Memaknai Kidung Segenap Ciptaan Stanza 10-11

Jakarta, OFM — Selama dua hari (08-09/11/2025), para Saudara Muda di Jakarta mengikuti rekoleksi bulanan. Rekoleksi yang bertempat di SMP Fransiskus II, Jakarta ini dibawakan oleh Sdr. Alan Vandri OFM. Dalam materinya, Sdr. Alan membagikan refleksi perihal Kidung Segenap Ciptaan Stanza 10-11 tentang Pardon dan Peace.

Pada sesi pertama, Sdr. Alan menyampaikan pokok utama refleksi, yakni Alam dan Kemanusiaan dalam Kidung Segenap Ciptaan. Payung utama untuk memahami refleksi Fransiskus atas alam dan kemanusiaan adalah perjumpaannya dengan orang kusta. “Fransiskus tidak menggambarkan alam secara apa adanya (objektif), tetapi menafsirkan alam secara rohani. Fransiskus menyadari bahwa air bisa menghancurkan dan api bisa menghanguskan. Akan tetapi, ia memilih untuk melihat nilai yang lebih luhur bahwa air itu meneduhkan dan api menghangatkan,” jelas Sdr Alan.

Sdr. Alan Vandri OFM sedang menyampaikan materi rekoleksi di hadapan para Saudara Muda.

Pandangan yang sama diarahkan pula oleh Fransiskus kepada setiap pribadi. Relasi Fransiskus sangat bersifat personal (mengenal satu per satu) bukan umum atau kelompok. Setiap manusia dipandang sebagai pribadi yang unik dengan sejarah dan panggilan hidup personal. Setiap orang pantas untuk mendapat cinta karena dikasihi Allah. Kesadaran inilah yang membuat Fransiskus sungguh memahami berbagai karakter dan menanggapi tiap orang dengan cara yang sesuai dan penuh kasih.

Selanjutnya, pada sesi kedua poin utama yang dibahas adalah Dunia yang dipulihkan oleh pandangan Fransiskus. Realitas dunia sekarang memang memilukan. Perkembangan yang ada justru mencederai relasi kasih antara manusia dan alam. Relasi dibangun atas dasar pemikiran untung dan rugi. Dari situ lahir manusia yang egoistik, tamak, dan mengabaikan alam. Lantas Fransiskus mengubah pandangan itu.

Fransiskus menunjukkan bahwa ketika kita menodai relasi kita dengan alam, kita juga tengah memisahkan diri dengan sesama. Sebab Fransiskus memandang alam sebagai saudara, bukan sebagai suatu objek yang dimanfaatkan dan dikuasai. Relasi yang terjadi antara kita dengan alam mengandung hubungan kita dengan sesama. Relasi yang terjadi atas dasar kasih akan melahirkan kasih bagi siapa saja dan juga ciptaan. Sebaliknya relasi yang berlandaskan pencarian keuntungan, kekuasaan akan menghasilkan dominasi, keengganan dan juga perselisihan.

Para Saudara Muda sedang berefleksi bersama mendalami tema rekoleksi

Fransiskus menunjukkan dunia yang utuh terletak saat manusia berdamai dengan alam, sesama, dirinya sendiri dan juga Tuhannya. Fransiskus mengajak manusia melihat alam sebagai saudara, ciptaan yang setara dan layak dihormati. Terhadap sesama kita dipanggil untuk hidup menjadi saudara.

Semua itu kemudian dibingkai dalam sebuah jalan yaitu persaudaraan kosmik. Layaknya Fransiskus, kita juga memiliki “gua batin” tempat kita berkanjang dalam kegetiran dan perjuangan. Setelahnya, kita baru akan ke luar untuk menyambut yang lain dengan penuh kasih. Dengan sungguh melandasi segalanya dalam rasa persaudaraan itu, maka akan terbentuk relasi kasih yang dijiwai oleh semangat persaudaraan. Pada penghujung rekoleksi, Sdr. Alan membagikan pertanyaan refleksi bagi para saudara muda untuk direnungkan baik secara personal maupun bersama dalam kelompok. Akhirnya, rekoleksi ditutup dengan misa bersama yang dipimpin oleh Sdr. Yosep Agut, OFM.

                                                                                    Kontributor: Sdr. Riko Tepong, OFM

Ed.: Sdr. Rio OFM

Tinggalkan Komentar