Kita Semua “Disable”

Rekoleksi dan Studi Bersama Komunitas Duns Scotus, 30-31 Mei 2020

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22:37-40).

Kutipan ayat di atas adalah tentang Hukum Kasih; hukum emas para pengikut Kristus. Hukum ini dipakai oleh semua orang Kristen dan diklaim “dijalankan” dengan sepenuh hati. Pertanyaannya, “Benarkah?” Bisa jadi apa yang diklaim dijalankan ternyata kurang sungguh-sungguh dihidupi dalam keseharian.

Komunitas Duns Scotus memutuskan untuk merenungkan Hukum Kasih dalam rekoleksi dan studi bersama komunitas yang dilaksanakan pada tanggal 30-31 Mei 2020. Dibawah bimbingan Sdr. Edo, OFM; seluruh anggota komunitas larut dalam rekoleksi dengan tema besar kepedulian terhadap kaum disabilitas. Tema yang terdengar biasa dan sering didengar. Namun jangan salah sangka, tema ini justru sering dilupakan.

Sdr. Edo, OFM sebagai pembicara dalam rekoleksi dan studi bersama Komunitas Duns Scotus

Mengapa kaum disabilitas? Sdr. Edo, OFM dalam rekoleksi menyatakan bahwa seringkali dalam keseharian, baik secara sengaja maupun tidak sengaja, kita mendiskreditkan sesama kita yang adalah kaum disabilitas. Awalnya beberapa di antara peserta rekoleksi kurang percaya dengan pernyataan tersebut, namun setelah diberikan beberapa contoh kecil barulah kemudian percaya. Lebih parah lagi, beberapa di antara contoh kecil tersebut sebenarnya dilandasi oleh penafsiran atas ayat-ayat tertentu dalam Kitab Suci. Sadar atau tidak, beberapa perilaku yang dianggap mencerminkan kasih malah mendiskreditkan kaum disabilitas itu sendiri.

Adapun rekoleksi itu sendiri dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama berlangsung pada Sabtu malam sedangkan sesi kedua pada keesokan harinya. Pada sesi pertama para saudara diajak untuk merenungkan secara intensif beberapa pertanyaan perihal pengalaman bertemu kaum disabilitas dan pengalaman merasa insecure. Keesokan harinya, para saudara diajak untuk larut dalam sharing bersama. Rekoleksi kemudian ditutup dengan perayaan Ekaristi bersama, yang mana pada hari itu bertepatan dengan perayaan Pentakosta.

Salah satu bagian materi dalam rekoleksi dan studi bersama Komunitas Duns Scotus

Para saudara merasa bersyukur dengan kegiatan rekoleksi dan studi bersama ini. Apalagi materi yang dibawakan sangat menarik, sangat penting, dan sangat membumi. Diharapkan nantinya para saudara bisa menjadi lebih aktif dalam bidang pelayanan, terhadap kaum disabilitas khususnya dan terhadap sesama tentunya. Sebab setiap orang pada dasarnya adalah kaum disabilitas, hanya saja tingkat disabilitasnya berbeda satu sama lain.

Laporan Sdr. Aldo, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *