
Rubrik Saudara Bambang Menjawab berisi konsultasi seputar kesehatan yang diasuh oleh Sdr. Bambang Trimargono OFM – seorang fransiskan sekaligus dokter yang berkarya di bidang kesehatan.

Pertanyaan:
Saudara Bambang yang baik, apa sebenarnya yang dimaksud dengan psikosomatis itu? Terimakasih atas penjelasannya….
(Sdr. Anonim)
Jawaban:
Psikosomatis berasal dari kata psyscho dan soma; pikiran atau jiwa dan tubuh atau fisik. Psikosomatis ini merupakan istilah yang menunjukkan berbagai gangguan mental atau psikologis yang bermanifestasi dalam gejala fisik atau keluhan fisik yang tidak dapat dijelaskan adanya kerusakan atau gangguan secara fisik secara langsung. Untuk menegakkan diagnosis psikosomatis pada seseorang, perlu disingkarkan kemungkinan diagnosis fisik yang ada; atau dalam kata lain dipastikan bahwa keluhan fisik yang disampaikan tidak ada hubungan langsung dengan masalah atau gangguan fisik (organik) yang dikeluhkan setelah dilakukan pemeriksaan secara lebih mendalam atau teliti melalui wawancara, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (laboratorium, radiologi atau USG misalnya) sesuai dengan keluhan tersebut.
Dengan menyadari pemahaman tersebut, Diagnosis psikosomatis baru dapat ditegakkan setelah beberapa waktu atau beberapa kali pasien mencari pengobatan atas keluahnya. Pada umumnya, penderita psikosomatis ini sudah berganti-ganti dokter atau tempat berobat; sudah melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang optimal. Namun, keluhan fisik yang umumnya berupa nyeri dada, sakit perut, mual muntah, sakit kepala, atau pusing belum teratasi. Keadaan seperti tersebut mengarah adanya kecurigaan pada psikosomatik. Dari kecurigaan tersebut, dokter yang menanganinya akan memeriksa apakah ada hiperaktivitas stress response system.
Pada saat ini, diperkirakan hiperaktivitas stress response system tersebut menjadi pencetus terjadinya psikosomatis. Hiperaktivitas stress response system ini meningkatkan tonus simpatis (sensitivitas saraf otonom simpatis) yang secara kronis mempengaruhi aktivitas hormon yang dapat memicu gejala psikosomatis lebih lanjut. Respon terhadap stress baik stress fisik mapun psikis dapat berlebihan pada kasus psikosomatis sehingga bermanifestasi pada keluhan fisik. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah psikosomatis ini, diperlukan respon terhadap stress yang sehat atau adaptif (mudah beradaptasi menghadapi stress).
Untuk membentuk respon stress yang adaptif ini, dilakukan psikoedukasi untuk mengenal gangguan yang dialami merupakan manifestasi dari stressor psikologis, atau dalam arti lain memperbaiki tilikan diri (cara pandang terhadap diri dan penyebab stressnya). Psikoedukasi ini dapat dilakukan dalam rupa konseling, terapi relaksasi, terapi perilaku, cognitive behavioural therapy (CBT) atau psikoterapi supportif lainnya. Peran sosial (keluarga atau komunitas) diperlukan untuk mendukung terapi tersebut. Selain itu, jika perlu kadangkala, dokter juga membantu dengan obat-obatan yang mendukung, seperti obat antidepresan, obat anticemas atau obat-obat modalitas lainnya.
Psikoedukasi tersebut dilakukan kepada pasien dan keluarga atau komunitas (sebagai support system). Untuk pasien, dinyatakan bahwa adanya keluhan-keluhan fisik tersebut diakui dan dilakukan evaluasi dan pengawasan lanjut dalam interasi konseling. Di dalam konseling tersebut, disadarkan bahwa seringkali gejala atau kelahan tersebut dapat teratasi sendiri; dan dibantu untuk mengenali stressor yang dialami untuk mencegah kecemasan akibat psikosomatis tersebut.
Untuk keluarga, diberikan pemahaman terhadapa keluhan pasien, tetapi tidak boleh mendukung respon hiperaktifnya yang menuntut perhatian berlebihan pada gejala atau pemeriksaan medisnya. Sebaiknya disarankan untuk ikut mendorong pasien diskusikan gejalanya kepada dokter yang menanganinya. Keluarga atau komunitas sebaiknya memberikan perhatian lebih banyak di saat pasien tidak mengalami gejala psikosomatis tersebut. Selain itu, disaat gejala muncul, peran keluarga atau komunitas dapat melakukan distraksi atau pengalihan dengan berbagai kegiatan kebersamaan.
