Ziarah Yubileum Bersepeda: Semangat Persaudaraan di Tengah Riuh Hari Buruh

Jakarta, OFM – Jumat, 1 Mei 2026 menjadi hari yang tak terlupakan bagi 12 Saudara Muda Scotus yang mengikuti kegiatan Ziarah Yubileum St. Fransiskus Asisi. Dengan semangat persaudaraan dan kesederhanaan, ziarah kali ini dikemas secara unik: dilakukan dengan bersepeda, menyusuri tiga Gereja tujuan: Gereja Katolik Paroki St. Lukas, Sunter; St. Paskalis, Cempaka Putih; dan Hati Kudus, Kramat.

Perjalanan dimulai pukul 07.30 WIB. Dengan penuh antusias, rombongan berangkat menuju Gereja Katolik Paroki St. Lukas Sunter. Menariknya, ini adalah pengalaman pertama bagi keduabelas saudara berziarah ke Sunter menggunakan sepeda. Mengandalkan aplikasi peta digital, kami menyusuri jalanan ibu kota yang pagi itu dipenuhi dinamika berbeda.Tepat di Hari Buruh Nasional, jalanan Jakarta dipadati oleh massa buruh yang menggelar aksi. Alih-alih menjadi hambatan, situasi ini justru menambah warna perjalanan. Para peziarah ikut menyapa dan bahkan bersorak bersama para buruh di sepanjang jalan. Momen ini menjadi pengalaman yang berkesan, sebuah perjumpaan tak terduga yang memperkaya makna ziarah.

Kebersamaan menjadi kunci perjalanan. Ketika ada saudara yang tertinggal karena laju sepeda yang lebih lambat, rombongan dengan setia berhenti sejenak untuk menunggu. Semangat untuk tetap bersama dan kompak begitu terasa sepanjang perjalanan.

Sekitar pukul 08.00 WIB, rombongan tiba di Sunter. Di sana, kami berjumpa dengan peziarah lain, yakni Saudari-saudari OFS, Ordo ketiga sekular atau awam fransiskan. Sebelum memulai doa ziarah, rombongan diajak oleh Romo Thomas Tarigan OFMConv ke pastoran. Suasana hangat langsung terasa saat kami menikmati hidangan ringan sambil berbincang santai. Obrolan seputar Persaudaraan OFM dan sejarah Ordo Fransiskan Conventual mengalir penuh keakraban. Setelah itu, doa ziarah pun dilaksanakan dengan khusyuk dan penuh kedalaman.

Perjalanan dilanjutkan menuju Gereja St. Paskalis, Cempaka Putih. Masih mengandalkan peta digital, rombongan tiba sekitar pukul 10.30 WIB. Di tempat ini, kami tidak berlama-lama, cukup menyapa peziarah lain, bersalam-salaman, dan melanjutkan dengan doa ziarah.

Tujuan terakhir adalah Gereja Hati Kudus, Kramat. Namun, perjalanan menuju ke sana menjadi tantangan tersendiri. Kemacetan parah akibat membludaknya massa buruh yang bergerak menuju Monas membuat laju perjalanan tersendat. Terik matahari pun semakin menambah berat perjalanan. Dalam kondisi ini, kekompakan mulai terurai. Masing-masing saudara berusaha mencari jalan terbaik: menyelip di antara bus-bus buruh, memasuki gang-gang di kawasan Tanah Tinggi, hingga memanfaatkan trotoar.Meski penuh tantangan, semangat tidak padam. Satu per satu akhirnya tiba di Kramat sekitar pukul 11.00 WIB. Dalam kondisi lelah, berkeringat, dan lapar, rombongan memutuskan untuk beristirahat sejenak dan menikmati makan siang yang telah disiapkan. Setelah energi kembali terisi, kami melanjutkan dengan doa ziarah terakhir. Ziarah pun ditutup dengan perjalanan pulang, dan rombongan tiba kembali di rumah pada pukul 13.45 WIB.

Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan batin. Di tengah hiruk-pikuk kota dan perayaan Hari Buruh, para peziarah menemukan makna persaudaraan, ketekunan, dan sukacita sederhana. Sebuah pengalaman iman yang hidup: mengayuh bersama, berjuang bersama, dan berdoa bersama.

 

Kontributor: Sdr. Evaldus Ndulu OFM

 

 

Tinggalkan Komentar