Jangan Tinggalkan Kami, Bulang …

[tab name=’Berita’]

Minggu, 25 November 2012 sekitar pukul 18.00 WIB Sdr. Taucen tersentak kaget ketika mendengar berita dari kampung halaman yang mengatakan bahwa Bapak Marihot Marianus Girsang (orangtua Sdr. Taucen) dipanggil Tuhan di RS. Tiara, Pematang Siantar yang berjarak sekitar 2 jam perjalan mobil dari kampung halamannya di Saribu Dolok. Berita ini juga diteruskan oleh Sdr. Taucen kepada Pelayan Provinsi dan Sekretaris Provinsi. Sekitar pukul 21.00 WIB Sdr. Adrianus Sunarko ditemani oleh Sdr. Mateus dan Sdr. Agus Dewantoro serta beberapa suster FSE tiba di Komunitas Pastoran St. Paulus Depok. Suasana duka terlihat di wajah Sdr. Taucen. Banyak umat baik dari paroki St. Paulus Depok maupun dari Paroki Kelapa Dua datang silih berganti menyalami Sdr. Taucen sebagai ungkapan turut berdukacita. Tepat pukul 23.00 WIB Sdr. Taucen berangkat menuju Provinsialat ditemani oleh Sdr. Adrianus Sunarko, Sdr. Mateus, Sdr. Agus Dewantoro, suster-suster FSE dan beberapa umat. Dengan wajah yang bersedih Sdr. Taucen menginap di Provinsialat sebelum berangkat menuju ke Medan di pagi harinya dengan pesawat pukul 06.00 WIB. Sdr. Taucen memiliki keinginan akan kehadiran persaudaraan untuk melayat di kampungnya dalam rangka memberi kekuatan pada ibu dan saudara-saudaranya di rumah. Pelayan Persaudaraan, Sdr. Adrianus Sunarko memenuhi keinginan Sdr. Taucen dan meminta Sdr. Mateus untuk melayat ke Saribu Dolok.

Sdr. Taucen bersama lima orang keluarganya yang ada di Jawa berangkat menuju Medan pada 26 November dengan pesawat pukul 06.00 WIB. Sdr. Mateus bersama dengan Ketua Dewan Paroki St. Paulus Depok, Bapak Gultom juga berangkat menuju Medan dengan pesawat yang pukul 15.00 WIB. Perjalanan dari Medan menuju Saribu Dolok (kampung Sdr. Taucen) ditempuh dengan 4 jam perjalanan mobi lewat lintas Brastagi dan Kabanjahe (Tanah Karo).

Misa Requiem untuk arwah Bapak Marihot Girsang dirayakan pada malam harinya pukul 20.00 WIB di rumah keluarga Sdr. Taucen.. Perayaan ekaristi dipimpin oleh Pastor Paroki, P. Ambrosius, OFM Cap yang didampingi oleh P. Fransiskus Manullang, OFM Cap, P. John Rufinus, OFM Cap, P. Dionysius, OFM Cap, P. Cornelius Sipayung, OFM Cap dan P. Taucen Girsang, OFM. Terlihat banyak umat yang hadir dan juga ada beberapa suster-suster SFD baik dari Medan maupun dari Saribu Dolok ikut serta untuk mendoakan arwah Bapak Marihot Girsang. Sdr. Mateus dan Bapak Gultom masih dalam perjalanan menuju Saribu Dolok. P. Ambrosius, OFM Cap menyampaikan dalam homilinya kesan-kesan yang terlintas selama ada bersama alhmarhum. Beliau mengatakan bahwa alharmuh adalah sosok yang gembira dan periang serta peduli pada pastor dan suster-suster. Ia mengatakan bahwa ketika panen jeruk tiba maka pastoran dan susteran adalah menjadi tempat pertama yang merasakan buah jeruk panenan yang dikerjakannya.

Penghormatan terakhir pada almarhum dilanjutkan dengan Ritus Adat Simalungun. Jenazah alamarhum dipindahkan dari rumah keluarga menuju tempat persemayaman yang dalam bahasa simalungun dikenal dengan istilah “loss”. Selasa, 27 November adalah hari pelaksanaan ritus adat simalungun untuk menghormati almarhum. Sepanjang hari itu para tamu yang datang melayat duduk di sekitar peti jenazah di posisi yang sudah ditetapkan secara adat juga. Sebelum acara adat dimulai terlebih dahulu dilaksanan upacara gereja. Sdr. Mateus memimpin ibadat singkat itu dengan ditemani oleh beberapa umat lingkungan sekitar. Pada saat upacara gereja itulah Sdr. Mateus berdiri menyampaikan ungkapan turut berdukacita seluruh Persaudaraan OFM Indonesia pada keluarga.

Ketika upacara adat berjalan delapan cucu almarhum Bapak Marihot Girsang berdiri di samping peti jenazahnya sambil menyanyikan lagu dalam bahasa Simalungun yang kurang lebih dalam bahasa Indonesia sepenggal baitnya berbunyi : ”jangan tinggalkan kami, bulang (bulang artinya kakek)…” Seluruh rangkaian upacara adat selesai pukul 17.00 WIB. Setelah itu dilanjutkan dengan penutupan peti yang dipimpin oleh Pastor Paroki, P. Ambrosius, OFM Cap. Alamarhum dimakamkan di areal kebun jeruk yang dulu ia tanam sebanyak 1000 pohon. Ia pergi meningalkan seorang istri, enam orang anak yang terdiri dari 2 perempuan dan 4 laki-laki. Sdr. Taucen termasuk anak ke-5 dari 6 bersaudara. Cucu yang ditinggalkan ada 8 orang. Selamat Beristirahat Bapak Marihot, Tuhan sambutlah ia dalam keluarga kudusMu.

Kontributor : Sdr. Mateus L. Batubara, OFM[/tab][tab name=’Foto-foto’]






[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *