Tubuh Manusia adalah Ekosistem

Rubrik Saudara Bambang Menjawab berisi konsultasi  seputar kesehatan yang diasuh oleh Sdr. Bambang Trimargono OFM – seorang fransiskan sekaligus dokter yang berkarya di bidang kesehatan.

 

Pertanyaan: 

Bruder Bambang yang baik, apakah benar jika dikatakan bahwa tubuh manusia merupakan kumpulan ekosistem yang terdiri dari milyaran mikroorganisme? Apakah artinya tubuh manusia sebenarnya bukan milik manusia sendiri, tetapi juga milik milyaran mikroorganisme yang tinggal di dalamnya? Bagaimana seharusnya kita “bekerjasama” dengan makhluk mikroorganisme yang ada di tubuh kita? Terimakasih.
(Anonymous)

Jawaban:

Mikroorganisme Berinteraksi

Saudaraku yang terkasih, saya setuju dengan pernyataan atau pun pertanyaan Anda tersebut. Tubuh menjadi ekosistem di mana mikroorganisme-mikroorganisme berinteraksi dengan lingkungan tubuh. Interaksi tersebut membentuk jaring-jaring rantai makanan yang saling mempengaruhi. Misalnya, pada permukaan kulit kita. Di situ hidup berbagai bakteri dan jamur di atasnya atau di antara sela lipatan kulit. Pada saat aktivitas bertambah, tubuh manusia menghasilkan keringat dan juga sebum (lemak) yang bertambah di kulit. Sementara itu aktivitas bakteri bertambah sehingga  keringat berbau asam. Keadaan asam ini menekan pertumbuhan jamur dan bakteri lainnya yang ada di lingkungan tubuh  sehingga tidak membahayakan tubuh (tidak mendatangkan sakit). Bakteri yang beraktivitas positif adalah flora normal (yaitu populasi mikroba – baik yang menetap atau sementara yang dalam kondisi seimbang menjaga keharmonisan sehingga lingkungan tubuh sehat).

Hal itu juga terjadi di dalam mulut dan saluran pencernaan membentuk ekosistem dengan karakteristik yang khas di tiap-tiap bagiannya karena sifat khas masing-masing lingkungan yang mendukung kehidupan ekositem di situ. Sistem tubuh kita menjaga kekhasan sifat masing-masing bagiannya. Misalnya kelembaban di rongga mulut. Sewaktu mulut kita kering akan timbul respon rasa haus sehingga kita minum agar menjaga kondisi kelembaban mulut dan saluran pencernakan cukup.

Tubuh Kita Bukan Semata-mata Milik Kita

Berbicara tentang ekosistem dalam saluran pencernakan tersebut cukup menarik karena di tiap bagian saluran pencernaan memiliki karakteristik yang khas. Secara normal kondisi mulut adalah lembab, relatif agak basah. Sedangkan di lambung lingkungannya sangat asam – untuk membantu mencerna makanan dan sekaligus meminimalkan bakteri yang merugikan tubuh sebelum masuk ke saluran pencernakan yang lebih dalam. Pada saluran pencernaan setelah lambung, suasananya lebih basah. Di dalam saluran pencernaan ini pun ada ekositem dengan berbagai bakteri juga yang membantu pencernaan kita. Para ahli mesih banyak meneliti bakteri-bakteri apa saja yang hidup dalam saluran pencernakan.

Jadi menyadari hal tersebut, tubuh kita bukan semata-mata milik kita. Ada berbagai mahkluk hidup mikroorganisme yang hidup di dalamnya yang membentuk ekosistem yang harmonis sehingga terjaga kesehatannya. Untuk menjaga keharmonisan tersebut, perlu bijaksana dalam mengkonsumsi makanan/minuman serta sarana prasarana yang dapat membunuh makluk hidup tersebut: obat-obat antibiotik, cairan antiseptik, sabun dengan antiseptik dan sebagainya. Hal-hal itu bisa membunuh sebagian atau bagian tertentu mikroorganisme sehingga keseimbangan terganggu. Apalagi jika dikonsumsi berlebihan dan dalam waktu lama. Bisa terjadi resistensi obat antibiotik, ketidak seimbangan mikroorganisme di usus sehingga memicu diare dan sebagainya.

Selain bijak dalam mengkonsumsi hal tersebut, perlu juga menjaga pola hidup bersih agar lingkungan tubuh terjaga keseimbangannya.

Post navigation