PEDAGOGI HIDUP BAKTI

Sumber gambar: https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2020-02/pope-francis-vigil-mass-feast-of-presentation-of-the-lord-homily.html

Titik berangkat tulisan ini adalah pernyataan dokumen Vita Consecrata (VC) nomor 68. Di sana ditegaskan bahwa “memang benar pembaruan hidup bakti terutama tergantung dari pembinaan. Tetapi sama benarnya juga bahwa pendidikan itu terkait dengan kemampuan menyusun suatu metode yang ditandai oleh kebijaksanaan rohani dan pedagogis, yang secara berangsur-angsur  akan menghantar mereka yang ingin membaktikan diri untuk mengenakan cita rasa Kristus Tuhan” (VC 68)

Dari kacamata ilmu pedagogi, pernyataan di atas mengandung pengakuan tentang pentingnya pedagogi bagi formasi atau pembinaan hidup bakti. Kompetensi pedagogis diakui sebagai salah satu elemen yang perlu dikembangkan agar formasi bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan. Melalui tulisan ini kami hendak menjelaskan lebih jauh tentang makna penting ilmu pedagogi bagi hidup bakti. Secara berturut-turut kami akan menguraikan (1) gambaran singkat mengenai pedagogi; (2) relevansi ilmu pedagogi bagi hidup bakti; (3) elemen-elemen pedagogis yang seharusnya ada dalam proyek formasi.

 Ilmu yang berorientasi pada praktek

Berasal dari penggabungan dua katan Yunani “pais” dan “agogos”, pedagogi secara harafiah berarti “penjaga atau pembimbimbing anak”.[1] Pada awalnya, istilah ini melekat dengan seorang budak atau pelayan yang memiliki tugas khusus menghantar anak-anak ke sekolah atau tempat-tempat latihan.

Dalam perkembangan selanjutnya, istilah ini dipakai sebagai kiasan untuk memberi nama pada aktivitas pendidikan, khusunya di bidang moral. Selain itu, cakupan makna dari istilah ini menjadi lebih luas. Pedagogi tidak lagi diterapkan secara sempit dalam konteks pendidikan untuk anak-anak, tetapi pendidikan untuk semua jenis umur.

Dewasa ini, pedagogi sering diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang secara khusus melakukan studi tentang pendidikan. Status pedagogi sebagai ilmu pengetahuan yang otonom baru mulai didiskusikan pada akhir abad XIX. Namun demikian, sebagai sebuah refleksi tentang pendidikan, pedagogi sebenarnya memiliki sejarah panjang dan berakar pada peradaban kuno. Ia menjadi bagian dari diskursus tentang manusia dan tindakannya, menyatu dengan ilmu-ilmu tua seperti filsafat dan teologi.[2]

Sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan, pedagogi bertugas melakukan refleksi yang mendalam dan kritis terhadap aktivitas dan proses pendidikan. Tujuan akhirnya bukan untuk menghasilkan teori. Kajian pedagogis bertujuann membantu para pendidik agar mampu mengambil langkah-langkah strategis dan operasional yang berguna untuk membuat aktivitas pendidikan menjadi lebih efektif dan bermanfaat bagi para peserta didik. Karena itu, pedagogi sering disebut sebagai ilmu praktis. Ia berorientasi pada pembenahan dan peningkatan praktek pendidikan.[3]

Pedagogi dikembangkan agar para pelaku pendidikan mampu menjalankan pendidikan dengan project mindset.[4] Ibarat sebuah proyek pembangunan, pendidikan harus dijalankan dengan perencanaan yang matang dan sistematis. Para pelaku pendidikan sejak awal mestinya sudah bisa mengantisipasi tujuan akhir dari proyek pendidikan yang akan atau sedang mereka jalankan. Selain itu, mereka juga harus melakukan analisis terhadap situasi konkret dari para peserta didik dan merumuskan metode-metode tepat sasar yang bisa memfasilitasi para peserta didik agar mencapai tujuan yang diharapkan.

Dengan mengembangkan project mindset, pedagogi bermaksud mengatasi kebiasaan-kebiasaan improvisasi dalam pendidikan. Pendidikan tidak bisa dijalankan secara spontan dan hanya mengikuti selera pendidik. Fokus utama pendidikan adalah para peserta didik. Karena itu mereka yang bertanggung jawab dalam dunia pendidikan harus membuat perencanaan agar mampu menghadirkan pengalaman edukatif yang efektif dan membawa manfaat yang besar bagi para peserta didik.

