permainan ansamble tradisional seperti kolintang dan angklung sekaligus. Memento Mori sendiri merupakan ungkapan bahasa Latin yang kira-kira berarti: “Ingatlah bahwa engkau akan mati”. Dalam drama musikal ini, ungkapan Memento Mori bermakna sebagai ajakan untuk berani mengambil risiko kematian berkali-kali dalam kehidupan ini.
Agaknya, keterkaitan arti literal ungkapan di atas dengan makna yang diusung drama musikal ini dapat dilukiskan dengan kata-kata Paulo Coelho, ketika ia menulis demikian: “Apa gunanya merasa takut pada kematian, sebab kita semua, cepat atau lambat, toh akan mati juga. Dan hanya mereka yang telah menerima kenyataan ini, yang siap menjalani kehidupan” (Seperti Sungai yang Mengalir, 144). Dalam artian ini, Memento Mori tak lain merupakan suatu ajakan untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaik mungkin. Tetapi persis di sini pertanyaannya akan muncul, bagaimana caranya agar dapat menjalani kehidupan ini dengan sebaik mungkin?
Di sinilah Memento Mori membawa kita ke dalam inti pesannya: Dengan berani mengambil risiko kematian berkali-kali! Untuk itu, dengan segera Memento Mori memperlihatkan seorang kudus dari Kota Assisi, Fransiskus namanya, sebagai model dan ideal dari barisan yang berani mengambil risiko kematian berkali-kali itu.
Dari perspektif Memento Mori, Fransiskus Assisi merupakan contoh anak manusia yang mencapai kesempurnaan hidup justru karena berani mengambil risiko kematian berkali-kali. Dengan demikian, jika dipadankan dengan vokabuler khas Fransiskan, jelas bahwa kematian di sini merupakan ungkapan metaforis untuk menyebut peristiwa pertobatan yang terjadi secara terus menerus dalam kehidupan St. Fransiskus Assisi. Lantas bagaimana Memento Mori mementaskan dirinya hingga membawa kita kepada St. Fransiskus Assisi?
Memento Mori mendirikan tiang-tiang ceritanya dari peristiwa tabrakan hebat yang menimpa seorang pemuda kaya dan necis bernama Luka dan pertanyaan-pertanyaannya tentang kematian di depan sebuah gerbang kematian. Singkat kisah, dari gerbang kematian itu tokoh Luka lalu dipandu oleh seorang sosok penjaga pintu gerbang tadi ke lima babak cerita berikutnya, yang masing-masing berisi tentang rangkaian peristiwa pertobatan Santo Fransiskus Assisi.
Kelima peristiwa tersebut antara lain: Pertama, peristiwa Fransiskus bertelanjang bulat di depan mata Assisi sebagai buntut pertikaiannya dengan sang ayah, Pietro Bernardone. Kedua, peristiwa perjumpaan intens Fransiskus pasca pertobatannya dengan orang-orang kusta. Ketiga, peristiwa Fransiskus memulai tradisi Kandang Natal di Greccio. Keempat, peristiwa Fransiskus mendapatkan anugerah stigmata di Gunung La Verna. Kelima, peristiwa Fransiskus menyambut kematian layaknya menyongsong seorang saudari sebagaimana dikatakannya dalam bait terakhir dari gubahan “Gita Sang Surya”.
Dengan menunjukkan peristiwa-peristiwa ini, tokoh Pemandu hendak meyakinkan tokoh Luka akan satu hal, yakni bahwa kematian berkali-kali atau pertobatan-terus menerus bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, kematian atau pertobatan tak lain merupakan pintu yang membuka kepada kelahiran kehidupan yang baru. Dalam ungkapan tokoh Pemandu, “Untuk benar-benar hidup, kita justru harus mati berkali-kali.”
Dalam adegan, keberhasilan tokoh Pemandu membimbing tokoh Luka tampak dalam perubahan-perubahan komentar, dan paling mencolok pada kostum Luka sendiri. Semakin mendekati babak terakhir, penampakan Luka makin sederhana dan bahkan menjadi mirip dengan penampakan orang-orang sezaman Fransiskus Assisi. Di akhir perjalanan, berkat semua hal tersebut, tokoh Luka pun mencapai semacam pencerahan dan berani memeluk pengalaman kematiannya sendiri.
Drama musikal ini dikerjakan secara kolaboratif oleh beberapa pihak di bawah tanggung jawab Pimpinan Panti, Sdr. Anton Widarto OFM. Usai pentas, tak sedikit dari antara penonton yang berdecak kagum dan mengaku sangat puas atas keberhasilan drama musikal ini.
Sdr. Tian Gunardo OFM


Tinggalkan Komentar