RAHMAT-RAHMAT PERJUMPAAN DI ROMA

Sdr. Vincent Gabriel OFM, seorang Saudara Muda dari Provinsi St. Michael Malaikat Agung, Indonesia yang sedang belajar bahasa Italia di Roma berkenan membagikan pengalamannya tinggal di komunitas internasional. Banyak pengalaman menarik selama berada di Roma. Siapa menyangka, dirinya bisa bercanda dengan Paus Fransiskus. What a moment! Baca selengkapnya.

 

Sudah hampir empat bulan sejak kedatangan saya di kota abadi Roma pada 15 Maret 2024 lalu. Saya mencoba merangkum pengalaman-pengalam unik yang saya jumpai di komunitas baru tempat saya tinggal. Rahmat perjumpaan menjadi bingkai dari segala pengalaman yang saya bagikan di sini: perjumpaan dengan para Saudara Dina; perjumpaan dengan orang-orang baru; dan perjumpaan dengan Paus Fransiskus.

 

Berada di Tengah “Kehangatan” Komunitas

Pada saat ini, saya tinggal di Delegasi Tanah Suci, Via Matteo Boiardo 16. Letaknya tidak jauh dari Pontificia Università Antonianum, tempat para Saudara Indonesia sedang menjalankan studi. Saling berhadapan. Termasuk saya, dua belas Saudara Dina tinggal di Delegasi Tanah Suci: tiga orang student bahasa Italia (saya, Sdr. Álvaro Millénio, dan satu saudara lain dari Kongo), dua lansia, lima orang student lisensiat ataupun doktoral (Filosofi, Sejarah Gereja, Teologi, Komunikasi, dan Teologi Biblis), seorang Saudara yang berkecimpung di bidang arkeologi, dan seorang Saudara yang bertugas sebagai Delegatus Tanah Suci. Dua belas Saudara berasal dari sembilan negara berbeda: Italia, Republik Demokratik Kongo, Cina, Amerika Serikat, Suriah, Israel, Timor Leste, Meksiko, dan Indonesia.

Bangunan Delegasi Tanah Suci, tempat Sdr. Vincent berkomunitas sambil belajar bahasa Italia.

Hemat saya, secara keseluruhan, tidak banyak perbedaan yang dialami antara kehidupan persaudaraan di Indonesia dan di Italia. Di komunitas kecil ini, saya mengalami suasana persaudaraan yang hangat. Suasana tersebut menciptakan kenyamanan bagi saya untuk belajar bahasa Italia. Saya “belajar lagi” membaca brevir dalam bahasa Italia, menyiapkan segala hal yang perlu untuk misa, menyiapkan makan malam untuk para Saudara, bertugas sebagai akolit, membeli kebutuhan-kebutuhan mingguan di super market, dan tidak lupa juga menyapu taman. Sekolah Fransiskan selalu mengajari saya untuk melayani dan semua Saudara di sini juga tidak pernah berhenti belajar untuk melayani.

Kalau saya boleh membagikan “resep ampuh” untuk cepat beradaptasi, saya akan mengatakan bahwa dapur dan sakristi adalah dua tempat pertama yang harus “dikuasai” terlebih dahulu. Kalau hendak cepat beradaptasi, saya harus merasa nyaman melayani di dua tempat ini. Syukur kepada Allah, adaptasi saya berjalan dengan lancar. Saya mampu memanggang pizza dengan oven di dapur setiap Sabtu malam, saya mampu menyanyikan lagu-lagu misa dalam bahasa Italia (meskipun tidak semua lagu), dan para Saudara di sini membantu saya untuk beradaptasi dengan nyaman serta tepat. Meskipun terkadang saya merindukan nasi a la Indonesia, saya juga dengan sukacita bisa “melahap” makanan-makanan yang disediakan di sini.

Di komunitas kami, terdapat tempat wisata yang bisa dikunjungi oleh para turis setiap Selasa, Kamis, dan Minggu. Tempat ini bernama “Villa Giustiniani Massimo”. Bangunan ini terdiri dari dua lantai. Di lantai pertama terdapat lukisan di tembok dan di langit-langit bangunan yang didedikasikan kepada karya termahsyur Dante Alighieri, “Divina Comedia” atau “The Divine Comedy”. Sementara itu, di lantai dua terdapat kamar-kamar para Saudara, termasuk saya. Setiap hari Minggu kami bergantian bertugas menyambut para turis dengan membukakan pintu gerbang rumah.

Sdr. Vincent OFM (jaket biru) di tengah anggota komunitas.