Pedagogi dan Hidup bakti

Hidup bakti merupakan salah satu bentuk panggilan yang diakui oleh Gereja. Perfectae caritatis (PC), dokumen Konsili Vatikan II yang berbicara tentang pembaruan hidup religius, mengatakan:

“sejak masa-masa awal Gereja sudah ada pria dan wanita yang berniat mengikuti Kristus secara bebas dan meniru-Nya secara lebih dekat melalui praktek nasihat injil dan mengabdikan diri mereka, masing-masnig dengan caranya, kepada Allah. Banyak dari mereka, dibawah bimbingan Roh Kudus, memilih untuk hidup dalam pertapaan atau mendirikan keluarga-keluarga religius yang diterima dan setujui oleh Gereja. Karena itu, seturut rencana ilahi, terbentuklah pelbagai macam serikat religius yang memberi kontribusi untuk memastikan bahwa Gereja tidak hanya dilengkapi dengan baik” (PC 1).

Deskripsi di atas secara jelas menempatkan hidup bakti dalam hubungannya dengan Kristus. Hidup bakti lahir sebagai “kenangan hidup Yesus Kristus” (VC 22). Semua yang bergabung di dalamnya dipanggil untuk menjadi kelanjutan historis dan sakramental dari bentuk hidup yang dianut Kristus ketika datang ke dunia. Mereka dipanggil untuk hidup dan mengaktualisasikan diri dalam kesatuan dengan Kristus.

Agar bisa menjadi kenangan hidup Kristus di dunia, para penganut hidup bakti membutuhkan persiapan dan perlu menjalani proses pematangan terus menerus. Di sinilah formasi memiliki peran dan makna yang tak tergantikan. Menggarisbawahi peran esensial formasi bagi keberlangsungan hidup bakti, Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “vitalitas keluarga-keluarga religius, kualitas dan kreativitas pelayanan apostolik, efektivitas aksi profetis pada dasarnya tergantung pada formasi awal dan formasi berkelanjutan dari kaum terpanggil”. [5]

Hal yang sama juga ditegaskan oleh dokumen Potissimum Institutioni (PI)[6] ketika berbicara tentang pembaharuan hidup religius: “pembaruan institusi religius tergantung pada pembinaan para anggotanya” (PI 1). Dokumen ini juga menempatkan formasi sebagai jalan yang memampukan para religius hidup sesuai dengan identitas mereka: “pembinaan religius memiliki tujuan utama untuk menginisiasi para calon dalam hidup religius dan menolong mereka untuk menyadari identitas mereka sebagai pribadi-pribadi yang membaktikan diri melalui kaul kemurnian, kemiskinan, ketaatan dalam sebuah institusi religius” (PI 110).

Dengan beberapa pernyataan di atas menjadi jelas bahwa alasan mendasar bagi formasi hidup bakti adalah mendukung para anggotanya agar mampu hidup sesuai dengan hakekat panggilan mereka. Formasi merupakan conditio sine qua non bagi lahirnya para anggota hidup bakti yang dewasa dan otentik. Seperti yang ditegaskan oleh dokumen Elementi Essenziali (EE)[7], melalui formasi, para penganut hidup bakti mendapatkan kesempatan berahmat untuk menumbuhkan benih panggilan yang sudah ditanamkan Tuhan di dalam diri mereka (EE 44).

Setiap insan hidup bakti menerima panggilan untuk mendedikasikan diri pada Allah seturut teladan Yesus Kristu. Panggilan itu bertumbuh matang melalui formasi awal dan dipelihara serta diaktualisasikan secara kreatif dan dinamis melalui formasi berkelanjutan. Karena itu, bagi setiap anggota hidup bakti, formasi berarti menjalankan proses untuk menjadi murid Kristus, bertumbuh dalam kesatuan dengan Dia dan dalam penyesuaian diri yang terus menerus dengan Dia (EE 45, 46).

Mengingat pentingnya formasi bagi kesaksian hidup para anggota hidup bakti, maka setiap institusi hidup bakti perlu mengembangkan formasi yang memadai dan mendukung para anggotanya agar bisa menjalankan panggilan secara setia. Dalam konteks inilah pedagogi menjadi ilmu yang sangat relevan bagi hidup bakti.

Dengan kontribusi ilmu pedagogi, setiap institusi hidup bakti bisa merencanakan perjalanan pembinaan yang matang bagi para anggotanya. Pedagogi membantu para formator agar bisa mengharmoniskan tujuan ideal yang mau dicapai dalam pembinaan dan kondisi antropologis-sosiologis yang memengaruhi para formandi; menjalankan formasi secara progresif dan gradual; memperhatikan keseimbangan antara pelbagai macam dimensi (manusiawi, spiritual, komunitas, pastoral-misioner, karismatik); memilih dan menerapkan metode pembinaan yang tepat sasar. Singkatnya, pedagogi membantu  institusi hidup bakti agar bisa membuat pedoman pembinaan yang tidak saja memiliki visi dan tujuan yang jelas, tetapi juga dilengkapi dengan langkah-langkah operasional yang memfasilitasi para para formandi agar mampu menginternalisasi dan menghidupkan nilai-nilai yang ditawarka kepada mereka.

Sumber gambar: https://www.bibleinfo.com/en/questions/who-were-twelve-disciples

Elemen- elemen pedagogis dalam proyek formatif

Seperti sudah dijelaskan di atas, formasi tidak bisa dilaksanakan secara spontan dan mengandalkan improvisasi.  Untuk menjalankan sebuah formasi yang baik dan tepat sasar perlu dibuat apa yang dinamakan dengan proyek formasi.

Proyek formasi merupakan rencana pembinaan yang disusun dengan mengakomodir elemen-elemen pedagogis yang dibutuhkan dalam proses pembinaan. Elemen-elemen kunci yang seharusnya termaktub dalam sebuah proyek /rencana formatif adalah gambaran ideal yang mau dicapai, situasi konkret, sasaran, sarana, dimensi-dimensi, pelaku, metode atau gaya pembinaan, dan evaluasi.[8]

§  Tujuan ideal. Dalam pendidikan atau pembinaan, yang dimaksudkan dengan tujuan ideal adalah garis finish yang mau dicapai atau ideal hidup yang mau direalisasikan. Tujuan final sebuah formasi dirumuskan dengan mengacu pada dokumen-dokumen yang dikeluarkan Gereja dan institusi hidup bakti.

§  Situasi konkret. Elemen ini memuat penjelasan tentang situasi-situasi khas yang berkaitan dengan komunitas gerejawi, realitas kultural dan sosial politik, masalah-masalah partikular yang dihadapi para formandi.

§  Sasaran dan sarana. Formasi hidup religius dibagi dalam beberapa tahap: postulat, novisiat, post-novosiat, pembinaan lanjut. Setiap tahapan formasi memiliki sasaran-sasarannya sendiri yang mau dicapai. Sasaran merupakan penjabaran konkret dari tujuan final sebuah formasi. Kalau tujuan final dimaksudkan sebagai orientasi abstak dari formasi, maka sasaran merupakan kompetensi-kompetensi atau kapasitas-kapasitas spesifik yang perlu dicapai oleh para calon dan anggota hidup bakti dalam satu tahapan formasi. Sasaran-sasaran dalam formasi tidak bisa dicapai tanpa adanya sarana atau instrumen yang memadai. Sarana yang dimaksudkan di sini tidak identik dengan peralatan-peralatan fisik. Sarana bisa berupa penyampaian materi, aktivitas atau pengalaman, dan peralatan-perlatan teknis.

§  Dimensi. Formasi harus bersifat integral dengan mempertimbangkan keseimbangan pelbagai macam dimensi yang termaktub di dalamnya. Proyek formasi hidup bakti harus memberi tempat yang proporsional pada dimensi-dimensi yang digariskan oleh dokumen-dokumen Gereja: manusiawi, spiritual, intelektual, komunitas, misioner/pastoral, karismatik.

§  Protagonis atau pelaku. Pelaku dalam formasi hidup bakti mengacu pada orang-orang atau pihak-pihak yang secara langsung dan penuh terlibat dalam proses formasi. Ada tiga tokoh utama yang terlibat dalam formasi: Allah (pribadi yang memanggil), formandi (subyek yang menjawab), dan formator (mediator antara Allah dan subyek formasi).

