Rayakan HARDIKNAS 2026, Penerbit Obor dan Forum Sekolah Fransiskan-Fransiskanes Luncurkan Buku Pedagogi Fransiskan

Jakarta, OFM – Dalam rangka merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Penerbit Obor bekerja sama dengan Forum Sekolah Fransiskan-Fransiskanes dan Franciscan Media Center (FMC) OFM dalam kegiatan bedah dan launcing buku Pedagogi Persaudaraan yang ditulis oleh Minister Provinsi OFM St. Mikhael Malaikat Agung Indonesia, RP. Agustinus Laurentius Nggame OFM. Kegiatan ini berlangsung tepat pada peringatan Hardiknas, yakni 2 Mei 2026 di aula Yayasan Sekolah Fransiskus, Jln Kramat No. 67, Jakarta Pusat.Acara dimulai pukul  10.00 WIB dan dipandu oleh Ibu Yulti Klaudia, S.Pd selaku moderator, dengan menghadirkan ketua Yayasan Sekolah Fransiskus Jakarta, RP Vincentius Darmin Mbula OFM sebagai pembedah buku. Dengan penampilan rapi memakai topi khas Rote, Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik Indonesia ini menyampaikan poin‑poin utama hasil bacaannya terhadap buku Pedagogi Persaudaraan kepada para hadirin.Pater Darmin mengawali presentasinya dengan memperlihatkan dua gagasan kunci, yakni “Kasih Persaudaraan” dan “Supremasi Kehendak”, yang dianggapnya penting sebagai dasar pendidikan holistik. Sebab baginya persaudaraan dalam pendidikan berakar pada kebebasan kehendak tiap individu. Dalam pemaparannya, Pater Darmin juga menekankan pentingnya sekolah sebagai tempat perjumpaan langsung, yang kini terancam oleh AI (Artificial Intelligence) yang menyulitkan interaksi tatap muka. Pater Darmin merangkum delapan nilai pedagogi Fransiskan yang diambil dari buku ini, yaitu: 1) kasih tanpa syarat kepada Allah, 2) kristosentris (berpusat pada Kristus dan Injil), 3) kemuridan dan penyesuaian dengan Kristus, 4) kedianan (minoritas) sebagai pola hidup, 5) persaudaraan universal, 6) ketaatan sebagai ekspresi kebebasan, 7) optimisme dan harapan, serta 8) cinta kasih sebagai tujuan dan metode pendidikan.Kedelapan nilai tersebut saling terkait, membentuk konsep pendidikan sebagai perjalanan kasih yang menumbuhkan manusia utuh, bersaudara, dan berbelas kasih. Kepada sekitar dua ratusan peserta yang hadir, Pater Darmin kemudian menegaskan bahwa pembaca diharapkan aktif merumuskan kata kunci sebagai indeks untuk menangkap peta konsep yang tersebar dalam uraian yang kaya dan reflektif. 

Praktik Pedagogi Kasih Persaudaraan

Sesi pemaparan pembedah buku berakhir dengan jeda istirahat. Setelah istirahat, peserta kembali ke aula dan memauski sesi tanya jawab. Pater Antonius Eddy Kristiyanto OFM menanyakan cara mempraktikkan teori dalam buku “Pedagogi Persaudaraan Fransiskan” ini. Secara meyakinkan, Pater Darmin menjawab bahwa di sekolah Fransiskus, nilai kasih diintegrasikan ke dalam kurikulum, menjadi sumber semangat bagi seluruh warga sekolah dan tenaga pendidik. Ia menambahkan bahwa murid diajarkan nilai kefransiskanan melalui kerja bakti membersihkan lingkungan, mengolah sampah, dan memperbaiki kran air yang rusak. “Pendidikan sejati tidak cukup dipahami sebagai proses transfer pengetahuan semata, tetapi harus berakar pada pengalaman kasih persaudaraan, pengalaman konkret sehari-hari,” tegas Pater Darmin meyakinkan.Pada sesi berikutnya, Pater Gusti, penulis buku ini, menyampaikan catatan singkat terkait dengan hakikat dasar pedagogi persaudaraan fransiskan. Bagi Provinsial OFM ini Fransiskus berperan sebagai guru bagi semua orang, mengajarkan kebaikan bukan hanya lewat khotbah, melainkan melalui tindakan kasih yang lebih berdampak daripada sekadar kata. Ia menegaskan pentingnya memberi teladan kepada murid serta mengajak tenaga pendidik belajar dari mereka yang diajarkan. “Kasih adalah dasar pedagogi persaudaraan. Kiranya kasih ini tidak boleh hilang dari dinamika pendidikan kita,” ungkap Fransiskan lulusan Universitas Salesiana Roma, ini.Sebagai penutup, moderator merangkum inti pembahasan dari kedua nara sumber. Ia menyatakan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan tentang hubungan manusiawi yang berakar pada kasih, kebersamaan, dan penghargaan terhadap martabat manusia. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat tumbuh menjadi saudara. Refleksi ini tidak berhenti di ruang aula, melainkan harus terwujud dalam praktik nyata bagi setiap tenaga pendidik.

Pada pukul 12.00 WIB acara launching dan bedah buku Pedagogi Persaudaraan ini berakhir dan ditutup dengan sesi foto dan makan siang bersama.

Kontributor: Juan Carlo Making OFM; editor: Efendy Marut OFM

 

 

 

Tinggalkan Komentar