Saya bisa mengatakan bahwa komunitas kami menyerupai Biara Provinsialat di Jakarta. Dalam hal apa? Saudara-saudara Kustodi Tanah Suci silih-berganti datang sebagai tamu, entah dalam masa liburan atau mengurus visa ataupun urusan-urusan lainnya. Mereka sungguh senang mengetahui bahwa akan ada student dari Provinsi Indonesia dan Fundasi Timor Leste yang menempuh pendidikan teologi di Tanah Suci.

Hemat saya, sukacita mereka tidak dapat dilepaskan dari para Saudara dari Provinsi kita yang sudah bekerja dengan keras dan bersemangat pelayanan di Tanah Suci. Para Saudara misionaris dikenal atas kebaikan-kebaikannya. Kredit untuk mereka. Kredit juga perlu diberikan kepada para peziarah Indonesia. Para Saudara dari Kustodi mengatakan bahwa para peziarah Indonesia tidak kenal rasa takut untuk datang ke Tanah Suci, berdoa, dan berziarah di sana di tengah situasi perang yang hingga saat ini masih berlangsung.

Kesempatan bertemu dengan para Saudara yang melayani di Kustodi Tanah Suci juga menjadi peluang bagi saya untuk mengenal dari mana mereka berasal dan juga pelayanan apa yang mereka jalankan di Tanah Suci. Dengan begitu hangat mereka berusaha mengenal kami dan juga menceritakan pelayanan serta pengalaman mereka di Tanah Suci. Dengan bangga saya juga dapat menceritakan pelayanan para Saudara di Indonesia dan juga situasi Indonesia saat ini. Kekayaan persaudaraan internasional adalah sesuatu yang baru bagi saya. Saya bersyukur bisa mengalaminya di usia yang masih muda. Kehangatan persaudaraan semakin terasa ketika mereka memahami, mengapresiasi, dan menghargai kemampuan berbahasa saya yang masih perlu dikembangkan.

 

Berjumpa dengan Pengalaman dan Orang-Orang Baru

Kedekatan para Saudara Dina dengan saudara atau saudari yang bekerja di biara atau di instansi tempat para Fransiskan berkarya juga nyata di sini. Pada Minggu, 11 Juni 2024, kami berlima pergi ke salah satu tempat di mana juru masak kami tinggal. Nama juru masak kami adalah Pina. Ia tinggal di sebuah campagna (arti: kota kecil atau pedesaan) bernama Monteleone Sabino. Letaknya kurang lebih empat puluh kilometer dari Roma. Tidak hanya pergi ke sana untuk bersilaturahmi, kami juga turut serta dalam “pesta rakyat”.

Apa yang kami rayakan? Kami turut serta dalam rangkaian acara perayaan pelindung campagna, yaitu Santa Vittoria. Ia adalah seorang santa dari abad III, martir dan sekaligus perawan. Seorang Saudara Dina dari komunitas kami mengawali perayaan ini dengan memimpin Perayaan Ekaristi Hari Raya Kenaikan Yesus di Gereja St. Giovanni Evangelista. Setelah itu, kami bersama dengan marching band, pastor paroki, dan warga setempat berarak-arak pergi ke Santuario Santa Vittoria yang berada di pinggir campagna ini. Kami menyertai perarakan relikui dari dan ke Gereja St. Giovanni. Perarakan berjalan selama kurang lebih tiga setengah jam, diselingi dengan makan dan minum sederhana. Kami juga hadir sebagai “tenaga pembantu” dalam perarakan ini. Ketika beberapa petugas pembawa patung atau relikui merasa tidak kuat lagi, kami ikut serta membantu untuk sementara waktu.

Turut serta dalam prosesi St. Vittoria  dan pesta rakyat di campagna Monteleone Sabino.

Pada awalnya, berjumpa dengan orang-orang baru bukanlah hal yang mudah bagi saya. Mengapa? Karena banyak orang Italia berbicara dengan sangat cepat dan beberapa memiliki aksen yang sangat kental. Tidak mudah bagi saya memahami apa yang dikatakan dalam bahasa Italia. Kerap kali saya kebingungan. Akan tetapi, saya juga belajar menghadapi situasi itu dengan penuh keberanian; berani mengatakannmaaf kalau saya tidak mengerti dan secara rendah hati meminta mereka untuk mengulang apa yang hendak mereka katakan.

Pelan-pelan, kebingungan itu mulai beranjak. Kursus bahasa Italia yang saya ikuti Senin-Jumat selama kurang lebih tiga jam sungguh mengembangkan saya, terlebih dalam praktik berbicara. Kurang lebih sudah tiga bulan saya mengikuti kursus dan kepercayaan diri pelahan-lahan muncul. Pembiasaan jadi kunci. Akhirnya, berbicara dengan orang-orang baru tidak menakutkan lagi.

 

Perjumpaan dengan Bapa Suci

Bagaimana bisa kami mendapatkan kesempatan bertemu dengan Bapa Suci? Barangkali ini pertanyaan yang paling penting untuk dijawab. Seorang anggota komunitas dari persaudaraan kami adalah interpreter Paus Fransiskus ketika ia mengadakan kunjungan apostolik ke Yunani dan Siprus pada bulan Desember 2021 silam. Saudara ini bernama Eduardo Masseo, seorang Fransiskan Imam dari Meksiko yang fasih berbicara bahasa Yunani. Ia mendapatkan gelar licensiat di Yunani beberapa tahun lalu dan saat ini ia sedang menyelesaikan studi doktoralnya dalam bidang Sejarah Gereja di Pontificia Università Gregoriana, Roma. Menyelesaikan kunjungan apostoliknya, Paus Fransiskus sendiri yang mengantar Sdr. Eduardo Masseo ke komunitas kami. Sampai saat ini mereka berdua memiliki hubungan yang erat dan Sdr. Eduardo berinisiatif untuk merencanakan pertemuan ini. Ia menulis surat kepada pihak kepausan dan Paus menyetujui pertemuan ini.

Hari itu tiba, Jumat, 7 Juni 2024. Kami berjumlah dua puluh tiga orang: sembilan postulan Kustodi Tanah Suci, enam student bahasa Italia (masing-masing dua orang dari Indonesia, Timor Leste, dan Republik Demokratik Kongo), dua Saudara Gardian dari dua komunitas, dua formator postulan, dua lansia, Pater Vikaris Kustodi Terra Santa, dan Sdr. Eduardo. Pukul 08.00 pagi kami sudah siap di depan Istana Kepausan. Merupakan kesempatan pertama kali bagi kebanyakan dari kami untuk bertemu dengan Paus Fransiskus secara langsung.

Sdr. Vincent OFM menyerahkan rosario untuk diberkati oleh Paus Fransiskus. Entah apa jokes Santo Padre, Sdr. Vincent OFM tampak tertawa ceria.

Pertemuan ini dapat dikatakan sebagai audiensi informal. Kami menyalami Paus Fransiskus satu per satu dan mendapatkan berkat dari beliau. Apa yang Paus Fransiskus katakan kepada kami tidak boleh disebarluaskan. Kami juga hanya boleh menyebarluaskan foto dan bukan video. Setelah sesi foto bersama, masing-masing dari kami mendapatkan rosario dari Paus Fransiskus. Kami memberikan kenang-kenangan berupa plakat kepada Paus Fransiskus. Di situ tertulis peringatan sepuluh tahun peristiwa Paus Fransiskus bersama Presiden Palestina Mahmoud Abbas, dan mantan Presiden Israel Simon Peres di Kebun Vatikan menanam pohon zaitun dan menyerukan agar perang berakhir (08/06/2014).

Setelah semua berakhir, saya juga menyempatkan diri untuk meminta berkat atas beberapa rosario yang sudah saya siapkan. Saya meminta beliau untuk memberkati rosario-rosario tersebut. Akan tetapi, dia malahan mengambil beberapa buah rosario dan hendak memasukkan ke kantong pakaiannya seraya mengatakan, “grazie.” Ternyata beliau “ngerjain” saya dan akhirnya, dia mendoakannya dengan penuh keseriusan dan harapan. Ya, Bapa Suci benar-benar lucu!

Kunjungan singkat ini (kurang lebih dua puluh menit) berakhir dengan penuh sukacita. Saya tidak pernah menyangka bisa berbicara dengan Paus Fransiskus dalam bahasa Italia. Padahal saya belum fasih-fasih amat berbicara dengan bahasa Italia. Saya juga tidak pernah menyangka bisa mengalami sendiri Paus Fransiskus yang sedang bercanda. Ya, ini berkat dari Tuhan yang sangat melimpah dan tidak pernah diduga.

Hemat saya, rahmat-rahmat perjumpaan yang saya peroleh adalah ruang yang sangat besar serta luas bagi saya untuk memperbaiki dan mengembangkan diri saya. Semua teguran, candaan, sapaan, dan ajakan yang saya peroleh dalam perjumpaan-perjumpaan ini adalah bukti bahwa saya dicintai dan saya semakin nyaman untuk berproses dalam masa studi ini. Salam hangat dari Roma dan mohon doa dari para Saudara. Pace e bene!

 

Kontributor: Sdr. Vincent Gabriel OFM

Ed.: Sdr. Rio OFM

Tinggalkan Komentar