§  Metode/gaya pembinaan. Metode merupakan cara, proses, model atau gaya  yang digunakan oleh formator dalam mentrasmisi isi atau materi formasi kepada para formandi. Keberhasilan sebuah formasi sangat ditentukan oleh kecerdasan dan kebijaksanaan formator dalam menentukan metode atau gaya pembinaan yang dia gunakan dalam membangun relasi dengan para formandi.

§  Evaluasi. Evaluasi merupakan sebuah upaya untuk memverifikasi sejauh mana proses pembinaan yang dijalankan sungguh-sungguh mendukung tercapainya sasaran yang diharapkan. Di satu pihak, evaluasi dilakukan untuk melihat secara kritis perjalanan formasi yang sudah ditempuh. Di lain pihak, evaluasi juga dilakukan untuk membuat proses formasi menjadi lebih baik.

Penutup

Melalui tulisan ini kami sudah menguraikan arti penting pedagogi bagi panggilan hidup bakti. Sebagai ilmu yang bertugas melakukan studi terhadap proses pendidikan, pedagogi bisa memberi kontribusi besar bagi perjalanan formasi para anggota hidup bakti.

Kekuatan pedagogi terletak dalam hal refleksi dan perencanaan pendidikan yang dilakukan secara rasional dan sistematis. Karena itu, dengan bantuan ilmu pedagogi, para pelaku dalam dunia formasi bisa merancang pedoman dan program pembinaan yang matang, komprehensif, gradual dan bisa diverifikasi. Pedagogi memfasilitasi para formator agar menjalankan formasi dengan mentalitas perencanaan dan dengan demikian merelativisir unsur-unsur subyektif yang seringkali muncul dalam aktivitas pembinaan.

 

[1] Bdk. C. Nanni, Introduzione alla Filosofia dell”Educazione, Roma, LAS, 2007, 21.
[2] Bdk. F. Casella, Storia della Pedagogia Vol. I, Roma, LAS, 2009.
[3] Bdk. M. Pellerey, D. Grzadziel, Educare. Per Una Pedagogia Intesa come Scienza Practico-Progettuale, Roma, LAS, 2011, 20-23.
[4]  Bdk. M. Gahungu, Programare e Valutare nella Formazione Presbiterale e Religiosa, Roma, LAS, 2013, 12-25.
[5] Paus Yohanes Paulus II, Messaggio ai Partecipanti alla XIV Assemblea Generale della Conferenza dei Religiosi del Brasile dalam http://www.vatican.va/content/john-paul-ii/it/speeches/1986/july/ documents/hfjp-ii_ spe_19860711_

religiosi-brasile.html. Diakses pada 23/07/2020.
[6] Ini adalah dokumen yang dikeluarkan oleh Kongregasi untuk Lembaga  Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan pada 1990. Dokumen ini berbicara tentang pedoman-pedoman pembinaan dalam lembaga-lembaga religius. Bdk. Congregazione per gli Istituti di Vita Consacrata e Le Società di Vita Apostolica, Direttive sulla Formazione negli Istituti Religiosi, dalam https://www.vatican.va/roman_curia/congregations/ccscrlife/documents/rc_con_ccscrlife

_doc_02021990_directives-on-formation_it.html. Diakses pada 23/07/2020.
[7] Ini adalah dokumen yang dikeluarkan oleh Kongregasi untuk Lembaga  Hidup Religius dan Lembaga Sekuler pada 1983. Dokumen ini berbicara tentang elemen-elemen esensial yang ada dalam hidup religius. Bdk. Sacra Congregazione per i Religiosi e gli Istituti Secolari, La Vita Religiosa nell’insegnamento della Chiesa.I Suoi Elementi

Essenziali negli Istituti Dediti alle Opere di Apostolato, dalam http://www.vatican.va/roman_curia /congregations/

/documents/rc_con_ccscrlife_doc_31051983_magisterium-on-religious-life_it.html. Diakses pada 23/07/2020.
[8] Bdk. M. Gahungu, Programare e Valutare nella Formazione Presbiterale e Religiosa, 31-33.

 

Sdr. Agustinus Nggame, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *