Vaksin Covid-19

Rubrik Saudara Bambang Menjawab berisi konsultasi  seputar kesehatan yang diasuh oleh Sdr. Bambang Trimargono OFM – seorang fransiskan sekaligus dokter yang berkarya di bidang kesehatan.

 

Pertanyaan: 

Bruder saya mau tanya mengenai vaksin – khususnya vaksin untuk Covid-19.

  • Bagaimana vaksin covid ini dibuat?
  • Mengapa perlu beberapa kali disuntikkan dengan jangka waktu yang berbeda untuk masing-masing merek?
  • Bagaimana vaksin bisa membantu daya tahan tubuh terhadap Covid-19 ini?

Jawaban:

Sebelum berbicara tentang vaksin, vaksinasi maupun imunisasi, perlu terlebih dahulu dipahami tentang imunitas/kekebalan tubuh.

Imunitas merupakan kemampuan tubuh dalam menetralisir zat atau agent (virus, bakteri, jamur dan lainnya) sehingga tidak membahayakan tubuh.

Proses terbentuknya imunitas spesifik ini dimulai dari agent tersebut menempel pada tubuh. Tubuh akan bereaksi menetralkannya. Jika agent yang menempel ‘sedikit’, reaksi pengenalannya tidak sampai menimbulkan sakit, dan tubuh dapat mulai membentuk system kekebalannya. Jika agent ‘terlalu sedikit’ hingga tidak sampai menimbulkan reaksi tubuh dalam proses kekebalan; namun jika berlebihan agent yang masuk/menempel, tubuh akan mengalami sakit. Proses pembentukan imunitas tersebut bertahap dan membutuhkan waktu. Proses inilah yang terjadi dengan vaksinasi tersebut.

Vaksin merupakan zat/agent atau bagian agent yang sudah dilemahkan atau dimatikan sehingga tidak membahayakan tubuh, tetapi masih bermanfaat dalam merangsang tubuh membentuk proses kekebalan/imunitas.

Berkaitan dengan vaksin Covid-19, bahan baku vaksin berupa ‘badan’ virus utuh yang sudah dilemahkan atau dimatikan atau bagian dari badan virus Covid-19.

Bahan baku pembentuk vaksin covid-19 berbeda-beda. Ada yang merupakan badan virus Covid-19 yang sudah dimatikan/tidak aktif (contohnya Sinovac, Sinopharm). Ada juga yabg merupakan bagian badan gen virus Covid-19 yang dibawa/dimasukkan ke badan virus lain yang tidak membahayakan tubuh manusia menjadi bahan baku vaksin seperti yanng digunakan di AstraZeneca. Dan ada lagi bagian badan gen virus: molekul DNA dan RNA virus yang dapat menjadi bahan baku vaksin (misalnya Moderna – dari bagian RNA; dan Inovio – dari bagian DNA); dan bagian badan virus lainnya.

Vaksin-vaksin yang berbahan baku berbeda tersebut memberikan reaksi proses pembentukan kekebalan bervariasi baik kecepatan pembentukkannya maupun besar kekuatannya. Data tentang hal itu diperoleh dari hasil penelitihan mulai pre-klinis di laboratorium sampai penelitihan klinis di populasi terbatas. Hasil inilah yang akhirnya menjadi rekomendasi terkait pemberian vaksin tersebut baik tentang dosis, dan jarak/interval waktu pemberian.